Sultan HB X Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk PAUD hingga Kampus

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Peresmian Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, di SMA Negeri 6 Yogyakarta, Senin (4/5). Foto: Pandangan Jogja/Resti D

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, meresmikan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ), Senin (4/5), sebagai model pembelajaran nonreguler nan bakal diterapkan secara berjenjang di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi di Yogyakarta. Peresmian berjalan di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Sultan HB X menyatakan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya melahirkan manusia nan unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter. PKJ disusun dengan berasal dari falsafah Hamemayu Hayuning Bawana.

“Tantangannya bukan hanya gimana melahirkan manusia nan cerdas, tetapi juga gimana membentuk manusia nan utuh. Sebab kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membikin manusia kehilangan arah, apalagi tercerabut dari akar budayanya sendiri,” kata Sultan HB X dalam sambutannya, Senin (4/5).

Ia menegaskan, pendidikan karakter tidak dapat hanya berjuntai pada proses belajar di ruang kelas, melainkan memerlukan keterlibatan beragam unsur dalam ekosistem pendidikan.

“Pendidikan tidak hanya berjalan di sekolah. Pendidikan berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan lebih luas lagi, dia bertumpu pada sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung nan menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi,” jelas Sri Sultan.

Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menyampaikan bahwa PKJ bukan konsep baru. Program ini berangkat dari pendapat Sultan HB X nan disampaikan sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya pada 2019.

“Pendidikan Khas Kejogjaan diinspirasi oleh pidato Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X di UNY pada Beliau menghimbau kepada seluruh Kawula Ngayogyakarta tentang perlunya Pendidikan Karakter Berbasis Budaya,” kata Setiadi.

Ia menegaskan bahwa PKJ tidak berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan terintegrasi dalam beragam aktivitas pembelajaran di sekolah.

“PKJ bukan mata pelajaran, tetapi nilai-nilai edukasi budaya Yogyakarta nan dalam implementasinya diintegrasikan ke beragam mata pelajaran di jenjang sekolah, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler,” ujarnya.

Materi PKJ merujuk pada nilai-nilai dari Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah nan dipadukan dengan pendekatan pendidikan modern. Program ini juga didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY.

Program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di SMA Negeri 1 Seyegan, Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti D

Salah satu penerapan PKJ dilakukan oleh SMA Negeri 1 Seyegan melalui program pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep budaya sinoman nan direncanakan berjalan setiap Kamis Pon.

“Sinoman MBG ada semenjak PKJ. Setiap Kamis pon kami upayakan kelak dengan sistem sinoman, tetep duduk di meja masing-masing, tapi ada nan membawa ada nan ngaturke, di beberapa sekolah MBG kan digebyukke sendiri-sendiri kan,” kata Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Seyegan, Sumaryono, ditemui Pandangan Jogja di agenda tersebut.

Selain itu, sekolah juga merancang program lain seperti rutinitas tabuh gamelan dan pemutaran gendhing Jawa saat waktu rehat sebagai bagian dari penerapan PKJ.

“Tabuh gamelan sudah ada namun hanya di ekstrakurikuler, rencana dirutinkan setiap kamis pon. Untuk pemutaran gendhing juga baru jadi lantaran PKJ,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan