ilustrasi abu vulkanik dari erupsi gunung.(Magnific)
ABU vulkanik nan membubung ke langit saat gunung api erupsi rupanya tidak langsung menghilang setelah letusan berhenti. Partikel lembut tersebut dapat terbawa angin hingga ratusan apalagi ribuan kilometer, sebelum akhirnya jatuh ke permukaan Bumi alias masuk ke perairan.
Pergerakan abu tersebut membikin akibat erupsi tidak hanya dirasakan masyarakat nan tinggal di sekitar gunung api. Wilayah nan jauh dari sumber letusan juga dapat terdampak, tergantung pada kondisi atmosfer, ukuran partikel, dan kekuatan erupsi.
Terbawa Angin ke Wilayah Jauh
Abu vulkanik terbentuk ketika magma dan batuan pecah menjadi partikel-partikel mini akibat tekanan dan daya dalam erupsi. Ketika terlontar ke atmosfer, partikel tersebut dapat mengikuti arah angin dan menyebar ke wilayah nan jauh dari gunung api.
Dilansir dari WIRED, sebagian besar abu bakal jatuh relatif dekat dengan gunung lantaran pengaruh gravitasi. Namun, partikel nan berukuran sangat mini dapat memperkuat lebih lama di atmosfer dan terbawa angin hingga jarak nan lebih jauh.
Ketinggian kolom erupsi juga berpengaruh terhadap penyebaran abu. Semakin tinggi material mencapai atmosfer, semakin besar kesempatan partikel lembut terbawa oleh arus udara pada ketinggian tersebut. Kondisi angin nan berbeda di setiap lapisan atmosfer kemudian dapat membikin pola penyebaran abu berubah.
Berakhir di Daratan dan Laut
Setelah berada di atmosfer, abu perlahan kembali ke permukaan melalui proses ashfall alias hujan abu. Endapannya dapat menutupi jalan, permukiman, tanaman, lahan pertanian, hingga badan air.
Abu nan jatuh di daratan juga tidak selalu menetap di tempatnya. Air hujan dapat membawa material tersebut menuju sungai, danau, hingga laut. Dalam jangka panjang, sebagian abu dapat bercampur dengan sedimen dan menjadi bagian dari lapisan tanah alias dasar perairan.
Dikutip dari BBC Science Focus, erupsi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada Januari 2022 menunjukkan gimana material vulkanik dapat tersebar luas setelah letusan. Material nan masuk ke laut dapat memengaruhi lingkungan perairan, termasuk ekosistem di sekitar letak erupsi.
Namun, abu vulkanik tidak selalu berakhir setelah mengendap. Ketika permukaan menjadi kering dan angin kembali bertiup, partikel lembut nan berada di tanah dapat terangkat ke udara. Proses ini membikin abu vulkanik berpotensi kembali memengaruhi kualitas udara meskipun erupsi telah berakhir.
Pada akhirnya, perjalanan abu vulkanik berjalan melalui beragam tahapan, mulai dari atmosfer, daratan, hingga perairan. Sebagian partikel dapat terus beranjak mengikuti angin, air, dan proses erosi sebelum akhirnya menjadi bagian dari lingkungan dalam corak sedimen. (Sumber: BBC Science Focus, WIRED/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·