Sony FX5 diuji sineas dalam kondisi minim sinar hingga video musik, memanfaatkan tiga base ISO dan Open Gate untuk elastisitas produksi.
Sejumlah sineas memberikan testimoni menggunakan Sony FX5. dok. Sony
Sejumlah sineas menguji keahlian Sony FX5 dalam kondisi produksi nyata, mulai dari pengambilan gambar minim sinar dengan ISO tinggi, pencahayaan RGB nan kompleks, hingga produksi video musik nan memerlukan elastisitas dalam menentukan framing.
Salah satu pengetesan dilakukan sutradara Upie Guava. Ia mencoba mendorong keahlian FX5 hingga ISO tertinggi untuk memandang sejauh mana kamera tersebut dapat menghasilkan gambar dalam kondisi minim cahaya.
“Pasti orang bilang jangan dipakai, tapi jika enggak boleh dipakai, kenapa ada itu ISO,” ujar Upie.
Upie mengaku terkesan setelah memandang hasil pengambilan gambar pada kondisi nan cukup gelap.
Rekaman tersebut kemudian masuk ke proses penyuntingan dan visual grading untuk memandang sejauh mana gambar tetap dapat diolah.
“Jadi ini pertama kalinya saya impressed. ISO paling mentok nan biasanya itu hanya ada, tapi belum dipakai,” kata Upie.
Pengujian berbeda dilakukan sineas Joni Astin. Ia membawa FX5 menghadapi skenario produksi dengan sumber sinar RGB, pergerakan lampu nan susah dikontrol, serta perubahan pencahayaan dari kondisi terang hingga sangat gelap.
Dalam kondisi tersebut, Joni memanfaatkan tiga pilihan base ISO nan tersedia pada FX5, ialah ISO 800, 4.000, dan 12.800.
Ketiganya digunakan sesuai dengan kondisi pencahayaan selama proses pengambilan gambar.
“Jadi tiga base ISO saya pakai banget waktu di syutingan kemarin. Aku nyobain 800 base ISO saat lampunya lumayan ada, terus mediumnya di 4000, kemudian di high-nya di 12800,” ujar Joni.
Menurut Joni, base ISO 4.000 menjadi salah satu pilihan menarik untuk pengambilan gambar malam hari.
Ia menilai info visual pada bagian gelap nan sebelumnya susah ditangkap menggunakan kamera lain tetap dapat terlihat pada hasil rekaman FX5.
“Hal nan biasanya tidak bisa saya tangkap di kamera sebelumnya, di sini jadi lebih keluar,” katanya.
Pengujian FX5 kemudian bersambung ke produksi video musik. Dalam proyek tersebut, kamera digunakan untuk menghadapi kombinasi pencahayaan nan beragam sekaligus kebutuhan slow motion dan pengambilan gambar dalam kondisi minim cahaya.
Produksi itu juga melibatkan penggunaan blue screen nan selanjutnya digabungkan dengan CGI.
Selain keahlian pada kondisi minim cahaya, fitur Open Gate menjadi salah satu kegunaan nan dimanfaatkan selama produksi.
Fitur tersebut memberikan ruang lebih besar dalam menentukan ulang komposisi gambar ketika memasuki tahap pascaproduksi.
Bagi Joni, elastisitas tersebut menjadi krusial dalam produksi video musik maupun komersial lantaran permintaan format alias framing dapat berubah setelah proses pengambilan gambar selesai.
“Open Gate, apalagi di musik video dan komersil, kepakai ketika pengguna mendadak minta. Jadi ya, sangat kepake lah itu,” ujar Joni.
Kemampuan melakukan crop dan mengubah framing memberikan keleluasaan lebih besar bagi pembuat dalam menyesuaikan satu materi dengan kebutuhan visual nan berbeda tanpa kehilangan terlalu banyak perincian gambar.
Pengujian nan dilakukan Upie dan Joni memperlihatkan penggunaan Sony FX5 dalam beragam situasi produksi, bukan hanya dalam kondisi pencahayaan ideal.
Tiga pilihan base ISO hingga 12.800 dimanfaatkan untuk menghadapi perubahan cahaya, sementara Open Gate memberikan ruang lebih luas dalam menentukan komposisi ketika materi memasuki tahap pascaproduksi.
Kombinasi keahlian tersebut membikin FX5 diuji untuk kebutuhan nan cukup beragam, mulai dari pengambilan gambar minim sinar dan pencahayaan kompleks hingga produksi video musik nan menuntut slow motion, CGI, serta elastisitas framing.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·