Sigma Male Adalah: Arti, Asal-Usul, dan Mengapa Istilah Ini Viral

Sedang Trending 4 hari yang lalu

sigma male adalahPernahkah Grameds memandang komentar seperti “that’s a sigma move“, “sigma male mindset“, alias “bro is sigma” saat membuka TikTok, IG Reels, maupun YouTube Shorts? Istilah tersebut sekarang semakin sering muncul dalam beragam konten, mulai dari video motivasi, edit karakter film, hingga meme nan mengundang tawa.

Di kembali popularitasnya, tetap banyak orang nan mengira sigma male adalah jenis kepribadian nan diakui dalam bumi psikologi. Padahal, dugaan tersebut kurang tepat. Sigma male sebenarnya merupakan istilah nan berkembang di internet dan menjadi bagian dari budaya digital modern. Seiring waktu, maknanya terus berubah hingga akhirnya lebih banyak digunakan sebagai bahasa gaul, bahan candaan, apalagi simbol style hidup tertentu.

Lalu, apa sebenarnya nan dimaksud dengan sigma male? Bagaimana asal-usul istilah ini, kenapa bisa viral, dan benarkah seseorang bisa dikategorikan sebagai sigma? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Sigma Male?

Secara umum, sigma male adalah istilah nan digunakan untuk menggambarkan sosok laki-laki nan dianggap mandiri, percaya diri, tidak berjuntai pada pengakuan orang lain, dan lebih memilih menjalani hidup sesuai prinsipnya sendiri.

Dalam beragam konten di media sosial, sigma male sering digambarkan sebagai seseorang nan bisa mencapai kesuksesan tanpa kudu menjadi pusat perhatian. Mereka lebih dikenal sebagai pribadi nan bekerja dalam diam, konsentrasi pada tujuan, dan tidak terlalu memedulikan penilaian lingkungan sekitar.

Karakter sigma biasanya dikaitkan dengan sifat-sifat seperti:

  • mandiri dalam mengambil keputusan;
  • percaya diri tanpa kudu mencari validasi;
  • disiplin terhadap tujuan hidup;
  • tenang saat menghadapi tekanan;
  • lebih nyaman menunjukkan hasil daripada banyak berbicara.

Meski terdengar seperti konsep psikologi, krusial dipahami bahwa sigma male bukanlah pengelompokkan kepribadian nan diakui secara ilmiah. Istilah ini lahir dari budaya internet dan berkembang melalui forum daring, blog, hingga media sosial.

 Cintai Dirimu dan Jadilah Sosok nan Percaya Diri!

Asal-Usul Istilah Sigma Male

Sebelum istilah sigma male populer, internet lebih dulu mengenal konsep alpha male dan beta male. Keduanya diadaptasi dari interpretasi lama mengenai jenjang sosial pada hewan, khususnya serigala, nan kemudian diterapkan secara sederhana untuk menggambarkan perilaku manusia.

Dalam narasi tersebut, alpha male digambarkan sebagai pemimpin nan dominan, percaya diri, dan senang menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, beta male sering dianggap lebih pendiam alias mengikuti pengarahan orang lain.

Namun, seiring waktu muncul istilah sigma male sebagai pengganti dari kedua konsep tersebut. Sigma digambarkan sebagai sosok nan tidak mau berada dalam jenjang sosial. Ia tidak mengejar posisi pemimpin, tetapi juga tidak merasa menjadi pengikut. Dengan kata lain, sigma memilih melangkah di jalannya sendiri tanpa terlalu memikirkan pengakuan dari lingkungan.

Konsep ini mulai terkenal di beragam forum internet sekitar akhir 2010-an dan semakin dikenal setelah banyak pembuat konten mengangkatnya dalam video motivasi serta pembahasan tentang pengembangan diri.

Apakah Sigma Male Benar-Benar Ada?

Ini merupakan salah satu pertanyaan nan paling sering muncul ketika membahas sigma male. Jawabannya adalah tidak ada bukti ilmiah nan menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi alpha, beta, maupun sigma. 

Dalam bumi ilmu jiwa modern, kepribadian manusia jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar tiga kategori tersebut.

Para psikolog lebih banyak menggunakan pendekatan ilmiah seperti teori Big Five Personality Traits, nan menilai seseorang berasas lima dimensi utama kepribadian, ialah keterbukaan terhadap pengalaman, ketelitian, ekstroversi, keramahan, dan stabilitas emosi.

Artinya, seseorang bisa saja mempunyai sifat mandiri, percaya diri, alias tenang tanpa kudu disebut sebagai sigma male. Karena itu, istilah sigma lebih tepat dipahami sebagai kejadian budaya internet daripada konsep ilmiah mengenai kepribadian manusia.

Ciri-Ciri Sigma Male nan Sering Digambarkan di Media Sosial

Walaupun bukan konsep ilmiah, media sosial telah membentuk gambaran tertentu mengenai karakter sigma male. Berikut beberapa karakter nan paling sering dikaitkan dengannya.

1.Tidak Bergantung pada Validasi Orang Lain

Salah satu karakter nan paling menonjol adalah tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain. Sigma male digambarkan lebih konsentrasi pada pencapaian pribadi daripada mencari pengakuan di media sosial alias lingkungan sekitar. Mereka tidak merasa perlu membuktikan diri kepada semua orang.

Namun, bukan berfaedah mereka antisosial. Mereka tetap bisa berinteraksi dengan orang lain, hanya saja tidak menjadikan pujian sebagai tujuan utama.

2. Mandiri dalam Mengambil Keputusan

Sigma sering digambarkan sebagai pribadi nan nyaman menentukan pilihan sendiri. Mereka terbiasa mempertimbangkan beragam kemungkinan sebelum mengambil keputusan dan tidak mudah mengikuti tren hanya lantaran sedang populer.

Sifat ini membikin karakter sigma terlihat lebih independen dibandingkan stereotip nan sering muncul dalam beragam meme internet.

3. Lebih Banyak Bertindak daripada Berbicara

Di beragam video motivasi, sigma male sering diperlihatkan sebagai sosok nan tidak banyak mengumbar rencana.

Mereka lebih memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dulu sebelum membagikan hasilnya kepada orang lain. Filosofi “action speaks louder than words” menjadi salah satu gambaran nan paling sering dikaitkan dengan karakter ini.

4. Mampu Mengendalikan Emosi

Dalam banyak konten, sigma digambarkan tetap tenang ketika menghadapi tekanan alias konflik.

Alih-alih bereaksi secara impulsif, mereka lebih memilih berpikir bening sebelum mengambil tindakan. Karakter inilah nan membikin sigma sering diasosiasikan dengan kedewasaan emosional, meskipun tentu saja setiap perseorangan mempunyai langkah nan berbeda dalam mengelola emosi.

5. Fokus pada Pengembangan Diri

Konten bertema sigma nyaris selalu berangkaian dengan kebiasaan membangun diri, seperti membaca buku, berolahraga, belajar keahlian baru, alias meningkatkan keahlian profesional.

Karena itu, sigma sering diposisikan sebagai simbol semangat self-improvement nan sedang terkenal di kalangan generasi muda.

 Percaya Diri di Acara Sosial. Unggul di Media Sosial

Mengapa Sigma Male Menjadi Viral?

Grameds, ketenaran sigma male tidak terlepas dari perkembangan media sosial, terutama TikTok. Algoritma platform tersebut condong mempromosikan video nan mempunyai visual menarik, musik dramatis, dan pesan nan mudah dipahami. 

Banyak pembuat kemudian membikin konten bertema “Sigma Male Mindset” nan menampilkan rutinitas produktif, disiplin, serta perjalanan menuju kesuksesan.

Konten seperti ini dianggap relevan dengan tren pengembangan diri nan sedang berkembang. Akibatnya, jutaan pengguna mulai mengenal istilah sigma dan menggunakannya dalam beragam konteks.

Tidak berakhir di sana, sigma kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya meme. Banyak pembuat menggunakan istilah tersebut secara berlebihan untuk menggambarkan aktivitas nan sebenarnya sangat biasa.

Misalnya, seseorang nan memilih duduk sendirian di kafe alias pulang lebih awal setelah bekerja bisa saja diberi narasi “sigma behavior”. Penggunaan nan berlebihan inilah nan akhirnya membikin sigma berubah menjadi bahan lawakdi media sosial.

Sigma Male vs Alpha Male, Apa Bedanya?

Sejak istilah sigma male terkenal di media sosial, banyak orang mulai membandingkannya dengan alpha male. Bahkan, tidak sedikit konten di TikTok, Instagram, maupun YouTube nan menggambarkan sigma sebagai sosok nan “lebih keren” alias “lebih unggul” dibanding alpha. 

Padahal, dugaan tersebut lebih banyak berasal dari budaya internet dan tidak mempunyai dasar ilmiah dalam psikologi.

Secara umum, kedua istilah ini sama-sama digunakan untuk menggambarkan karakter seseorang dalam kehidupan sosial. Namun, langkah keduanya berinteraksi dengan lingkungan dan memandang posisi dalam golongan digambarkan berbeda.

1. Cara Memandang Status Sosial

Perbedaan paling mencolok antara alpha male dan sigma male terletak pada langkah mereka memandang status sosial. Alpha male biasanya digambarkan sebagai sosok nan nyaman berada di posisi terdepan. Mereka senang memimpin, mempunyai pengaruh dalam kelompok, dan sering menjadi pusat perhatian. 

Dalam beragam konten internet, alpha sering digambarkan sebagai orang nan percaya diri saat berbincang di depan umum, mudah mengambil alih situasi, dan tidak ragu menunjukkan kemampuannya kepada orang lain.

Sementara itu, sigma male justru digambarkan sebagai orang nan tidak terlalu peduli dengan jenjang sosial. Mereka tidak mengejar status sebagai pemimpin, tetapi juga tidak merasa kudu mengikuti orang lain. 

Sigma lebih memilih melangkah sesuai prinsipnya sendiri tanpa merasa perlu mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Karena itulah, muncul dugaan bahwa sigma adalah “lone wolf” alias serigala penyendiri. 

Istilah nan sering digunakan di internet untuk menggambarkan seseorang nan bisa berkembang tanpa berjuntai pada kelompok.

2. Gaya Kepemimpinan

Dalam beragam narasi di media sosial, alpha male sering dikaitkan dengan style kepemimpinan nan terbuka dan aktif.

Mereka biasanya digambarkan sebagai sosok yang:

  • senang mengarahkan tim;
  • percaya diri saat berbincang di depan banyak orang;
  • nyaman mengambil keputusan penting;
  • mampu memotivasi orang lain.

Sebaliknya, sigma male lebih sering diperlihatkan sebagai pemimpin nan bekerja dari kembali layar. 

Mereka tidak selalu mau memegang kedudukan alias menjadi figur utama, tetapi tetap bisa memberikan pengaruh melalui tindakan dan hasil kerja.

Karena itu, dalam banyak cerita, sigma sering digambarkan sebagai orang nan “tidak mencari panggung, tetapi tetap bersinar.”

3. Cara Berinteraksi dengan Orang Lain

Perbedaan lainnya terlihat dari langkah mereka membangun hubungan sosial. Alpha male umumnya digambarkan mempunyai jaringan pertemanan nan luas dan aktif bersosialisasi. Mereka menikmati hubungan dengan banyak orang dan sering menjadi pusat percakapan dalam sebuah kelompok.

Sebaliknya, sigma male lebih selektif dalam menjalin hubungan. Mereka tidak anti terhadap pergaulan, tetapi condong memilih lingkaran pertemanan nan mini dan berkualitas. 

Sigma juga lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri jika memang tidak ada argumen krusial untuk berada di tengah keramaian. Namun, perlu dipahami bahwa sifat introvert tidak otomatis berfaedah sigma. Begitu pula orang nan ekstrovert belum tentu bisa disebut alpha.

4. Cara Mencapai Kesuksesan

Di internet, alpha dan sigma sering sama-sama digambarkan sebagai sosok nan sukses. Bedanya terletak pada pendekatan nan digunakan. Alpha male sering dikaitkan dengan pencapaian nan terlihat jelas oleh orang lain. Misalnya, mereka menikmati tantangan, kompetisi, serta tidak ragu menunjukkan hasil kerja alias prestasinya.

Sebaliknya, sigma male lebih sering digambarkan sebagai pribadi nan bekerja dalam tak bersuara (silent progress). Mereka konsentrasi pada proses tanpa terlalu memikirkan apakah orang lain mengetahui pencapaiannya alias tidak.

Inilah nan melahirkan ungkapan terkenal di media sosial seperti:

“Work in silence, let success make the noise.”

Kalimat tersebut kemudian menjadi salah satu semboyan nan paling sering dikaitkan dengan konsep sigma male.

5. Sigma Bukan Berarti Lebih Baik dari Alpha

Salah satu kesalahpahaman terbesar di media sosial adalah dugaan bahwa sigma male merupakan “versi nan lebih tinggi” dari alpha male. Padahal, tidak ada konsep ilmiah nan menyatakan bahwa sigma lebih unggul daripada alpha. 

Narasi tersebut muncul lantaran banyak pembuat konten menggambarkan sigma sebagai sosok nan tidak memerlukan pengakuan sehingga terlihat lebih “misterius” dan “berkelas”. 

Akibatnya, muncul persepsi bahwa menjadi sigma adalah tujuan nan kudu dicapai.

Faktanya, baik alpha maupun sigma hanyalah stereotip karakter nan berkembang di internet. Dalam kehidupan nyata, setiap orang mempunyai kepribadian nan jauh lebih kompleks. Seseorang bisa percaya diri sekaligus pendiam, bisa memimpin tetapi tetap rendah hati, alias menikmati waktu sendiri tanpa kudu mengidentifikasi diri sebagai sigma.

Jadi mana nan lebih baik? Jawabannya adalah tidak ada nan lebih baik.

Baik alpha male maupun sigma male hanyalah gambaran karakter nan terkenal dalam budaya internet. Keduanya bukan kategori resmi dalam ilmu jiwa dan tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kualitas seseorang.

Daripada sibuk menentukan apakah diri kita termasuk alpha alias sigma, bakal lebih berfaedah jika mengambil nilai positif dari keduanya. Misalnya, belajar menjadi pribadi nan percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, bisa bekerja sama, dan terus mengembangkan diri. 

Pada akhirnya, karakter nan kuat bukan ditentukan oleh label nan sedang viral, melainkan oleh sikap, kebiasaan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah Sigma Male Selalu Positif?

Tidak selalu.

Beberapa nilai nan sering dikaitkan dengan sigma, seperti disiplin, mandiri, dan konsentrasi pada tujuan, memang dapat menjadi inspirasi. 

Namun, sebagian konten di internet juga menggambarkan sigma secara berlebihan, misalnya dengan menolak semua corak hubungan sosial alias menganggap meminta support sebagai kelemahan.

Padahal, dalam kehidupan nyata, keahlian bekerja sama, berkomunikasi, dan membangun hubungan nan sehat tetap menjadi bagian krusial dari perkembangan seseorang.

Karena itu, bakal lebih bijak jika Grameds mengambil sisi positif dari konsep sigma, seperti semangat belajar, tanggung jawab, dan konsistensi, tanpa kudu mengikuti semua narasi nan beredar di media sosial.

 Mengatasi Tantangan Terberat dengan Penuh Keberanian dan Percaya Diri

Kesimpulan

Pada akhirnya, sigma male adalah istilah nan lahir dari budaya internet untuk menggambarkan sosok nan mandiri, percaya diri, konsentrasi pada tujuan, dan tidak terlalu berjuntai pada pengesahan dari orang lain. 

Meski sering dikaitkan dengan karakter nan tenang, produktif, dan mempunyai pola pikir nan kuat, konsep sigma male bukanlah pengelompokkan kepribadian nan diakui dalam bumi psikologi. Istilah ini berkembang melalui forum internet, media sosial, hingga beragam konten viral nan kemudian membentuk persepsi baru di kalangan pengguna, terutama Gen Z.

Nah, Grameds, memahami kejadian sigma male tidak berfaedah kita kudu memberi label pada diri sendiri alias orang lain sebagai alpha, beta, maupun sigma. Justru, nan lebih krusial adalah mengambil nilai-nilai positif nan sering dikaitkan dengan konsep tersebut, seperti disiplin, kemandirian, konsistensi, dan semangat untuk terus berkembang. 

Di tengah derasnya tren media sosial, bersikap kritis terhadap info nan beredar juga menjadi perihal nan tidak kalah penting. 

Jika Grameds mau mempelajari lebih banyak tentang psikologi, pengembangan diri, maupun beragam kejadian budaya terkenal nan sedang viral, jangan lupa kunjungi Gramedia.com untuk menemukan buku-buku dan tulisan inspiratif nan dapat memperluas wawasan.

Untuk menemukan lebih banyak kitab tentang psikologi, pengembangan diri, dan budaya populer, jangan lupa kunjungi Gramedia.com dan temukan referensi nan dapat membantu memperluas wawasan serta mendukung perjalanan belajar Grameds.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia