Operasi Rahasia AS Terbongkar, Nuklir Iran Jadi Target

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pentagon dilaporkan tengah mengkaji rencana operasi militer besar-besaran untuk merebut persediaan uranium nan diperkaya milik Iran. Laporan New York Post (NYP) menyebut operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu misi militer paling rumit dalam sejarah jika betul-betul dijalankan.

Mengutip sumber nan mengetahui pembahasan tersebut, NYP melaporkan ribuan pasukan darat Amerika Serikat (AS) bakal dikerahkan untuk menyerbu akomodasi nuklir Iran nan dijaga ketat. Tim komando elite kemudian bakal bekerja mengamankan dan mengevakuasi uranium nan diperkaya dari letak tersebut.

"Operasi ini berpotensi menjadi operasi paling canggih dalam sejarah militer," kata Wakil Direktur Center for Strategic and International Studies (CSIS), Joseph Rodgers, kepada NYP, dikutip Senin (27/7/2026).

Menurut laporan itu, letak pasti stok uranium Iran belum sepenuhnya dipastikan. Iran mempunyai empat akomodasi nuklir utama di Fordo, Natanz, Isfahan, dan Gunung Pickaxe. Tiga akomodasi pertama sebelumnya menjadi sasaran serangan AS dan Israel pada tahun lalu. Dari sekitar 440 kilogram uranium nan diperkaya, sekitar 200 kilogram diyakini berada di terowongan bawah tanah dekat Isfahan, sementara sisanya diperkirakan tersebar di letak lain, termasuk Natanz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan pada Maret lampau bahwa persediaan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi tetap terkubur di bawah reruntuhan akomodasi nan dihantam serangan AS dan Israel. Ia juga menegaskan Teheran "tidak mempunyai rencana" untuk mengambil kembali ataupun mengurangi kadar pengayaan uranium tersebut.

Sementara itu, kompleks Gunung Pickaxe nan dibangun jauh di dalam batuan granit disebut lolos dari serangan tahun lampau lantaran saat itu tetap dalam tahap pembangunan. Namun, AS dan Israel menduga Iran telah memperkuat akomodasi tersebut dan kemungkinan memindahkan sentrifugal maupun sebagian uranium ke letak nan lebih dalam, meski akomodasi itu diyakini belum beraksi penuh.

NYP menyebut pasukan reguler AS bakal bekerja menguasai area dan membentuk perimeter keamanan. Setelah itu, unit elite seperti Silver Squadron dari SEAL Team 6, Batalyon Ranger ke-2 Angkatan Darat AS, serta 21st Ordnance Company bakal menangani proses pengambilan dan pengangkutan material nuklir dari Fordo maupun Isfahan.

Operasi tersebut juga disebut memerlukan personel teknik untuk membersihkan jebakan, membuka kembali akses menuju terowongan nan runtuh, serta support pesawat tempur guna menguasai koridor udara agar uranium dapat diterbangkan keluar dari Iran dengan aman.

Rodgers menilai opsi militer menjadi skenario nan semakin dipertimbangkan lantaran jalur diplomasi dinilai melangkah lambat.

"Ini bakal menjadi operasi nan sangat berat dari sisi logistik dan susah dilakukan di lingkungan nan diperebutkan. Militer Iran memang sudah sangat terpukul, tetapi mereka tetap lebih canggih dibanding pasukan nan menjaga Presiden Venezuela Nicolas Maduro," ujarnya.

Sementara itu, The New York Times sebelumnya melaporkan sebagian besar uranium Iran diyakini terkubur sangat dalam sehingga apalagi peledak penghancur bunker terkuat milik AS pun kemungkinan tidak bisa menghancurkannya. Laporan itu juga memperingatkan bahwa operasi untuk mengambil uranium tersebut bakal membawa akibat besar lantaran material nuklir dapat menjadi sangat berbisa andaikan terpapar kelembaban.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News