Studi Terbaru: Pewarna Makanan Alami terkait Risiko Diabetes dan Kanker

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 Pewarna Makanan Alami mengenai Risiko Diabetes dan Kanker Ilustrasi.(Magnific)

SELAMA ini, pewarna makanan buatan sering dianggap sebagai ancaman utama bagi kesehatan. Pewarna alami dipandang sebagai pengganti nan aman. Namun, penelitian terbaru nan diterbitkan minggu ini di Prancis memberikan peringatan mengejutkan yaitu beberapa unsur pewarna alami justru dikaitkan dengan peningkatan risiko glukosuria jenis 2 dan kanker.

Studi nan dilakukan oleh para peneliti dari beragam universitas dan lembaga penelitian di Prancis ini melibatkan lebih dari 100.000 partisipan dalam proyek NutriNet-Santé. Para intelektual memantau pola makan dan minum peserta, termasuk merek spesifik nan dikonsumsi, selama rata-rata delapan tahun.

Risiko Diabetes Tipe 2 Meningkat Signifikan

Hasil penelitian nan diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa beberapa aditif warna alami berasosiasi erat dengan kemungkinan mengembangkan glukosuria jenis 2. Temuan spesifiknya meliputi:

  • Beta-karoten: Penggunaan beta-karoten sebagai pewarna tambahan (bukan dari makanan utuh) dikaitkan dengan peningkatan akibat glukosuria jenis 2 sebesar 44%.
  • Kurkumin: Zat warna nan diproses dari kunyit ini dikaitkan dengan akibat 49% lebih tinggi.
  • Antosianin: Pewarna nan berasal dari buah dan sayuran ini dikaitkan dengan peningkatan akibat sebesar 40%.

Zat-zat ini sering ditemukan dalam produk sehari-hari seperti keju, yogurt, kue kemasan, dan minuman buah.

Kaitan dengan Risiko Kanker

Selain diabetes, studi lain nan diterbitkan dalam European Journal of Epidemiology menemukan kaitan antara pewarna makanan dengan akibat kanker. Pewarna alami beta-karoten dikaitkan dengan peningkatan akibat kanker tetek sebesar 41%. Sementara itu, pewarna karamel biasa (plain caramel) nan sering digunakan dalam es krim dan produk panggang, dikaitkan dengan peningkatan akibat kanker secara keseluruhan sebesar 15%.

Mengapa Pewarna Alami Bisa Berbahaya? Mathilde Touvier, kepala penelitian di National Institute of Health and Medical Research (Inserm), menjelaskan bahwa unsur alami dapat berperilaku sangat berbeda di dalam tubuh ketika diekstraksi dari makanan aslinya dan diproses menjadi aditif. Penelitian laboratorium menunjukkan aditif ini dapat memicu peradangan, menyebabkan resistensi insulin, dan mengganggu mikrobioma usus.

Dilema Kebijakan Pangan

Temuan ini muncul di tengah dorongan besar-besaran dari pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat untuk mengganti pewarna sintetis dengan pewarna alami. Gerakan Make America Healthy Again yang dipelopori Sekretaris Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. telah mendorong raksasa pangan seperti General Mills dan WK Kellogg untuk menghapus pewarna buatan.

Namun, Touvier menegaskan bahwa label alami bukan agunan keamanan bagi konsumen. "Aditif makanan alami bukanlah bukti keamanan. Zat-zat ini murni kosmetik, hanya ada untuk membikin produk lebih menarik agar produsen dapat membikin kita mau mengonsumsi lebih banyak," tegasnya.

Saran bagi Konsumen

Meskipun penelitian observasional ini tidak secara langsung membuktikan sebab-akibat, para mahir menyarankan konsumen untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed foods). Pesan utamanya adalah kembali ke makanan utuh di mana zat-zat seperti beta-karoten berada dalam matriks alami nan kondusif dan berfaedah bagi tubuh, alih-alih mengonsumsinya dalam corak aditif nan telah diproses secara kimiawi. (WSJ/I-2)

Jenis Pewarna Alami Sumber Asal Risiko Terkait (Studi Prancis)
Beta-karoten Wortel, Minyak Sawit Merah +44% Diabetes Tipe 2, +41% Kanker Payudara
Kurkumin Kunyit +49% Diabetes Tipe 2
Antosianin Buah & Sayuran Berwarna +40% Diabetes Tipe 2
Karamel Biasa Gula nan dipanaskan +15% Risiko Kanker Keseluruhan
Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia