Sulit Lepas dari Kebiasaan Lama? Ilmuwan Temukan Sinyal Otak Pemicu Fleksibilitas Perilaku

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Sulit Lepas dari Kebiasaan Lama? Ilmuwan Temukan Sinyal Otak Pemicu Fleksibilitas Perilaku Ilustrasi(Magnific)

KEMAMPUAN untuk menyesuaikan perilaku saat menghadapi situasi baru sangat krusial bagi keberhasilan, apalagi terkadang krusial untuk memperkuat hidup. Namun, gimana sebenarnya otak mengetahui kapan kudu meninggalkan strategi lama dan mencoba sesuatu nan baru?

Sebuah studi terbaru nan diterbitkan dalam jurnal Nature Communications sukses menjawab teka-teki tersebut. Para intelektual saraf dari Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) mengidentifikasi sistem utama otak nan membantu hewan beradaptasi ketika keadaan berubah mendadak.

"Mekanisme otak di kembali perubahan perilaku selama ini tetap susah dipahami lantaran beradaptasi dengan skenario tertentu sangat kompleks secara neurologis. Hal ini memerlukan aktivitas nan saling terhubung di beberapa area otak," jelas salah satu penulis studi, Profesor Jeffery Wickens, kepala Unit Penelitian Neurobiologi di OIST.

Ia menambahkan bahwa penelitian sebelumnya menunjukkan keterlibatan interneuron kolinergik, sel otak nan melepaskan neurotransmiter berjulukan asetilkolin, dalam memicu elastisitas perilaku. Melalui teknik pencitraan canggih, tim peneliti sekarang dapat memandang pelepasan neurotransmiter tersebut secara real-time.

Dalam eksperimennya, para peneliti melatih tikus untuk menjelajahi labirin virtual hingga hewan-hewan tersebut menemukan rute terbaik untuk mendapatkan hadiah. Setelah strategi itu terbentuk, peneliti mengubah patokan mainnya secara mendadak dengan memindahkan jalur hadiah.

Menggunakan mikroskopi dua foton, tim memantau aktivitas otak tikus saat mereka mendapati rute andalannya zonk. Rasa kecewa lantaran tidak mendapatkan bingkisan nan diharapkan rupanya memicu perubahan besar.

"Secara saraf, kami memandang peningkatan signifikan dalam pelepasan asetilkolin di area otak tertentu. Dan secara perilaku, kami memandang lebih banyak tikus menunjukkan perilaku nan dikenal sebagai 'lose-shift', ialah mengubah pilihan mereka di dalam labirin setelah tidak mendapatkan hadiah," kata Dr. Gideon Sarpong, penulis utama studi tersebut.

Dr. Sarpong menjelaskan, semakin besar peningkatan asetilkolin, semakin besar kemungkinan tikus mengubah pilihan mereka di masa depan. Ketika peneliti sengaja memblokir produksi asetilkolin, tikus menjadi tidak elastis dan terus mengulangi pilihan nan salah meskipun situasinya telah berubah.

Uniknya, tidak semua sel kolinergik bereaksi serupa; sebagian mini justru menurunkan aktivitasnya. Peneliti menduga perihal ini berfaedah untuk menyimpan memori tentang keberhasilan masa lalu, bersiap jika situasi kembali normal.

"Hal ini menunjukkan bahwa tikus tidak selalu melupakan jalur bingkisan sebelumnya, tetapi menyimpan info ini jika situasi berubah lagi," tambah Dr. Sarpong.

Penemuan ini menjadi bagian krusial dari teka-teki kegunaan striatum, area otak tempat interneuron kolinergik berada. "Kadar asetilkolin sering kali diubah dalam pengobatan gangguan neuropsikiatri seperti penyakit Parkinson alias skizofrenia, jadi memahami kegunaan neurotransmiter ini sangat penting," tegas Prof. Wickens.

Lebih jauh, Prof. Wickens berambisi pemahaman tentang mekanika elastisitas perilaku ini kelak dapat membantu pengembangan pengobatan nan lebih efektif untuk kondisi seperti kecanduan dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), di mana penderitanya mengalami kesulitan parah untuk memutus kebiasaan lama. (Science Daily/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia