Soroti Kasus Bupati Muara Enim, ICW Sebut WTP Kini Jadi Komoditas

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga pemerhati korupsi, Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) terhadap audit finansial wilayah sekarang hanya jadi komoditas dan perangkat pencitraan.

Menurut ICW, opini WTP nan diberikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tak lagi menunjukkan predikat sebenarnya terhadap pengelolaan fiskal wilayah nan baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Predikat WTP tidak lagi dimaknai sebagai hasil pengelolaan finansial nan baik, tetapi diburu kepala wilayah sebagai tiket mendapatkan insentif fiskal dan perangkat pencitraan politik," ujar staf investigasi ICW, Azhim dalam keterangannya, Sabtu (13/6).

"Opini audit BPK sudah menjadi komoditas dagang," imbuhnya.

ICW berkaca dari kasus dugaan suap nan menjerat Bupati Muara Enim, Edison dan sejumlah pegawai ASN BPK berangkaian dengan audit laporan finansial oleh BPK di Pemerintah Kabupaten Muara Enim tahun anggaran 2025.

Menurut ICW, pemotongan biaya transfer ke wilayah dan biaya desa (TKDD) sekarang justru membuka celah baru korupsi. Kebijakan itu malah mendorong pemda berlomba-lomba membeli WTP demi terlihat baik dan memperoleh biaya insentif serta tambahan TKDD.

ICW juga menyoroti vonis ringan terhadap para terdakwa kasus tersebut. Salah satunya vonis terhadap Achsanul Qosasi, mantan personil III BPK nan terbukti korupsi BTS hanya divonis 2,5 tahun penjara.

"Hukuman serendah ini kandas menjadi early warning system, justru angin segar bagi oknum pejabat BPK lain nan beriktikad serupa," kata Azhim.

Di sisi lain, ICW juga menilai rekrutmen personil BPK sangat politis. Mayoritas ketua BPK nan terjerat korupsi berasal dari partai politik alias eks personil DPR. Padahal, pemilihan itu kental dengan nuansa politis karena DPR adalah pihak nan mestinya diperiksa.

"Pengawasan internal BPK kandas total. Hampir seluruh kasus terbongkar lewat OTT KPK alias Kejagung, bukan oleh Majelis Kehormatan Kode Etik BPK," katanya.

(thr/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional