Skema Bagi Hasil Migas Mau Diterapkan ke Tambang, IMA Ingatkan Hal Ini

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Association (API-IMA) buka bunyi atas rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mau menerapkan skema bagi hasil sektor minyak dan gas bumi (migas) ke sektor pertambangan.

Pada dasarnya, IMA memandang bahwa industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) mempunyai karakter upaya nan sangat berbeda dibandingkan dengan industri minyak dan gas bumi (migas), baik dari sisi model bisnis, pola investasi, tingkat risiko, regulasi, maupun sistem perizinannya.

Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti, menjelaskan bahwa industri pertambangan minerba mempunyai tingkat kompleksitas nan tinggi dengan karakter nan berbeda-beda pada setiap komoditasnya. Kondisi tersebut menjadikan pendekatan kebijakan fiskal dan sistem penerimaan negara di sektor minerba tidak dapat disamakan dengan sektor migas.

"Industri pertambangan minerba mempunyai karakter nan unik dengan tingkat kompleksitas nan berbeda pada masing-masing komoditas. Perbedaan mendasar inilah nan membikin banyak negara menerapkan sistem royalti dan fiskal nan berbeda dengan sektor migas," ujar Sari dalam siaran tertulisnya, Jumat (8/5/2026).

IMA menilai bahwa penerapan skema bagi hasil seperti production sharing contract (PSC) seperti di sektor migas bakal menghadapi tantangan signifikan andaikan diimplementasikan pada sektor pertambangan minerba. Hal ini disebabkan oleh perbedaan esensial dalam siklus usaha, profil risiko, struktur biaya, hingga sistem operasional antara kedua sektor tersebut.

Lebih lanjut, IMA menekankan pentingnya stabilitas kebijakan, khususnya mengenai tanggungjawab finansial perusahaan, guna menjaga keberlanjutan investasi dan operasional industri pertambangan nasional.

"Kami berambisi adanya kestabilan tanggungjawab finansial agar suasana investasi tetap terjaga dan sustainability operasi pertambangan dapat melangkah dengan baik. Saat ini industri menghadapi beragam penyesuaian kebijakan seperti perubahan DHE, royalti, HPM, bea keluar, hingga penerapan B50 nan turut menambah tantangan operasional perusahaan tambang," tambah Sari.

IMA berpandangan bahwa kepastian dan konsistensi kebijakan menjadi aspek krusial dalam menjaga daya saing industri pertambangan Indonesia, terutama di tengah dinamika dunia dan meningkatnya kebutuhan investasi jangka panjang untuk mendukung hilirisasi dan transisi daya nasional.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News