Fathia Rahma(DOK PRIBADI)
MISI Artemis II merupakan penerbangan berawak lintas bulan selama sepuluh hari nan diluncurkan oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) pada April 2026. Misi ini membawa empat astronaut, ialah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen dari Canadian Space Agency, dalam perjalanan mengelilingi bulan sebagai bagian dari upaya eksplorasi luar angkasa modern.
Selain menandai kemajuan teknologi dan eksplorasi antariksa, Artemis II juga menunjukkan semakin besarnya keterlibatan wanita dalam bagian nan selama ini didominasi oleh laki-laki. Salah satu sosok nan paling banyak mendapat perhatian adalah Christina Koch. Ia mencatat sejarah sebagai wanita pertama nan melakukan perjalanan melampaui orbit rendah bumi dan mengelilingi bulan.
Pencapaian tersebut menuai banyak apresiasi dari publik. Meskipun begitu, di kembali pengakuan atas prestasinya, muncul pula beragam komentar nan mempertanyakan perannya dalam family dan kehidupan domestik selama menjalankan misi.
Pertanyaan tersebut menimbulkan satu refleksi penting: kenapa ketika wanita sukses mencapai pencapaian luar biasa, perhatian publik tetap sering tertuju pada tanggung jawab domestiknya, bukan semata-mata pada prestasi nan diraihnya?
Christina Koch bukanlah sosok nan baru muncul dalam bumi eksplorasi antariksa. Kariernya di NASA dimulai sejak mengikuti program NASA Academy pada 2001, sebelum kemudian bekerja sebagai insinyur listrik di Goddard Space Flight Center (GSFC).
Selama lebih dari dua dasawarsa berkarier, Koch telah menunjukkan kontribusi nan signifikan dalam bagian sains dan teknologi, nan dibuktikan melalui beragam penghargaan bergengsi nan diterimanya. Ia meraih Neil Armstrong Award of Excellence, Astronautical Engineer Award, Global ATHENA Leadership Award, dan NASA Group Achievement Award.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa keberhasilannya bukanlah hasil nan diperoleh secara instan, melainkan buah dari kompetensi, dedikasi, dan pengalaman ahli nan panjang. Namanya semakin dikenal masyarakat dunia setelah berperan-serta dalam misi Artemis II pada April 2026 dan mencatat sejarah sebagai wanita pertama nan melakukan perjalanan melampaui orbit rendah bumi serta mengelilingi bulan.
Dengan rekam jejak ahli yang demikian kuat, menarik untuk memandang bahwa sebagian perhatian publik justru tidak tertuju pada kompetensi dan pencapaiannya, melainkan pada perannya sebagai wanita dalam ranah domestik. Di kembali beragam pencapaian nan diraihnya, Christina Koch juga menjadi sasaran komentar publik nan menyoroti kehidupan domestiknya. Sejumlah pengguna media sosial justru lebih tertarik membahas perannya sebagai istri dan ibu daripada prestasinya sebagai astronaut.
Misalnya, akun @orin.richardson menulis, “Her husband still waiting for his sandwich”.
Sementara akun @alitokote berkomentar, “Her man is the real MVP for staying at home with the kids while she has fun in the stars”.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan wanita di ruang publik tetap sering diukur berasas kemampuannya menjalankan peran domestik. Meskipun Koch mempunyai rekam jejak ahli nan panjang dan telah mencetak sejarah dalam eksplorasi luar angkasa, sebagian masyarakat tetap mempertanyakan tanggung jawabnya dalam keluarga.
Bahkan, beberapa komentar mengarah pada pelecehan berbasis gender. Salah satunya datang dari akun @md_53.90 nan menulis, “Women so they don’t get bored in space?”
Komentar semacam ini mencerminkan tetap kuatnya stereotip nan menganggap perempuan kurang layak berada dalam bidang-bidang nan selama ini diasosiasikan dengan maskulinitas, seperti sains, teknologi, dan eksplorasi antariksa.
Dalam perspektif feminisme, wanita dipandang sebagai tokoh sejarah dan politik nan turut membentuk perkembangan bumi internasional, termasuk dalam bagian pengetahuan pengetahuan dan teknologi (Jones 1998). Dalam konteks ini, Christina Koch tidak hanya berperan-serta dalam misi Artemis II, tetapi juga mencatat sejarah sebagai wanita pertama nan melakukan perjalanan melampaui orbit rendah bumi dan mengelilingi bulan.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa wanita mempunyai kapabilitas nan sama untuk berkontribusi dalam bagian nan selama ini didominasi laki-laki. Namun, respons sebagian masyarakat terhadap Koch menunjukkan bahwa bangunan kelamin tradisional tetap kuat melekat.
Alih-alih berfokus pada kompetensi dan prestasinya, perhatian publik justru banyak diarahkan pada perannya sebagai istri dan ibu. Hal ini mencerminkan adanya pembagian kelamin nan menempatkan wanita pada ranah domestik, sementara ranah publik, termasuk sains dan eksplorasi antariksa, tetap sering diasosiasikan dengan laki-laki (Thickner & Sjoberg 2007).
Akibatnya, keberhasilan wanita di ruang publik kerap dinilai berbarengan dengan kemampuannya memenuhi ekspektasi domestik nan tidak selalu dibebankan kepada laki-laki.
Misi Artemis II membuktikan bahwa wanita bisa mencapai tempat nan selama ini dianggap mustahil. Namun, respons publik terhadap Christina Koch menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tetap kesulitan menerima wanita sebagai tokoh utama di ruang publik.
Ironisnya, ketika teknologi manusia telah berkembang hingga bisa membawa manusia mengelilingi bulan, langkah pandang terhadap wanita justru tetap tertinggal jauh di belakang. Perempuan mungkin telah sukses menembus pemisah luar angkasa, tetapi stereotip kelamin rupanya tetap memperkuat di bumi.
Referensi:
Jones, Adam, 1996. “Does ‘Gender’ Make the World Go Round? Feminist Critiques of International Relations”, Cambridge University Press, 22 (4): 405-429.
NASA, 2022. “Orion Reference Guide” [online]. in https://www.nasa.gov/wpcontent/uploads/2023/02/orion-reference-guide-111022.pdf [accessed at 17 Mei 2026].
NASA, 2026. “Artemis II Flight Day 10: Crew Sets for Final Burn, Splashdown” [online]. in https://www.nasa.gov/blogs/missions/2026/04/10/artemis-ii-flight-day-10-crew-sets-forfinal-burn-splashdown/ [accessed at 17 Mei 2026].
NASA, 2026. ”NASA Astronaut Christina Koch” [online]. In https://www.nasa.gov/humans-inspace/astronauts/christina-koch/ [accessed at 17 Mei 2026].
Tickner, J. Ann, & Sjoberg, Laura, 2007. “Feminism”, in Dunne, Tim, et al., (eds.) International Relations Theories. Oxford: Oxford University Press
English (US) ·
Indonesian (ID) ·