Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1 persen pada Jumat (31/7), sesuai ekspektasi pasar.
Mengutip Bloomberg pada Jumat (31/7), keputusan diambil sehari setelah otoritas Jepang diduga melakukan intervensi di pasar mata duit dengan support Amerika Serikat (AS), nan sempat mendorong yen menguat hingga 3,3 persen terhadap dolar AS dalam perdagangan di New York.
Meski demikian, setelah keputusan BOJ diumumkan, yen kembali melemah tipis. Pelaku pasar sekarang menanti konvensi pers Gubernur BOJ Kazuo Ueda pada pukul 15.30 waktu Tokyo untuk mencari petunjuk mengenai arah kenaikan suku kembang berikutnya.
Dalam rapat tersebut, hanya satu dari sembilan personil dewan, ialah Hajime Takata, nan mendukung kenaikan suku kembang lanjutan. Jika disetujui, langkah itu bakal menjadi kenaikan beruntun pertama dalam beberapa dekade.
Presiden SBI FX Trade, Marito Ueda, menilai langkah pemerintah mengintervensi pasar sebelum rapat BOJ merupakan sebuah pertaruhan.
"Ini bisa dikatakan sebagai sebuah pertaruhan nan diperhitungkan. Meski demikian, tren esensial berupa pelemahan yen dan penguatan dolar AS tetap tetap berlanjut," ujarnya.
BOJ juga menyebut tekanan inflasi inti tetap berpotensi melampaui sasaran 2 persen, sehingga bank sentral tetap membuka ruang untuk meningkatkan biaya pinjaman secara bertahap.
Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Yuichi Kodama, mengatakan kesempatan kenaikan suku kembang sekarang semakin besar.
"Karena sekarang sudah dapat dipastikan inflasi bakal terus meningkat, saya rasa mulai pertemuan September setiap rapat bakal menjadi pertemuan nan 'hidup', di mana kenaikan suku kembang bisa terjadi kapan saja," kata Yuichi.
Selain itu, BOJ memperbaiki penilaiannya terhadap prospek ekonomi dengan menyebut akibat terhadap pertumbuhan sekarang berimbang, tidak lagi condong ke sisi penurunan.
Hal itu mengindikasikan akibat bentrok Timur Tengah tidak separah nan sebelumnya dikhawatirkan, terutama lantaran permintaan dunia terhadap teknologi kepintaran buatan (AI) membantu menopang aktivitas ekonomi Jepang.
Dalam proyeksi ekonomi terbaru, BOJ mempertahankan perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun fiskal ini di 0,6 persen, sementara proyeksi inflasi direvisi turun menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,8 persen, seiring akibat subsidi pemerintah.
Intervensi pemerintah pada Kamis malam (30/7) sempat mengangkat nilai tukar yen hingga 3,3 persen terhadap dolar AS. Meski demikian, pejabat Jepang belum mengkonfirmasi secara resmi adanya intervensi tersebut.
Birokrat senior urusan mata duit Jepang, Atsushi Mimura, hanya menyatakan Jepang memperoleh lebih dari sekadar support moral dari AS.
Yuichi melanjutkan, andaikan pengaruh intervensi tidak memperkuat dan yen kembali melemah hingga melampaui ¥160 per dolar AS, spekulasi mengenai kenaikan suku kembang BOJ bakal semakin menguat.
"Jika akibat intervensi tidak memperkuat dan yen kembali melemah di atas ¥160 per dolar AS, pandangan bahwa sekarang giliran BOJ untuk bertindak kemungkinan bakal memicu spekulasi kenaikan suku bunga,” lanjut dia.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·