Soal Rencana Demo 27 Agustus, PW GPA Tolak Provokasi Pecah Belah Persatuan

Sedang Trending 22 menit yang lalu
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) DKI Jakarta, Dedi Siregar, pada Konferensi Pers Tolak Provokasi, Tolak Aksi, Jaga Persatuan, Rawat Perdamaian di Jakarta, Minggu (23/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) DKI Jakarta Dedi Siregar menolak rencana tindakan nan disebut bakal digelar di Gedung DPR RI pada Kamis (27/8). Ia meminta masyarakat tidak terprovokasi narasi nan berpotensi memecah persatuan.

Hal itu disampaikan Dedi dalam konvensi pers berjudul “Tolak Provokasi, Tolak Aksi, Jaga Persatuan, Rawat Perdamaian” di Jakarta, Minggu (23/8).

Dedi mengatakan masyarakat mempunyai kewenangan konstitusional untuk menyampaikan pendapat. Namun, dia menekankan penyampaian aspirasi kudu dilakukan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.

"Menolak segala corak provokasi nan mengatasnamakan rakyat andaikan narasi nan dibawa berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," kata Dedi.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) DKI Jakarta, Dedi Siregar, pada Konferensi Pers Tolak Provokasi, Tolak Aksi, Jaga Persatuan, Rawat Perdamaian di Jakarta, Minggu (23/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ia menyinggung info di media sosial mengenai rencana tindakan nan mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Aliansi Rakyat Indonesia Bersatu (ARIB), dan Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI).

Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut tidak mempunyai legitimasi untuk mengeklaim mewakili seluruh rakyat Indonesia. Ia mengingatkan masyarakat mempunyai pandangan dan aspirasi nan beragam.

"Jangan lantaran membawa nama rakyat, kemudian merasa mempunyai kewenangan untuk berbincang atas nama seluruh bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia sangat beragam dan jutaan masyarakat nan mempunyai pandangan aspirasi dan pendapatan, pendapat nan berbeda," ujar dia.

Dedi juga meminta agar tindakan penyampaian pendapat tidak berkembang menjadi tindakan provokatif, intimidatif, anarkis, alias perusakan akomodasi umum.

Ia menegaskan Jakarta merupakan rumah berbareng sehingga keamanan dan ketenteraman masyarakat kudu tetap dijaga.

"Kami tidak alergi terhadap kritik dan demonstrasi. Sebaliknya juga pihaknya memahami bahwa tindakan penyampaian pendapat merupakan salah satu bagian dari kehidupan demokrasi. Namun kebebasan tersebut kudu disertai dengan tanggung jawab," tegas Dedi.

Dedi membujuk masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah terprovokasi info di media sosial nan belum terverifikasi. Ia meminta persoalan bangsa diselesaikan melalui perbincangan dan sistem konstitusional.

“Kami pemuda menjadi pendingin suasana, bukan menjadi bensin nan memperbesar api konflik," ujar dia.

PW GPA DKI Jakarta juga menyerukan agar tindakan penyampaian aspirasi dilakukan secara tenteram dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun akomodasi negara.

"Kami mendukung kerakyatan tetapi menolak provokasi, kami menghormati kebebasan beranggapan tapi kami menolak tindakan nan memecah belah, dan kami mendukung penyampaian aspirasi tapi meminta seluruh pihak tetap menjaga marwah lembaga negara dan simbol negara dan juga kepentingan masyarakat di Jakarta," tegasnya.

Dedi berambisi Jakarta tetap kondusif dan tidak menjadi arena bentrok akibat kepentingan golongan tertentu.

“Tolak provokasi. Tolak tindakan konfrontatif. Jaga persatuan. Jaga kedamaian Jakarta," ujar Dedi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan