Studi: Risiko Kanker Lambung Meningkat akibat Konsumsi Minuman Manis Harian

Sedang Trending 10 jam yang lalu
 Risiko Kanker Lambung Meningkat akibat Konsumsi Minuman Manis Harian Ilustrasi minuman manis.(Dok. Magnific)

KEBIASAAN mengonsumsi minuman manis setiap hari kembali menjadi sorotan medis. Sebuah penelitian terbaru menemukan adanya kaitan signifikan antara konsumsi minuman berpemanis dengan peningkatan akibat kanker lambung.

Risiko tersebut dilaporkan mencapai 2,45 kali lebih tinggi pada perseorangan nan mengonsumsi minuman manis setiap hari dibandingkan dengan mereka nan jarang mengonsumsinya. Meski demikian, para mahir menekankan bahwa temuan ini belum membuktikan minuman manis sebagai penyebab langsung kanker lambung secara kausal.

Lantas, seberapa kuat hubungan antara konsumsi gula cair ini dengan kesehatan lambung? Berikut adalah penjelasan master dan temuan penelitian selengkapnya.

Risiko Kanker Lambung 2,45 Kali Lebih Tinggi

Berdasarkan laporan dari GI & Hepatology News, penelitian ini melibatkan 112.284 tenaga kesehatan di Amerika Serikat nan tergabung dalam Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.

Para peserta dipantau selama lebih dari tiga dekade. Selama masa pemantauan tersebut, peneliti mengumpulkan info mendalam mengenai pola makan, style hidup, serta kondisi kesehatan para partisipan. Tercatat sebanyak 278 kasus kanker lambung muncul selama periode penelitian.

Data menunjukkan bahwa peserta nan mengonsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis (sekitar 8 ons alias 240 mililiter) per hari mempunyai akibat kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan golongan nan mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan.

Peran Fruktosa dalam Risiko Kanker

Dikutip dari Medical News Today, penelitian tersebut juga menyoroti hubungan antara konsumsi fruktosa nan tinggi dengan meningkatnya kejadian kanker lambung. Fruktosa merupakan jenis gula nan umum ditemukan dalam beragam produk minuman berpemanis di pasaran.

Peneliti menduga terdapat sejumlah sistem biologis nan memicu kondisi ini, di antaranya:

  • Peningkatan berat badan nan signifikan.
  • Munculnya resistensi insulin.
  • Terjadinya peradangan kronis dalam tubuh.
  • Perubahan pada mikrobioma usus.

Namun, sistem tersebut saat ini tetap berkarakter asumsi dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dikonfirmasi secara medis.

Penjelasan Dokter: Hubungan Observasional

Andrew T. Chan, seorang mahir gastroenterologi dan epidemiologi nan terlibat dalam penelitian ini, menegaskan bahwa hasil studi tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak.

Karena berkarakter observasional, penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan alias hubungan antara kebiasaan minum manis dan akibat kanker. Faktor style hidup lain di luar konsumsi minuman manis mungkin saja turut memengaruhi hasil akhir penelitian tersebut.

Meski belum berkarakter kausal, Chan menyarankan masyarakat untuk mulai mengurangi konsumsi minuman manis sebagai langkah pencegahan nan masuk akal. Selain akibat kanker lambung, konsumsi gula berlebih sudah lama dikaitkan dengan masalah kesehatan kronis lainnya seperti obesitas dan glukosuria jenis 2.

Temuan ini diharapkan menjadi sinyal awal bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi harian, sembari menunggu penelitian lanjutan nan lebih mendalam mengenai akibat langsung minuman manis terhadap sel lambung. (GI & Hepatology News, Medical News Today/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia