Seorang siswa SMA di Surabaya berinisial R (15 tahun) ramai diperbincangkan di sosial media lantaran melontarkan kata rasis saat membikin konten basket berbareng seorang YouTubers K Showtime alias Kevon Watt di Taman Kunang-Kunang, Kota Surabaya pada Rabu (29/4) lalu.
R merupakan siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya. Ia mengikuti aktivitas Street Basketball nan diadakan Kevon Watt atas inisiatif pribadi.
R kemudian menyampaikan permintaan maafnya.
"Saya, dengan kerendahan hati nan paling dalam dan rasa penyesalan nan besar, mau menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas tindakan dan ucapan rasis nan telah saya lakukan terhadap kerabat Kevon," ujar R dalam keterangan resminya, Selasa (5/5).
Ia sadar tindakan nan dilakukan tidak dapat dibenarkan dari perspektif pandang mana pun.
"Ucapan saya telah melukai emosi kerabat Kevon, mencoreng nilai-nilai kemanusiaan, serta mengingkari semangat sportivitas," ucapnya.
"Saya secara pribadi memohon maaf atas luka dan ketidaknyamanan nan saya timbulkan, terutama terhadap kerabat Kevon. Tidak ada seoran pun nan layak menerima perlakuan diskriminatif," katanya.
Permintaan maaf juga dia sampaikan kepada SMAK St. Louis 1 Surabaya nan telah terdampak perbuatannya.
"Perilaku saya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan etika nan diajarkan oleh bapak/ibu di SMA Katolik St. Louis 1," ujarnya.
"Saya menyadari bahwa rasisme adalah rumor serius nan merusak tatanan sosial. Saya berkomitmen untuk belajar lebih baik lagi agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali. Kejadian ini menjadi pembelajaran berbobot bagi saya untuk tumbuh menjadi pribadi nan lebih bijak, inklusif, dan menghargai keberagaman," katanya.
Kata Sekolah
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAK St Louis 1 Surabaya, Maria Viciati, mengatakan aktivitas pembuatan konten tersebut inisiatif pribadi dari R.
"Kami selaku pihak SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya memberikan info bahwa R adalah salah satu siswa dari sekolah kami," kata Viciati.
"Adapun event nan diikuti oleh R di Taman Kunang-Kunang, Surabaya bukanlah event basket nan diadakan oleh sekolah kami dan juga bukan event nan diikuti oleh SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya, melainkan niatan pribadi/kapasitas pribadi dari R untuk mengikuti event street basketball di dekat rumahnya, di luar jam sekolah," imbuhnya.
Meski begitu, kata Viciati, pihaknya juga turut bertanggung jawab secara moral untuk melakukan pendidikan dan pembinaan lebih lanjut terhadap R.
"Sehingga di kemudian hari perbuatan R tidak terjadi lagi, agar R dapat menjadi lebih baik dan berfaedah bagi bangsa dan negara," ucapnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·