Ilustrasi(Antara)
PENINGKATAN suhu udara nan signifikan melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dalam kurun sepekan terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sekarang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama, menjelaskan bahwa lonjakan suhu udara ini tetap dipengaruhi oleh akibat kejadian El Nino. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian ini diperkirakan bakal memperkuat hingga tahun depan.
"Memang beberapa hari terakhir suhu udara, khususnya di Kabupaten Cianjur, sangat panas. Ini merupakan akibat El Nino nan hingga sekarang tetap terjadi. Bahkan, BMKG memprediksi El Nino ini bakal berhujung tahun depan," ujar Samudra, Kamis (15/10/2026).
Data dari aplikasi pemantau cuaca menunjukkan suhu rata-rata di Cianjur selama sepekan terakhir menyentuh nomor 34 hingga 35 derajat celcius. Angka ini berada di atas kondisi normal nan biasanya berkisar antara 29 hingga 31 derajat celcius.
Eskalasi Karhutla dan Krisis Air Bersih
BPBD terus melakukan pemantauan intensif di lapangan guna mengantisipasi akibat tandus panjang, terutama mengenai ancaman karhutla dan krisis air bersih. Meski suhu meningkat, Samudra mencatat adanya penurunan eskalasi kasus karhutla dibandingkan bulan sebelumnya.
"Puncak karhutla itu terjadi pada September. Kasusnya terbilang cukup masif, sehari rata-rata bisa mencapai 2-3 kejadian. Sekarang pun tetap terjadi, tapi intensitasnya menurun," jelasnya.
Perpanjangan Status Darurat Kekeringan
Menyikapi tandus panjang nan tetap berlangsung, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur resmi memperpanjang status siaga darurat kekeringan. Kebijakan ini selaras dengan langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat nan telah menerbitkan kembali Surat Keputusan (SK) perpanjangan status serupa.
Status siaga darurat kekeringan di Cianjur nan sedianya berhujung pada 30 September 2026, sekarang diperpanjang selama satu bulan penuh, terhitung mulai 1 hingga 31 Oktober 2026.
Meskipun tandus ekstrem tetap melanda, Samudra menyebut bahwa hujan mulai turun di beberapa titik, meski belum merata. "Hujan baru dilaporkan turun di wilayah utara dan tengah. Untuk wilayah selatan, hingga saat ini dilaporkan belum turun hujan sama sekali," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·