Sudah Punya Anak tapi Belum Ada Dana Darurat? Ini Solusinya!

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Mengelola finansial keluarga. Foto: Tom Wang/Shutterstock

Mengelola keuangan keluarga tidak lepas dari pentingnya mempunyai dana darurat. Financial planner Bareyn Mochaddin menjelaskan, besaran biaya darurat sebenarnya mempunyai rumus sederhana nan bisa disesuaikan dengan kondisi setiap orang.

Menurut Bareyn, ada patokan umum nan dikenal dengan rumus 3, 6, dan 12 kali pengeluaran bulanan. Untuk perseorangan nan tetap lajang, biaya darurat idealnya sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Sementara itu, bagi nan sudah menikah dan mempunyai satu anak, jumlahnya meningkat menjadi enam kali pengeluaran bulanan.

“Enam adalah enam dikali pengeluaran, itu adalah biaya darurat bagi mereka nan sudah menikah dan punya satu orang anak,” ucapnya dalam ada live TikTok berbareng kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Ilustrasi mengelola finansial keluarga. Foto: PBXStudio/Shutterstock

Dana Darurat Keluarga: Makin Banyak Tanggungan, Makin Besar Jumlahnya

Kebutuhan biaya darurat bakal semakin besar jika tanggungan bertambah. Misalnya, mempunyai lebih dari satu anak alias turut menanggung orang tua dan personil family lainnya. Dalam kondisi ini, biaya darurat nan disarankan mencapai 12 kali pengeluaran bulanan.

Sebagai gambaran, jika pengeluaran family mencapai Rp 20 juta per bulan, maka biaya darurat nan perlu disiapkan bisa mencapai Rp 240 juta. Angka ini memang terlihat besar, namun Bareyn menekankan bahwa biaya tersebut bisa dicicil secara bertahap, idealnya mulai sejak tetap lajang.

Ilustrasi menghitung pengeluaran. Foto: Shutter Stock

Mulai dari nan Ada di Rumah

Lalu, gimana jika sudah berfamili tetapi belum mempunyai biaya darurat sama sekali?

Bareyn menyarankan untuk memulai dari langkah sederhana, ialah mengevaluasi barang-barang di rumah. Coba perhatikan peralatan nan sudah tidak digunakan selama enam bulan terakhir.

“Yang bisa dilakukan adalah di rumah bawa HP-nya, berdiri, keliling di rumah, terus lihat barang-barang nan nggak dipakai selama enam bulan terakhir,” sarannya.

Ilustrasi memilih peralatan nan tidak terpakai. Foto: Shutterstock

Barang-barang seperti sepatu, gadget lama, televisi, sepeda, hingga peralatan rumah tangga nan jarang digunakan bisa menjadi sumber biaya awal. Daripada hanya tersimpan dan tidak terpakai, hasil penjualannya bisa dialokasikan untuk membangun biaya darurat.

Namun, dia mengingatkan agar tidak menjual peralatan nan tetap mempunyai kegunaan krusial alias berbobot jangka panjang, seperti perhiasan nan tetap digunakan.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan