Tahun Baru Hijriah dan Mimpi Menyatukan Waktu Umat

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Ilustrasi Tahun Baru Hijriah. Foto: Generated by AI

Setiap kali 1 Muharam tiba, umat Islam memasuki tahun nan baru. Namun berbeda dengan seremoni pergantian tahun Masehi nan identik dengan pesta kembang api dan hitung mundur, Tahun Baru Hijriah sering kali datang dalam suasana nan lebih hening.

Tidak banyak kemeriahan, tetapi justru di situlah letak maknanya. Tahun Baru Hijriah membujuk kita berakhir sejenak untuk memandang ke belakang, menilai perjalanan nan telah dilalui, lampau menentukan arah langkah berikutnya.

Kalender Hijriah lahir dari sebuah peristiwa nan mengubah sejarah bumi Islam: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, para sahabat tidak menjadikan kelahiran Nabi alias turunnya wahyu pertama sebagai awal penanggalan Islam. Mereka memilih hijrah. Pilihan itu menunjukkan bahwa perubahan mempunyai posisi nan sangat krusial dalam peradaban Islam.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu nan menghalang untuk menuju sesuatu nan lebih baik. Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah sesungguhnya merupakan pengingat bahwa hidup selalu menyediakan ruang untuk memperbaiki diri.

Ilustrasi berdoa. Foto: Shutterstock

Namun lebih dari empat belas abad setelah peristiwa hijrah, umat Islam tetap menghadapi tantangan nan tidak ringan. Salah satunya adalah gimana membangun persatuan di tengah keberagaman pandangan nan begitu luas.

Setiap tahun, masyarakat nyaris selalu menunggu pengumuman resmi tentang awal Ramadan, Idulfitri, alias Iduladha. Tidak jarang muncul perbedaan penetapan tanggal di beragam negara, apalagi di dalam satu negara nan sama. Sebagian orang menganggapnya sebagai perihal biasa. Sebagian lainnya melihatnya sebagai pekerjaan rumah nan belum selesai dalam kehidupan umat Islam modern.

Di tengah perkembangan teknologi nan memungkinkan manusia mengirim pesan ke bagian bumi lain dalam hitungan detik, muncul pertanyaan nan layak direnungkan: Mungkinkah umat Islam suatu hari mempunyai almanak nan sama?

Pertanyaan itulah nan melahirkan pendapat Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Gagasan ini menawarkan konsep sederhana tetapi strategis, ialah satu hari dan satu tanggal bagi seluruh umat Islam di dunia. Dengan support pengetahuan astronomi modern nan semakin akurat, almanak Islam diharapkan dapat disusun secara global, sebagaimana almanak Masehi nan saat ini digunakan nyaris di seluruh dunia.

Ilustrasi kepercayaan Islam. Foto: Shutterstock

Tentu saja jalan menuju kesepakatan tidak mudah. Perbedaan pandangan mengenai metode penetapan awal bulan merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam nan telah berjalan selama berabad-abad. Karena itu, KHGT tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis astronomi. tetapi juga menyentuh aspek fikih, sejarah, dan dinamika sosial keagamaan nan kompleks.

Namun terlepas dari beragam perdebatan tersebut, ada satu perihal nan patut diapresiasi: semangat untuk mencari titik temu. Sebab nan sedang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya soal tanggal, melainkan juga tentang gimana umat Islam membangun kesepahaman di tengah keragaman.

Pemikir Muslim besar, Ibnu Khaldun, pernah menjelaskan bahwa kekuatan suatu peradaban bertumpu pada keahlian masyarakatnya membangun solidaritas dan keteraturan sosial. Peradaban besar tidak lahir lantaran semua orang mempunyai pandangan nan sama, tetapi lantaran mereka bisa menyepakati hal-hal mendasar nan menjadi fondasi kehidupan bersama.

Kalender adalah salah satu fondasi itu. Ia bukan sekadar perangkat untuk mengetahui tanggal, melainkan juga simbol keteraturan, perencanaan, dan kebersamaan. Karena itulah, obrolan tentang almanak Islam dunia sesungguhnya merupakan bagian dari obrolan nan lebih besar tentang masa depan peradaban umat.

Ilustrasi almanak tanggal merah. Foto: Shutterstock/Yavdat

Perbedaan mungkin tidak bakal pernah sepenuhnya hilang. Namun peradaban besar tidak dibangun oleh mereka nan selalu sepakat dalam segala hal, tetapi oleh mereka nan terus mencari titik jumpa di tengah perbedaan.

Menyambut 1 Muharam 1448 Hijriah, pertanyaan terpenting bukanlah "Apakah seluruh umat Islam sudah mempunyai almanak nan sama?" Pertanyaan nan lebih krusial adalah "Apakah kita sudah mempunyai semangat nan sama untuk terus bergerak menuju keadaan nan lebih baik?"

Sebab, hijrah nan sesungguhnya tidak hanya beranjak tempat, tetapi juga beranjak kualitas. Dari sikap saling menyalahkan menuju budaya dialog. Dari kebiasaan mengeluh menuju semangat berkarya. Dari sekadar mewarisi sejarah menuju keberanian menciptakan sejarah baru.

Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah. Semoga tahun nan baru ini tidak hanya menambah usia kalender, tetapi juga menambah kedewasaan berpikir, keluasan wawasan, dan kekuatan persaudaraan umat dalam menghadapi tantangan zaman.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan