Kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz(Anadolu)
IRAN mengubah pendekatan dalam menghadapi Amerika Serikat (AS) setelah dua kali menjadi sasaran serangan berbareng Washington dan Israel. Teheran sekarang menilai letak geografisnya merupakan aset strategis paling efektif untuk menekan lawan, jauh melampaui kekuatan militernya.
Perhitungan baru itu muncul setelah para pemimpin Iran menyimpulkan ekonomi Barat sangat berjuntai pada pasokan minyak nan melewati area Teluk. Karena itu, Iran disebut tengah menyiapkan skenario untuk mengganggu jalur pengedaran daya dunia jika bentrok kembali meningkat.
Adapun ketegangan terbaru kembali memanas setelah AS menyerang sekitar 90 sasaran di Iran nan kemudian dibalas Teheran dengan peluncuran rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan jawaban itu disebut sebagai tahap awal balasan terhadap Washington.
Di tengah situasi tersebut, pejabat Iran mulai melontarkan ancaman nan lebih keras. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan setiap tindakan baru alias salah kalkulasi dari AS bakal dibalas secara tegas.
"Setiap tindakan baru alias salah kalkulasi Amerika bakal mendapat respons nan tegas, menghancurkan, dan menyakitkan. Jika keamanan Iran terganggu, kami bakal mencabut rasa kondusif musuh-musuh kami di mana pun mereka berada di dunia," tegas Azizi seperti dikutip The Telegraph.
*Empat Taktik*
Doktrin nan dipublikasikan instansi buletin Fars, nan berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, memuat empat langkah utama andaikan perang kembali pecah.
Langkah pertama adalah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran nan dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Iran disebut mempertimbangkan penempatan ranjau laut, menyerang kapal tanker, serta melumpuhkan akomodasi produksi dan kilang minyak negara-negara tetangga.
Strategi kedua adalah memperluas tekanan ke Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah melalui golongan Houthi di Yaman. Jika kedua jalur itu terganggu secara bersamaan, pengedaran daya dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia bakal terdampak signifikan.
Langkah ketiga meningkatkan biaya politik dan militer nan kudu ditanggung AS. Doktrin tersebut mendorong serangan asimetris terhadap personel militer Amerika agar Washington menilai biaya perang jauh lebih besar dibanding manfaatnya.
Sementara itu, strategi keempat adalah menerapkan strategic ambiguity alias ambiguitas strategis. Iran mau menciptakan ketidakpastian mengenai pemisah responsnya sehingga memaksa musuh memperhitungkan beragam kemungkinan nan lebih ekstrem.
Doktrin itu menegaskan setiap agresi baru dari musuh kudu dibalas dengan serangan nan langsung menyasar kepentingan vital Amerika Serikat dan sekutunya.
Meski mengalami kerusakan akibat perang sebelumnya, Iran disebut-sebut terus memperkuat keahlian pertahanannya. Produksi rudal balistik, drone tempur, serta sistem pertahanan udara disebut terus ditingkatkan sejak gencatan senjata berlaku.
Seorang pejabat Iran nan dikutip The Telegraph mengatakan persiapan menghadapi perang justru semakin dipercepat.
"Persiapan perang semakin ditingkatkan. Kami membangun lebih banyak rudal, drone, serta program pertahanan, dan memperkuat kembali jaringan pertahanan udara. Secara umum kami tidak mengalami kekurangan, tetapi kami tidak pernah tahu apa lagi nan bakal dilakukan Amerika," ujarnya.
Pejabat lain menambahkan, Iran sekarang menerapkan strategi penyebaran aset militer secara permanen. Rudal ditempatkan di beragam lokasi, pangkalan lebih sigap dievakuasi ketika diperlukan, dan setiap komandan mempunyai beberapa pengganti untuk mengurangi akibat jika terjadi serangan nan menyasar ketua militer.
(P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·