Strategi China di Samudra Hindia: dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon

Sedang Trending 28 menit yang lalu

 dari Seychelles, Maladewa, hingga Kepulauan Solomon

Menteri Luar Negeri Kepulauan Solomon Jeremiah Manele berbincang dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, China, 21 September 2019. (Foto: Reuters)

JAKARTA — Meningkatnya pengaruh China di negara-negara kepulauan mini dinilai telah memicu tanggapan dari Amerika Serikat (AS). Salah satu tindakan nan dinilai sebagai corak dari respons tersebut adalah keputusan Washington untuk membuka kembali kedutaannya di Seychelles pada tahun 2023.

Washington sebelumnya telah menutup kedutaannya di Seychelles pada tahun 1996. Selama kurun waktu tersebut, China sukses membangun kehadiran nan signifikan melalui pembangunan sekolah, rumah sakit, perumahan, serta prasarana publik.

Presiden Seychelles sendiri mengakui bahwa keterlibatan Beijing telah menciptakan niat baik (goodwill) nan sangat besar, terutama lantaran China menyediakan beragam jasa dasar nan diabaikan oleh kekuatan eksternal lainnya. Fenomena ini mencerminkan perubahan konstelasi area Samudra Hindia: negara-negara nan dulu dianggap pinggiran dalam persaingan kekuatan utama sekarang menjadi sangat krusial dalam kalkulasi strategis Beijing, New Delhi, dan Washington.

Signifikansi Seychelles tidak terletak pada besarnya ukuran ekonomi alias jumlah populasinya, melainkan pada letak strategisnya di wilayah barat Samudra Hindia. Wilayah lautnya berada di sepanjang rute pelayaran utama nan menghubungkan Afrika, Timur Tengah, dan Asia.

Mengutip laporan PML Daily, Minggu (27/9/2026), keterlibatan China di Seychelles merupakan bagian dari strategi nan lebih besar untuk mempererat hubungan ekonomi dan politik di seluruh Samudra Hindia, tempat di mana sektor infrastruktur, perdagangan, dan keamanan maritim sekarang semakin saling terhubung.

Bagi Beijing, Samudra Hindia mempunyai makna vital lantaran menjadi jalur akses ke negara-negara penghasil daya di Teluk Persia, pasar di Afrika dan Eropa, serta jalur transportasi maritim komoditas perdagangan China. Sebagian besar impor daya China berjuntai pada keamanan jalur maritim ini, nan menghubungkan Samudra Hindia bagian barat hingga Selat Malaka.

Inisiatif Sabuk dan Jalan serta Perluasan Pengaruh

Pertimbangan ekonomi ini mendorong Beijing memperluas prasarana luar negeri dan keterlibatan diplomasinya. Kerangka kerja Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) menjadi sarana utama pembangunan pelabuhan, jaringan transportasi, dan akomodasi komersial, dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta bank kebijakan China bertindak sebagai penyedia modal utama bagi negara-negara nan memerlukan investasi.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑