Ilustrasi.(Magnific)
STUDI besar nan menganalisis catatan psikiatri dan genetik berpotensi mengubah langkah pengobatan bagi jutaan pasien di seluruh dunia. Penelitian ini menemukan bahwa banyak kondisi kesehatan mental melibatkan gen nan serupa dan mungkin tidak perlu lagi dianggap sebagai penyakit nan sepenuhnya terpisah.
Diterbitkan dalam jurnal Nature, laporan penelitian ini menantang batas tradisional nan digunakan psikiatri untuk memisahkan kondisi serupa, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia. Temuan ini menunjukkan bahwa memperkuat penekanan tradisional pada perilaku pasien dengan pemahaman mendalam tentang biologi penyakit mental dapat menghasilkan pengobatan nan lebih efektif.
Analisis Skala Besar terhadap Jutaan Data
Tim peneliti internasional menghabiskan waktu lima tahun untuk menganalisis catatan dari lebih dari 1 juta orang nan didiagnosis dengan salah satu dari 14 gangguan psikiatri serta 5 juta orang tanpa pemeriksaan tersebut. Hasilnya, ditemukan kesamaan genetik nan mengelompokkan 14 gangguan tersebut ke dalam lima kategori utama:
- Gangguan penggunaan zat.
- Kondisi internalisasi: Seperti depresi, kecemasan, dan PTSD.
- Kondisi neurodevelopmental: Seperti autisme dan ADHD.
- Kondisi kompulsif: Seperti anoreksia nervosa, sindrom Tourette, dan OCD.
- Kelompok kelima: Mencakup gangguan bipolar dan skizofrenia.
Studi tersebut menemukan bahwa gangguan bipolar dan skizofrenia berbagi sekitar 70 persen pendorong genetik nan sama. "Jika Anda memandang apa nan dikatakan gen kepada kita, itu menunjukkan bahwa kategori-kategori nan berbeda ini lebih berasosiasi secara esensial pada tingkat biologis daripada nan kita duga sebelumnya," ujar Jordan Smoller, salah satu penulis makalah dan kepala Mass General Brigham’s Center for Precision Psychiatry di Boston.
Titik Panas Genetik pada Kromosom 11
Para peneliti menemukan bahwa 14 gangguan psikiatri nan diperiksa mengenai oleh 238 jenis genetik unik. Tim ilmiah juga mengidentifikasi titik panas pada Kromosom 11, klaster gen nan terlibat dalam meningkatkan akibat genetik untuk delapan gangguan sekaligus.
Salah satu gen tersebut adalah sasaran utama obat antipsikotik, DRD2, nan mengatur dopamin selaku pembawa pesan kimia utama di otak nan memengaruhi motivasi, suasana hati, perhatian, dan kognisi.
Statistik Kesehatan Mental: Berdasarkan studi tahun 2010 di jurnal Psychiatry, separuh dari seluruh populasi manusia bakal mengalami gangguan psikiatri seumur hidup mereka. Lebih dari separuh pasien bakal didiagnosis dengan gangguan kedua alias ketiga.
Masa Depan Diagnosis Psikiatri
Temuan ini diharapkan dapat membebaskan pasien dari beban membawa banyak pemeriksaan berbeda nan memerlukan beragam jenis obat. Andrew Grotzinger, asisten guru besar ilmu jiwa dan pengetahuan saraf di University of Colorado Boulder, memberikan metafora medis: jika seseorang pergi ke master dengan hidung meler, batuk, dan sakit tenggorokan, mendiagnosisnya sebagai tiga gangguan terpisah dan memberikan tiga pil berbeda bakal dianggap sebagai kesalahan langkah medis.
Meskipun demikian, para mahir mencatat bahwa penerapan praktis dari temuan ini tetap memerlukan waktu. Saat ini, pemeriksaan tetap sangat berjuntai pada perilaku nan tampak di ruang praktik psikiater daripada profil biologis murni.
Para mahir memprediksi bahwa info genetik bakal mulai menjadi bagian dari pertimbangan pemeriksaan dalam jenis mendatang Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), kitab pedoman komprehensif nan digunakan oleh klinisi dan perusahaan asuransi di seluruh dunia. (Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·