Ilustrasi(magnific)
PESATNYA perkembangan ekonomi digital di Indonesia membawa angin segar bagi kenyamanan masyarakat dalam bertransaksi. Namun, di kembali kemudahan tersebut, bayang-bayang ancaman kejahatan siber nan semakin canggih, terutama nan berbasis kepintaran buatan (AI), menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh pemangku kepentingan.
Berdasarkan info terbaru, volume transaksi digital terus menunjukkan tren positif nan signifikan. Berikut adalah rincian pertumbuhan dan tantangan keamanan siber nan dihimpun dari laporan Bank Indonesia dan BSSN:
| Volume Transaksi Pembayaran Digital (Q1 2026) | 14,82 Miliar Transaksi |
| Pertumbuhan Transaksi (YoY) | Meningkat 37,69% |
| Trafik Internet Berpotensi Serangan Siber (2025) | 5,2 Miliar Trafik |
| Dominasi Ancaman Malware Berisiko Tinggi | 94% (Berpotensi menjadi Ransomware) |
Kolaborasi Strategis Melawan Fraud
Merespons situasi tersebut, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) berbareng PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), dengan support BPC, menggelar forum obrolan berjudul "Protection in Action: Strengthening Fraud Resilience Across Ecosystem" di Jakarta, Kamis (21/05). Forum ini menjadi wadah proaktif untuk menyatukan visi regulator dan pelaku industri dalam menjaga keamanan sistem pembayaran nasional.
Wakil Ketua Umum II AFTECH, Budi Gandasoebrata, menegaskan bahwa industri saat ini tidak hanya dituntut untuk tumbuh cepat, tetapi juga kudu handal (resilient). Menurutnya, Fraud Detection System (FDS) sekarang telah beralih bentuk dari sekadar fitur pendukung menjadi prasarana krusial bagi industri finansial digital.
Senada dengan perihal tersebut, Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, menyoroti bahwa penggunaan e-wallet dan QRIS nan masif kudu dibarengi dengan kesiapan industri dalam memitigasi risiko. "Fraud resilience bukan lagi sekadar rumor teknis, melainkan pilar utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan keberlanjutan upaya di sektor jasa keuangan," ujar Tri.
Inovasi Shared Services dan Kecerdasan Kolektif
Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menawarkan solusi melalui pendekatan shared services dan penguatan prasarana berbareng dalam manajemen penipuan. Strategi ini dinilai bisa mengoptimalkan investasi pelaku industri sekaligus meningkatkan kualitas keamanan secara terstandarisasi.
"Dengan model ini, respons terhadap kejadian menjadi lebih sigap dan akibat sistemik dapat ditekan. Pelaku industri dapat tetap konsentrasi pada pengembangan upaya inti, sementara fondasi keamanannya dikelola secara ahli dan terkoordinasi," jelas Ario.
Expert Lab: Uji Coba Sistem Deteksi Penipuan
Dalam forum ini, peserta juga berkesempatan mencoba sesi Expert Lab. Sesi ini mendemonstrasikan langkah kerja FDS nan mengintegrasikan info lintas ekosistem. Melalui kajian info nan berkelanjutan, sistem ini bisa membentuk "kecerdasan kolektif" nan secara proaktif memperbarui keahlian dalam menangkal ancaman siber berbasis AI.
Sinergi antara AFTECH, Jalin, dan regulator diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi ekonomi digital Indonesia. Dengan sistem nan terus belajar dan kerjasama lintas sektor, kepercayaan masyarakat dapat tetap terjaga di tengah dinamika teknologi nan terus berkembang. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·