Arief Setyadi
, Jurnalis-Jum'at, 05 Juni 2026 |23:49 WIB

Rico Marbun (Foto: Dok Okezone)
JAKARTA – Polemik movie dokumenter Pesta Babi perlu dicermati dengan serius lantaran berpotensi digunakan sebagai instrumen kampanye nan mengarah pada narasi disintegrasi Papua. Hal itu tampak dari pola promosi hingga pemutarannya, sehingga tidak lagi dilihat sekadar kritik sosial.
"Lambat laun semakin kuat tercium aroma bahwa movie Pesta Babi tidak lagi diposisikan hanya sebagai kritik sosial alias kritik pembangunan," kata Alumnus S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapura, Rico Marbun dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).
"Cara movie ini dipromosikan, diputar, dan dibingkai dalam beragam forum menunjukkan kecenderungan mengarah pada kampanye politik identitas nan berpotensi memperlebar jarak antara Papua dan Indonesia,” imbuhnya.
Rico pun mengungkap indikatornya, seperti pilihan bahasa, narasi, dan mobilisasi kelompok-kelompok tertentu nan mengiringi pemutaran film. Menurutnya, aktivitas pendukung movie kerap mengangkat framing nan menempatkan Indonesia sebagai kekuatan kolonial di Papua.
“Framing semacam itu bukan sekadar kritik terhadap kebijakan negara. Narasi Indonesia sebagai kolonialis mempunyai akibat politik nan sangat serius lantaran secara implisit berupaya menegasikan sejarah perjuangan berbareng seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua, dalam melawan kolonialisme Belanda,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·