Sugiono Ungkap Arah Baru Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Prancis

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
Sugiono Ungkap Arah Baru Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Prancis Ilustrasi.(Freepik)

MENTERI Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Prancis. Fokus utama kerja sama ini terletak pada sektor pertahanan, khususnya dalam pengadaan perangkat utama sistem persenjataan (alutsista) nan dibarengi dengan penguasaan teknologi secara mendalam.

Dalam konvensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4), Sugiono menjelaskan bahwa hubungan pertahanan kedua negara sekarang memasuki babak baru nan tidak hanya berorientasi pada transaksi jual-beli.

"Kita memperoleh alias membeli alat-alat pertahanan nan cukup strategis dari Prancis. Ini juga mempunyai turunan bahwa kita kudu juga bisa meningkatkan penguasaan teknologi terhadap hal-hal tersebut," ujar Sugiono.

Melampaui Pengadaan: Transfer Teknologi dan SDM

Pernyataan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron di Paris baru-baru ini. Sugiono menekankan bahwa pemerintah mendorong kerjasama nan melampaui sekadar pengadaan bentuk alutsista.

Menurutnya, aspek krusial dari kerja sama ini adalah transfer of technology (ToT). "Kerja sama di luar pengadaan. Kita tidak hanya sebatas membeli, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang nan kita beli," imbuhnya.

Selain aspek teknis persenjataan, kerja sama bilateral ini juga menyasar pengembangan sumber daya manusia (SDM). Fokus utama bakal diarahkan pada bidang:

  • Sains (Science)
  • Teknologi (Technology)
  • Teknik (Engineering)
  • Matematika (Mathematics) alias STEM

Langkah ini dinilai vital agar personel Indonesia mempunyai keahlian mumpuni dalam mengelola, merawat, dan mengembangkan teknologi pertahanan nan telah diakuisisi secara berdikari di masa depan.

Proses Panjang Alutsista dan Contoh Rafale

Menlu Sugiono juga mengingatkan publik bahwa pengadaan alutsista strategis memerlukan waktu nan panjang dan perencanaan matang. Ia mengutip pesan Presiden Prabowo bahwa membangun kekuatan pertahanan tidak bisa dilakukan secara instan.

"Selalu diingatkan oleh Bapak Presiden bahwa nan namanya alutsista itu kita tidak bisa beli seperti beli peralatan di supermarket. Begitu kita butuh, kita mau punya, itu tidak bisa. Jadi prosesnya itu panjang," jelasnya.

Sebagai contoh nyata, dia menyebut pengadaan pesawat tempur Dassault Rafale. Proses dari pemesanan hingga realisasi bentuk pesawat memerlukan waktu bertahun-tahun. "Seperti contoh untuk pengadaan pesawat tempur Rafale, kita pesannya kurang lebih empat tahun nan lampau sampai itu berjalan," tambah Sugiono.

Rencana Kunjungan Kenegaraan

Menutup keterangannya, Sugiono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto direncanakan bakal melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis dalam waktu dekat. Kedekatan hubungan pribadi antara kedua kepala negara diharapkan menjadi modal kuat untuk mempererat hubungan bilateral di beragam sektor strategis lainnya.

Kemitraan ini diharapkan bisa memperkuat kedaulatan pertahanan Indonesia sekaligus memacu lompatan teknologi industri pertahanan dalam negeri. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑