Fajar Aditya dan Sujewo Tejo
JAKARTA — Konten seram selama ini kerap dilekatkan dengan bumi paranormal, klenik, indigo, alias hal-hal mistis. Namun, Fajar Aditya melalui RJL 5 justru menawarkan perspektif berbeda: pengalaman seram dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kepercayaan, budaya, kehidupan sosial, hingga kearifan lokal nan berkembang di beragam wilayah Indonesia.
Perspektif tersebut semakin diperkuat dengan latar belakang akademik Fajar Aditya nan baru saja menyelesaikan pendidikan S2 Antropologi di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude dan IPK 3,89. Momentum wisuda UI nan berjalan pada Jumat-Sabtu ini menjadi salah satu penanda perjalanan Fajar dalam mengembangkan RJL 5 sebagai kanal nan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa nilai edukasi.
Bagi Fajar, ketenaran konten seram di Indonesia dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada masyarakat.
“Banyak nan berpikir jika orang nan membahas seram kudu paranormal, dukun, klenik, alias indigo. Padahal tidak kudu begitu. Pengalaman seram bisa kita lihat sebagai sebuah kejadian kepercayaan dalam budaya masyarakat,” ujar Fajar Aditya, Founder RJL 5.
Menurutnya, ketika sebuah pengalaman seram dibahas dalam konteks budaya, pembicaraan tidak berakhir pada cerita mistis. Dari sebuah kepercayaan masyarakat, pembahasan dapat berkembang menjadi cerita mengenai kehidupan sosial dan ekonomi sebuah desa, hingga memperkenalkan potensi wisata dan produk-produk lokal nan dihasilkan masyarakat setempat.
“Setelah membahas kepercayaan, kita bisa masuk ke kehidupan sosial dan ekonomi di sebuah desa. Bahkan, dari sana kita juga bisa memperkenalkan wisata serta produk-produk nan dihasilkan oleh desa tersebut,” lanjutnya.
24 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·