Rohman Wibowo
, Jurnalis-Senin, 14 September 2026 |17:48 WIB

Menkeu Suahasil (Foto: Okezone)
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026). Perombakan kabinet ini menuntut kepemimpinan baru di Kementerian Keuangan nan berani mengambil sikap tegas sekaligus menjadi antitesis dari style kebijakan fiskal sebelumnya nan dinilai kerap eksperimentalbdan susah diprediksi pasar.
Pergantian nakhoda bendaharawan negara ini tidak boleh dipandang sekadar rotasibbirokrasi biasa, melainkan momentum membenahi arah kebijakan fiskal secarabmenyeluruh. Menkeu baru diharapkan bisa mengoreksi tumbukan komunikasi publikbdan ketidakteraturan kebijakan masa lalu, sembari tetap menjaga denyutbpertumbuhan ekonomi nasional.
"Suahasil kudu berani mengambil kebijakan fiskal nan tegas dan menjadi antitesis dari pola kebijakan era Purbaya nan condong eksperimental serta minim kepastian, meski keberanian mendorong industrialisasi dan daya beli tetap perlu dirawat," ujar ahli ekonomi dan master kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9/2026).
Suahasil sendiri bukan figur asing di Jalan Lapangan Banteng. Pengalamannya memimpin Badan Kebijakan Fiskal (BKF) hingga bertahun-tahun menjabat Wakil Menteri Keuangan membuatnya memahami anatomi APBN, skema subsidi, sistem perpajakan, dan pembiayaan dari dalam.
Namun, latar belakang sebagai orang dalam sistem justru menghadirkan ujian tersendiri, mengingat publik menuntut gebrakan struktural nan melampaui kenyamanan birokrasi.
Achmad menyoroti bahwa kepatuhan menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memang memberikan kepastian bagi pasar, tetapi bukan agunan absolut kesehatan anggaran. Angka defisit di level 2,8 hingga 2,9 persen menjadi semu andaikan diraih dengan langkah memangkas transfer ke daerah, memotong subsidi secara serampangan, menekan kelas menengah, alias memindahkan liabilitasbke luar neraca negara.
Lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s pun meletakkan perhatian besar pada konsistensi regulasi, kepastian kebijakan, kelemahan penerimaan, serta potensi akibat tanggungjawab kontinjensi.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·