Tak Hanya SAR, Nelayan Ikut Cari Jurnalis-Kru Hilang di Selat Sunda

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta -

Basarnas mengungkap hambatan dalam pencarian lima wartawan dan tiga kru kapal nan lenyap di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Helikopter nan diterjunkan untuk melakukan pencarian via udara terkendala asap Gunung Anak Krakatau.

"Hari ini saya datang di sini, tadi juga kita dengan sarana udara, kita juga sempat masuk di perairan. Tapi memang kondisi bahwa nan terjadi saat ini jarak pandang memang terbatas dengan jika kita lihat memang judulnya asap," ujar Kepala Basarnas, Marsekal Madya M Syafii, di Pos SAR Nasional, Pantai Marina Carita, Pandeglang, Kamis (10/9/2026).

Menurut Syafii, asap vulkanik tetap ada di ketinggian 1.500 meter ke bawah. Kondisi tersebut membikin proses pencarian belum bisa dilakukan lewat udara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat," katanya.

Basarnas Kerahkan Helikopter

Untuk membantu proses pencarian, Basarnas juga menurunkan helikopter. Tim SAR berambisi helikopter bisa memudahkan proses pencarian.

"Dalam rangka mendukung operasi SAR terhadap delapan orang nan tetap dalam pencarian akibat speedboat lenyap kontak di perairan Selat Sunda, helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 dikerahkan untuk mendukung penyelenggaraan operasi SAR di wilayah Gunung Anak Krakatau, Banten," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad, Kamis (10/9/2026).

Helikopter HR-3604 berangkat dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) pada pukul 12.36 WIB dan direncanakan tiba di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada pukul 12.52 WIB. Rute penerbangan meliputi JIExpo Kemayoran-Pantai Carita-BPBD Banten-Helipad/JIExpo Kemayoran.

"Pengerahan helikopter ini menjadi bagian dari upaya penguatan pencarian melalui support udara, khususnya dalam pemantauan wilayah operasi SAR di sekitar Perairan Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau," katanya.

Pencarian Diperluas

Pencarian lima wartawan dan tiga kru kapal nan lenyap kontak di area Gunung Anak Krakatau memasuki hari ke-3. Hari ini, petugas mengerahkan enam kapal, termasuk Kapal Republik Indonesia (KRI) milik TNI AL, serta dibantu nelayan.

Amrad menyebut ada enam sektor pencarian. Nelayan bakal membantu proses pencarian di sektor E alias area pesisir pantai Banten.

"Yang di sektor E, untuk di sektor E itu kita kelak setelah dari rekan-rekan kita mendampingi para nelayan nan melakukan searching, itu bakal mereka melakukan searching di pesisir-pesisir Banten," ujar Amrad.

Untuk pencarian hari ini, bakal dikerahkan enam kapal. Kapal-kapal tersebut adalah KRI Lepu, KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KAL Pohawang, KP Sanjaya, dan RIB 02 Banten.

Tim SAR campuran memperluas area pencarian para korban hingga 2.109 NM².

Nelayan Bantu Proses Pencarian

Tak hanya dari SAR, sebanyak 130 nelayan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, ikut membantu pencarian lima wartawan dan tiga kru speedboat nan lenyap kontak di perairan Selat Sunda. Para nelayan diminta memantau laut saat mencari ikan untuk menemukan keberadaan rombongan tersebut.

Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar mengatakan para nelayan langsung dikerahkan setelah pihak desa menerima info hilangnya rombongan nan sebelumnya melakukan perjalanan menuju area Gunung Anak Krakatau (GAK).

"Kami sudah share ke grup-grup golongan nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut memandang keberadaan speedboat tersebut alias menemukan sesuatu nan mencurigakan, diminta segera melapor," kata Syamsiar, Kamis (10/9/2026).

Menurut Syamsiar, Desa Tejang mempunyai 13 golongan nelayan dengan total sekitar 130 anggota. Mereka diminta ikut memantau keberadaan speedboat di sela aktivitas melaut.

"Setiap nelayan nan pergi melaut tetap kami imbau untuk ikut memantau. Sambil mencari ikan, mereka juga membantu tim SAR mencari keberadaan speedboat itu," ujarnya.

Upaya pemantauan dilakukan di tengah kondisi cuaca laut nan kurang bersahabat. Syamsiar menyebut ombak di sekitar jalur menuju Gunung Anak Krakatau cukup besar disertai angin kencang.

"Kalau arah menuju Krakatau memang cuacanya lagi tidak bagus. Ombaknya agak besar dan anginnya juga cukup kencang. Nelayan sekarang mencari ikan dengan mengambil arah lain," katanya.

Pulau Sebesi merupakan salah satu wilayah nan berada dekat dengan area GAK. Dari Desa Tejang, perjalanan menuju area Krakatau menggunakan kapal nelayan memerlukan waktu sekitar 3-4 jam.

Keluarga Harus Mendapatkan Pendampingan Psikologis

Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memberi pendampingan terhadap family wartawan hingga kru kapal nan lenyap kontak. Puan mau mereka mendapat info hingga pendampingan psikologis selama proses pencarian berlangsung.

"Kami ikut merasakan kekhawatiran family atas musibah ini. Pencarian teman-teman wartawan beserta seluruh personil rombongan di perairan Selat Sunda kudu dimaksimalkan," kata Puan dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

"Dan krusial agar pihak family mendapat pendampingan dari Pemerintah, termasuk agunan pembaruan info serta kebutuhan untuk psikologis mereka," ujar Puan.

Puan mengatakan perlunya perlindungan optimal terhadap wartawan nan mengabdi memberikan info kepada publik. Perlindungan kudu dilakukan dengan operasi pencarian maksimal.

"Pengabdian untuk kepentingan masyarakat kudu diikuti kepastian perlindungan. Dan tentunya support dan perlindungan tersebut dapat diwujudkan melalui operasi pencarian nan maksimal," kata Puan.

"Bagi masyarakat, jauhi dulu area berbahaya. Dan selalu patuhi imbauan petugas alias pihak-pihak nan berwenang," sambungnya.

Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi jenis Jumat (11/9/2026). Nikmati terus menu sarapan info unik detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube, TikTok dan FB detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi"

(vrs/vrs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News