Storynomics, Ketika Cerita Jadi IP dan Penulis Mesti Piawai Pitching

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Storynomics, Ketika Cerita Jadi IP dan Penulis Mesti Piawai Pitching Sigit Pratama, produser nan juga salah satu pendiri Wahana Edukasi, bagian dari Wahana Kreator Nusantara, perusahaan developer cerita dan rumah produksi konten berupa film, serial, dan buku, berbincang dalam training nan dihadiri para kreator. Pelatihan(MI/Iis Zatnika)

Ekosistem perfilman sekarang menyebut para pembuat karya berupa novel, cerpen, maupun karya cerita lainnya sebagai kreator. Istilah ini diharapkan mendorong para penulis fiksi agar lebih bisa mengembangkan keahlian menjual karyanya ke beragam medium, termasuk movie maupun serial.

Di sisi lain, kehadiran pembuat juga dibutuhkan industri mengenai untuk terus produktif melahirkan judul-judul baru dengan kualitas nan terjaga, antara lain dengan melibatkan para pembuat dalam proses produksi. Demikian diungkapkan Sigit Pratama, produser nan juga salah satu pendiri Wahana Edukasi. Wahana Edukasi merupakan bagian dari Wahana Kreator Nusantara, perusahaan developer cerita dan rumah produksi konten berupa film, serial, dan buku.

Sigit menjelaskan perihal itu dalam training nan dihadiri para pembuat sebagai bagian dari rangkaian aktivitas Festival Literasi 2026 di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (14/10). Festival ini diselenggarakan Direktorat Penerbitan dan Fotografi, Deputi Bidang Kreativitas Media, Kementerian Ekonomi Kreatif, dalam rangka memperingati Bulan Gemar Baca dan Hari Literasi Nasional.

Festival ini mengusung semangat penguatan budaya baca dan ekosistem literasi. Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri buku, organisasi literasi, pelaku ekonomi kreatif, serta masyarakat melalui beragam program, seperti bincang literasi, lokakarya, pameran, hingga obrolan mendalam mengenai pelestarian dan konservasi karya.

Sigit, nan juga produser movie Seni Merayu Tuhan nan diangkat dari buku, mengungkapkan bahwa para pembuat perlu menguasai teknik komunikasi untuk mempresentasikan karyanya kepada produser.

"Kuasai teknik presentasi selama 90 detik, dengan menekankan aspek nan menarik, nan berbeda, identitas kita sebagai penulisnya, serta kegelisahan nan kita bawa. Itu sama pentingnya dengan keahlian kita melahirkan karya," kata Sigit.

Keterampilan berkomunikasi itu, kata Sigit, menjadi salah satu aspek utama dalam mengembangkan dan mengomersialkan kekayaan intelektual alias intellectual property (IP) agar berbobot ekonomi sekaligus menjangkau audiens nan lebih luas.

Sebelumnya, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam pembukaan pagelaran menyatakan bahwa karya sastra mempunyai peran strategis dalam membangun ekonomi imajinatif berbasis penceritaan alias storynomics. "Buku tidak berakhir sebagai media baca, tetapi dapat berkembang menjadi film, animasi, gim, pertunjukan, maupun beragam produk imajinatif lainnya. Sastra adalah fondasi dari ekonomi imajinatif berbasis penceritaan,” ujar Teuku Riefky Harsya.

Sebagai corak support terhadap ekosistem penerbitan, lanjut Teuku Riefky Harsya, pihaknya berbareng Kementerian Keuangan serta kementerian dan lembaga mengenai tengah mendorong perubahan kebijakan perpajakan royalti kitab menjadi PPh Final sebesar 1,5%. Kebijakan nan saat ini memasuki tahap pengharmonisan tersebut diharapkan memberikan kepastian perpajakan, meningkatkan kesejahteraan penulis, serta memperkuat keberlanjutan industri publikasi nasional.

Selain itu, penguatan ekosistem publikasi juga dilakukan melalui perlindungan kewenangan cipta, komersialisasi kekayaan intelektual, serta ekspansi akses pembiayaan dan pasar. Targetnya, semakin banyak karya sastra Indonesia nan berkembang menjadi IP unggulan di pasar nasional maupun global.(X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑