Sisihkan Uang selama 24 Tahun, Pedagang Cilok dan Bubur Ayam di Kota Tasikmalaya Naik Haji

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
Sisihkan Uang selama 24 Tahun, Pedagang Cilok dan Bubur Ayam di Kota Tasikmalaya Naik Haji Karim dan Edoh, pasangan suami istri sempat berdagang cilok dan pindah menjadi pedagang bubur ayam penduduk Kampung Cimerak, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, naik haji tahun ini setelah menyisihkan duit selama 24 tahun.(MI/KRISTIADI)

Karim, 55, dan Edoh, 52, merupakan pasangan suami istri (Pasutri) penduduk Kampung Cimerak, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat terpanggil untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Pasangan tersebut, merasa berterima kasih saat merintis usahanya sebagai pedagang cilok dan bubur keliling setelah 24 tahun menyisihkan uang.

Sebuah rumah sederhana padat masyarakat di jalan gang sempit bercat putih berpolet coklat terlihat beberapa kolam ikan milik warga, hamparan persawahan dan saluran irigasi mengalir. Rumah tersebut, ditinggali oleh pasangan suami istri (Pasutri) Karim dan Edoh, berbareng putrinya Fazriah, 22, serta menantunya tengah duduk di lantai berasaskan tikar.

Pasangan suami istri (Pasutri) baru saja merapihkan dan membereskan teras lantai rumah nan mana tahun ini telah mendapat panggilan berangkat ke Tanah Suci Mekkah  masuk golongan terbang (Kloter) 04 KJT pada Kamis 23 April 2026, meski awalnya hanya memprediksi berangkat tahun 2028. Namun, keduanya sumbringah mendapat berita dan diikuti info dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Mathlaul Khaer Cintapada, Ahmad Fauzi Abdul Latif hingga mengikuti manasik haji.

"Kami merasa berterima kasih terpanggil untuk menunaikan ibadah haji dan ini merupakan nikmat bagi family meski awalnya hanya memprediksi tahun 2028 bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Karena, sejak awal itu mempunyai niat dalam hati mau menunaikan ibadah haji berbareng suami meski kondisi saat itu sebagai pedagang Cilok keliling," ujar Edoh, sembari meneteskan air mata, Rabu (22/4/2026).

Menurut Edoh, upaya pedagang cilok nan dilakukan berbareng suaminya sejak tahun itu hanya bisa menempati rumah kontrakan di Babakan Kalangsari, Kecamatan Cipedes sejak tahun 2002-2012 dan beragam upaya dilakukan berdua seperti bayar kontrakan sebesar Rp 30 ribu hingga naik Rp 60 ribu perbulan. Akan tetapi, lantaran ada niat mau menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan upaya itu dilakukan dengan menyisihkan duit hasil berjualan.

"Kami sisihkan sejumlah duit hasil jualan Cilok dari keringat sendiri nilainya Rp 50 ribu, Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu setiap hari dan tambahannya sejak itu kami hanya bisa menjadi pembantu rumah tangga (PRT) dari rumah ke rumah. Penghasilan itu bertambah hanya diperuntukkan untuk beli beras, bayar kontrakan hingga kami berdua tetap mesyukurinya," katanya.

Sebagai pedagang cilok nan dilakukan berbareng suaminya melangkah penuh lika liku meski banyaknya rintangan dihadapi, dan perjalanan tersebut berbuah manis setelah berupaya mencari rumah malah ada nan menjualnya. Karena, rumah nan dijualnya tetap murah dan langsung membelinya tapi usahanya tetap melangkah hingga akhir tahun 2012.

"Usaha jual beli cilok keliling memang dari penghasilan mini tapi kami berbareng suami tetap menikmati hidup dan menginjak 2013 beranjak berbisnis bubur ayam sederhana berjulukan "Bubur ayam Spesial Pak Karim" hingga di rumahnya ini Alhamdulilah telah dikarunia seorang putri dan usahanya terus lebih semangat sembari sisihkan duit hasil berdagang sebesar Rp 100 ribu, Rp 150 ribu setiap hari berdagang bubur ayam," katanya.

Edoh mengungkapkan, bertambahnya usia putrinya masuk pesantren Mathlaul Khaer Cintapada dan di sana mendaftarkan kuota haji berbareng suaminya hingga kudu bayar duit muka sebesar Rp50 juta kepada Ahmad Fauzi Abdul Latif dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Namun, bertambahnya penghasilan hasil jualan bubur dan menjadi pembantu rumah tangga (PRT) dari rumah ke rumah tersebut disisihkan hingga kembali bayar Rp15 juta dan tahun 2018 bayar Rp10 juta.

"Kami menyisihkan duit hasil berdagang bubur ayam keliling dua kali dalam sehari lantaran Karmin setiap berdagang banyak pengguna meski dilakukannya mulai pukul 05.00-10.00 WIB dan kembali berdagang pukul 12.00-20.00 WIB kudu melangkah kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer dari rumah dan menuju jalan baru penghubung antar Kota Tasikmalaya menuju Sindangkasih, Ciamis. Kami menyiapkan ruko mini nan disajikan untuk jualan bubur bagi pengguna semula Rp 7.000 naik Rp 10.000 satu mangkuk," tutur Karim.

Usaha nan dirintis menggunakan roda gerobak dan sempat mangkal, keliling ruas jalan hingga rumah ke rumah dengan nilai satu mangkuk tetap murah Rp 7.000 dan usahanya berubah menjadi Rp 10.000 menyesuaikan harga, lantaran kebutuhan pokok merangkak naik. Namun, untuk satu mangkuk memakai daging ayam, bawang daun, bawang merah goreng, kacang kedelai, kecap, sambal dan kerupuk.

Dagang bubur ayam nan dilakukannya itu memerlukan beras seberat 3-5 kilogram dan usahanya tidak berakhir di tengah jalan meski pengguna makin banyak membeli, jualan bubur tidak lain untuk kebutuhan family serta besarkan putrinya. Usaha berbisnis bubur tumbuh semakin meningkat dan bubur Karim selalu dicari pengguna lantaran enak, lezat, gurih, lezat dilidah dan terjangkau.

"Perjalanan hidup berbareng suaminya saat itu hanya tinggal di rumah kontrakan bilik dan sekarang mempunyai rumah sendiri, rutinitas bangun subuh sembari memanjatkan angan hingga melayani pelanggan, menyisihkan penghasilan sedikit demi untuk satu tujuan mulia pergi ke Baitullah. Kami awalnya tak percaya bakal berangkat tahun 2026 meski prediksinya 2028 dan setelah dapat berita dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Mathlaul Khaer Cintapada, Kecamatan Cibeureum melunasi semua biaya haji sebesar Rp 62 juta," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑