
4 Fakta Indonesia Setop Ekspor Sawit, Negara Lain Kiamat (Foto: PTPN)
JAKARTA - Negara-negara lain bisa hariakhir jika Indonesia menghentikan ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Hal ini diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Saat ini Indonesia merupakan produsen sawit terbesar bumi nan memasok kebutuhan sejumlah negara besar. Tercatat, nilai ekspor CPO dan produk turunannya tumbuh 5,49 persen sepanjang Januari-Juli 2026 dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta negara lain bisa hariakhir jika Indonesia setop ekspor sawit, Jakarta, Minggu (8/11/2026).
1. Sawit RI Lebih Dahsyat
Menurut Amran, sawit mempunyai daya tawar strategis di tingkat internasional. Bahkan, dia menilai penghentian pasokan komoditas tersebut dapat menimbulkan akibat nan jauh lebih besar dibandingkan pengaruh peledak atom maupun nuklir.
"Contoh bahwa ini bisa mengubah dunia. Ini jauh lebih luar biasa peledak atom. Ini jauh lebih luar biasa daripada nuklir. ini bisa mengubah peta dunia. Sawit ini kita produsen terbesar dunia. Ekspor kita ke India, China, Pakistan, Amerika, dan sebagainya," kata Amran dikutip dari keterangan resminya, Selasa (3/11/2026).
2. Negara Lain Bisa Kiamat
Amran menggambarkan besarnya ketergantungan negara lain terhadap pasokan sawit Indonesia. Menurutnya, jika ekspor dihentikan dan seluruh produksi dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, negara-negara tujuan ekspor bakal merasakan akibat signifikan.
"Pertanyaan saya, jika ini dihentikan, lampau dijadikan biosolar di dalam negeri, hariakhir tidak negara lain? Kiamat ya, kalah gak nuklir, peledak atom? Kalah. Indonesia kelak tidak berjuntai untuk pangan dan energi," lanjutnya.
3. Pemanfaatan Sawit untuk Domestik
Amran menilai pemanfaatan sawit untuk kebutuhan daya domestik juga dapat memperkuat kemandirian Indonesia. Dengan mengoptimalkan komoditas tersebut sebagai bahan baku biosolar, Indonesia berkesempatan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan daya dari luar negeri.
Di sisi lain, pemerintah juga mencatat perkembangan swasembada pangan nasional. Indonesia telah mencapai swasembada pada 8 dari 11 komoditas pangan pokok strategis.
Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung pakan, bawang merah, cabe besar, cabe rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi. Sementara itu, Indonesia tetap memerlukan pasokan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan kedelai, bawang putih, dan daging ruminansia.
Meski demikian, porsi impor ketiga komoditas tersebut tercatat tidak lebih dari 5 persen dari total kebutuhan konsumsi pangan nasional. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan konsumsi 11 pangan pokok strategis diperkirakan mencapai sekitar 68,8 juta ton.
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·