Ilustrasi.(Magnific)
NVIDIA kini tidak lagi hanya dikenal sebagai penyedia tenaga di kembali chatbot populer. Raksasa semikonduktor ini tengah melakukan pertaruhan besar pada physical artificial intelligence (AI fisik), teknologi nan memungkinkan kecerdasan buatan berinteraksi langsung dengan objek bumi nyata seperti robot, mobil otonom, hingga drone. Langkah strategis ini menempatkan Tiongkok sebagai salah satu pasar sekaligus mitra krusial bagi masa depan perusahaan.
Bisnis AI bentuk Nvidia saat ini menghasilkan pendapatan tahunan sekitar US$10 miliar (sekitar Rp154 triliun). Meski nomor tersebut tetap merupakan sebagian mini dari total pendapatan perusahaan nan mencapai US$303 miliar dalam empat kuartal terakhir hingga Juli, CEO Nvidia Jensen Huang memproyeksikan pertumbuhan nan masif. Ia meyakini sektor ini bakal tumbuh 10 kali lipat dalam dasawarsa mendatang.
Ekosistem Perangkat Keras dan Perangkat Lunak
Strategi Nvidia dalam menguasai pasar robotika meniru kesuksesan mereka di masa lampau dengan CUDA. Perusahaan memasangkan cip unik AI bentuk dengan perangkat pengembangan perangkat lunak (software tools) agar developer robot dan robotaxi tetap terikat dalam ekosistem Nvidia. Sebagai bagian dari upaya ini, Nvidia telah merilis model open-weight seperti GR00T dan Cosmos nan dapat diunduh dan dimodifikasi secara bebas oleh pengembang.
"Jika saya bisa menghasilkan video jari nan bergerak alias tangan nan mengambil gelas, kenapa saya tidak bisa membikin robot melakukan perihal nan sama?” ujar Jensen Huang dalam aktivitas di San Francisco pada Juli lalu. Visi ini didukung oleh Michael Frank, CEO startup Radiant Intel, nan menyatakan bahwa AI bentuk memberikan jalur bagi Nvidia dari pusat info menuju ekonomi bentuk nan jauh lebih besar, mencakup pabrik, gudang, hingga kendaraan.
Informasi Utama: Nvidia baru saja merilis komputer entry-level terbaru untuk pengembang, Jetson Orin Nano 2, pada 25 Agustus 2024, guna memperkuat penetrasi di level riset dan pengembangan perangkat robotik.
Tiongkok: Pusat Gravitasi Robotika Dunia
Meskipun pemerintah Amerika Serikat membatasi penjualan cip AI paling kuat ke Tiongkok, jalur perdagangan untuk cip robot dan otomotif tetap terbuka. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi Nvidia, mengingat Tiongkok adalah pasar robot industri terbesar di dunia. Pada paruh pertama tahun ini saja, Tiongkok menyumbang sekitar 90% dari pengiriman robot humanoid global.
Ketergantungan produsen robot Tiongkok terhadap Nvidia tetap sangat tinggi. Perusahaan seperti Unitree dilaporkan menggunakan cip Thor terbaru dari Nvidia. Selain itu, Nvidia memanfaatkan robot dari vendor Tiongkok seperti Agibot dan Fourier di laboratorium mereka untuk pengumpulan info dan eksperimen.
| Target Pasar Utama | Mobil otonom (Waymo, Tesla, produsen Tiongkok), Robot Humanoid, Pabrik Pintar. |
| Model AI Terbuka | GR00T, Cosmos (untuk mempermudah mengambil pengembang). |
| Keterlibatan Keluarga | Madison Huang (Marketing AI Fisik) dan Spencer Huang (Product Management). |
| Kompetitor | Intel, Qualcomm, Huawei, Black Sesame, Horizon Robotics. |
Tantangan Geopolitik dan Kemandirian Teknologi
Keterlibatan family Huang dalam bagian ini juga terlihat nyata. Madison Huang, putri Jensen, aktif mempromosikan teknologi Nvidia di Asia, termasuk mengunjungi pabrik robot LG Electronics di Seoul dan menghadiri World Robot Conference di Beijing. Kehadirannya menegaskan sungguh pentingnya area Asia bagi peta jalan AI bentuk Nvidia.
Namun, bayang-bayang pembatasan ekspor dari Washington tetap menghantui. Beberapa perusahaan Tiongkok mulai menguji pengganti lokal dari vendor seperti Huawei dan Horizon Robotics sebagai langkah antisipasi. Harry Qin, pendiri startup sistem robotik, mencatat bahwa meski saat ini pengganti lokal belum menjadi prioritas utama, kebutuhan tersebut bakal muncul seiring dengan semakin sensitifnya teknologi AI di masa depan.
Nvidia menegaskan bahwa operasional mereka di seluruh dunia, termasuk Tiongkok, tetap konsisten dengan norma nan bertindak di Amerika Serikat. Dengan kekuasaan perangkat keras dan ekosistem perangkat lunak nan kuat, Nvidia saat ini tetap memegang kendali atas arah perkembangan robotika global. (The Wall Street Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·