Sosok Mandala Siswa Sepatunya Kekecilan: Tak Pernah Ngeluh, Utamakan Keluarga

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Keluarga menujukkan foto Mandala Rizky Syaputra. Foto: kumparan

Di sebuah rumah sederhana nan terletak di Jalan Tramidi RT 13, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kota Samarinda, seorang ibu berjulukan Ratnasari menuturkan kisah hidupnya dengan bunyi lirih.

Kata-katanya mengalir perlahan, kadang terputus oleh emosi nan susah dibendung. Di kembali setiap kalimat, tersimpan beban panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan penyesalan nan sekarang kudu dia terima.

Ia mengingat betul gimana sosok anaknya, almarhum Mandala Risky Syaputra (16), nan berguru di SMK Negeri 4 Samarinda, menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Bagi sang ibu, Mandala bukan anak nan suka menuntut. Bahkan untuk hal-hal mini seperti busana alias sepatu, dia selalu memilih mengalah. Ketika ibunya sempat mau membelikan sesuatu, Mandala justru menolak.

“Tidak usah, Ma. Lebih baik untuk kebutuhan di rumah saja,” begitu kira-kira kalimat nan terus terngiang di ingatan ibu Mandala saat dijumpai di rumah nan telah ditempati selama kurang lebih tujuh bulan terakhir itu.

Sikap itu bukan sekadar ucapan, tetapi gambaran dari karakter Mandala nan terbentuk dari kondisi hidup mereka. Ia tumbuh dalam family sederhana, memahami betul gimana sulitnya ibunya mencari duit setiap hari. Karena itu, dia memilih untuk tidak menambah beban.

Ratnasari, ibu Mandala Rizky Syaputra, siswa di Samarinda nan meninggal usai mengalami sakit dan bengkak pada kakinya diduga lantaran penggunaan sepatu sekolah nan kekecilan. Foto: kumparan

Sebagai seorang ibu, emosi itu justru menjadi luka tersendiri. Ada penyesalan lantaran belum bisa memenuhi kemauan anak, apalagi nan paling sederhana sekalipun.

“Penyesalannya itu… kemauan anak saja tidak bisa kita wujudkan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, Selasa (5/5).

Hari-hari mereka sebelumnya melangkah dalam ritme perjuangan. Sang ibu bekerja sebagai penjual jajanan keliling. Dengan keranjang di tangan, dia menjajakan risol isi sayur, dadar gulung, dan klepon sejak pagi hari. Setelah salat subuh, dia mulai bersiap dan biasanya sudah melangkah sejak pukul enam pagi.

Ia berkeliling hingga dagangannya habis, tanpa kepastian waktu. Kadang bisa selesai pukul 10 pagi, kadang lebih lama. Semua tergantung seberapa sigap dagangannya terjual.

Penghasilan nan didapat pun jauh dari kata cukup. Dalam sehari, dia memperkirakan hanya membawa pulang sekitar Rp 65 ribu. Uang itu kudu dibagi untuk beragam kebutuhan: membeli beras, minyak goreng, hingga kebutuhan dapur lainnya. Dengan lima orang anak nan kudu dinafkahi, setiap rupiah menjadi sangat berarti.

Mandala sendiri adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia dikenal sebagai anak nan tidak pernah merepotkan orang tua. Sejak kecil, dia nan sudah menjadi yatim itu tidak pernah meminta duit jajan. Bahkan ketika diberi, dia jarang mengeluh alias meminta lebih.

Sepatu nan dipakai Mandala Rizky Syaputra, siswa di Samarinda nan meninggal usai mengalami sakit dan bengkak pada kakinya diduga lantaran penggunaan sepatu sekolah nan kekecilan. Foto: kumparan

Dalam kesehariannya, Mandala melangkah kaki ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 10 menit. Itu dia tempuh setiap hari tanpa keluhan. Baginya, itu perihal biasa.

Ia berguru di SMK Negeri 4 Samarinda dengan bidang Pemasaran. Pilihan bidang itu bukan sepenuhnya keinginannya, melainkan lebih kepada mengikuti saran ibunya. Namun, seperti kebiasaannya, Mandala tidak pernah membantah.

Ia sempat mengikuti aktivitas magang selama satu bulan. Bukan tanggungjawab sekolah, melainkan inisiatif untuk membantu.

Setelah magang itulah, dia pernah mengeluhkan rasa pegal di kaki. Namun, keluhan itu disampaikan dengan sangat sederhana, tanpa menunjukkan bahwa dia betul-betul kesakitan.

“Cuma bilang pegal saja,” kenang sang ibu.

Di kembali sikapnya nan pendiam, Mandala rupanya mempunyai kepedulian besar terhadap orang lain. Saat family mereka kudu pindah rumah lantaran tempat sebelumnya bakal direnovasi, Mandala sempat menyarankan agar mencari rumah nan lebih dekat dengan sekolah.

Alasannya sederhana, dia tidak mau merepotkan temannya nan selama ini membantu mengantarnya.

“Dia mikir juga bensin temannya, bolak-balik jemput dia,” ujar sang ibu.

Suasana rumah Mandala Rizky Syaputra, siswa di Samarinda nan meninggal usai mengalami sakit dan bengkak pada kakinya diduga lantaran penggunaan sepatu sekolah nan kekecilan, Selasa (5/5/2026). Foto: kumparan

Kehidupan family ini memang tidak pernah lepas dari keterbatasan. Mereka kerap beranjak tempat tinggal, bukan lantaran keinginan, tetapi lantaran keadaan.

Rumah nan sekarang pun ditempati lantaran terpaksa, setelah tempat sebelumnya kudu ditinggalkan.

Di tengah semua itu, sang ibu tetap berupaya menjalani perannya. Ia tidak hanya menjadi pencari nafkah utama, tetapi juga tempat anak-anaknya bercerita. Mandala sendiri dikenal sangat terbuka kepadanya.

“Semua cerita ke saya, tidak ada nan ditutup-tutupi,” katanya.

Kini, setelah kepergian Mandala, kehidupan mereka terasa jauh berbeda. Sang ibu sempat tetap berdagang demi memenuhi kebutuhan aktivitas tahlilan. Namun setelah itu, dia memilih berakhir jualan sementara.

Meski demikian, keinginannya untuk kembali berdagang tetap kuat. Baginya, bekerja adalah satu-satunya langkah untuk memperkuat hidup dan melanjutkan tanggung jawab terhadap anak-anaknya nan lain.

Sementara itu, anak sulungnya sekarang mulai membantu dengan bekerja di sebuah pusat perbelanjaan. Ia apalagi meminta ibunya untuk beristirahat sejenak dan tidak memaksakan diri.

“Tidak usah kerja dulu, tunggu saya gajian,” kata anaknya.

Namun bagi sang ibu, bekerja bukan hanya soal uang. Itu juga menjadi langkah untuk menguatkan diri di tengah duka nan belum sepenuhnya reda.

Di sisi lain, dia juga menghadapi tekanan sosial. Beberapa pesan tidak menyenangkan masuk ke ponselnya melalui WhatsApp. Meski begitu, dia memilih untuk tidak terlalu memikirkan perihal tersebut.

“Iya, ada saja, tapi ya sudah,” ucapnya singkat.

Ia berupaya menerima semuanya dengan ikhlas, meski tidak mudah. Baginya, apa nan terjadi adalah bagian dari takdir nan kudu dijalani.

“Ikhlas… sudah kehendak Tuhan,” katanya pelan.

Namun di kembali kata “ikhlas” itu, tersimpan luka nan dalam. Sebagai orang tua, dia tetap menyimpan penyesalan nan mungkin tidak bakal pernah betul-betul hilang.

Kini, dia hanya berupaya melanjutkan hidup, menjaga anak-anaknya nan lain, memperkuat dengan segala keterbatasan, dan menguatkan diri setiap hari.

Sebab baginya, meskipun kehilangan itu tak tergantikan, kehidupan kudu tetap berjalan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan