Siapa "Super Revolusioner" Iran, Faksi Garis Keras yang Tentang AS?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok garis keras di Iran nan dikenal sebagai "Jebhe-ye Paydari" alias Front Ketahanan, sekarang tengah gencar melakukan upaya sabotase terhadap potensi kesepakatan tenteram antara Teheran dan Washington. Gerakan ini muncul di tengah tahap kritis negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, nan sekaligus memperkuat klaim Presiden Donald Trump mengenai adanya perpecahan internal di dalam Republik Islam tersebut.

Mengutip CNN, golongan nan dijuluki sebagai "Super Revolusioner" ini mempunyai pandangan nan serupa dengan Trump bahwa kesepakatan nuklir 2015 adalah sebuah kesalahan, meski dengan argumen nan berbeda. Posisi mereka dianggap sangat memusuhi Barat, apalagi melampaui standar konservatif garis keras Iran pada umumnya, sehingga upaya rezim untuk meredam mereka sejauh ini menemui kegagalan.

"Mereka memandang perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai perjuangan abadi. Mereka percaya pada negara Syiah nan kudu bersambung hingga akhir era dan sangat ekstrem dalam perihal ideologi kepercayaan tersebut," kata Hamidreza Azizi, seorang peneliti tamu di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan.

Kemunculan golongan ini sebagai bunyi paling vokal nan menentang rekonsiliasi terjadi di tengah perebutan kekuasaan pasca-meninggalnya Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Meskipun Pemimpin Agung nan baru, Mojtaba Khamenei, telah mengeluarkan pernyataan nan menunjukkan persatuan, golongan Paydari terus menabur perpecahan dengan menuduh para negosiator tidak setia kepada Republik Islam dan melanggar garis merah nan ditetapkan mengenai program nuklir.

Suara Radikal dari Pusat Kekuasaan

Kelompok ini dianggap sangat radikal apalagi oleh kalangan konservatif mapan di Iran, namun personil Jebhe-ye Paydari nyatanya tertanam di pusat-pusat kekuasaan nan berpengaruh. Faksi ini didukung oleh tokoh-tokoh senior media, politisi papan atas seperti Saeed Jalili nan meraih 13 juta bunyi pada pemilu 2024, hingga otoritas keagamaan nan mempunyai pengaruh besar.

Dalam sebuah tulisan di Raja News nan mewakili Front Paydari, mereka mengkritik keras keterbukaan Teheran untuk berbincang dengan pejabat AS. Mereka menilai bahwa pembicaraan tersebut adalah corak kapitulasi alias menyerah kepada musuh nan telah membunuh pemimpin mereka.

"Mereka (AS) menyadari bahwa membunuh pemimpin, komandan, dan orang-orang terkasih kita tidak menyantap biaya apa pun bagi mereka. Mereka memahami bahwa meskipun mereka menyyahidkan Imam kita (Ali Khamenei), tetap ada golongan di sini nan bersedia bernegosiasi, bersalaman dengan Witkoff, Vance, dan Kushner, serta tersenyum pada pembunuh Imam kita nan syahid," tulis tulisan tersebut.

Ketegangan internal ini juga terlihat di parlemen, di mana tujuh personil legislator nan berafiliasi dengan golongan tersebut menolak menandatangani pernyataan support bagi tim negosiasi. Salah satu personil parlemen, Mahmoud Nabavian, nan sempat ikut dalam tim negosiasi di Islamabad, justru berbalik menyerang dengan menyebut negosiasi nuklir sebagai kesalahan strategis.

"Mengingat sejarah itikad jelek Amerika dan kehadiran para pendukung JCPOA (perjanjian nuklir 2015) nan memalukan berbareng Bapak Ghalibaf dalam negosiasi, tidak ada angan untuk negosiasi dan kesepakatan nan menguntungkan bagi Iran," tulis Nabavian melalui akun X miliknya.

Pusat Kekuatan Baru

Menyusul pengeboman oleh Amerika Serikat dan Israel nan dimulai pada akhir Februari, golongan ini sukses membentuk pusat kekuatan baru melalui tindakan unjuk rasa besar-besaran di jalanan Teheran. Ribuan pendukung setia Republik Islam, termasuk personil Paydari, turun ke jalan untuk menekan kepemimpinan baru negara tersebut agar tidak tunduk pada tekanan Barat.

Pemimpin spiritual mereka saat ini, Ayatollah Mahdi Mirbaqiri, dikenal mempunyai pandangan apokaliptik nan mau mempercepat akhir era melalui pertempuran luas dengan Barat. Kelompok ini juga sukses merangkul generasi muda Iran nan semakin tidak kenal kompromi setelah berulang kali menghadapi serangan militer dari luar.

"Kelompok Paydari sigap memanfaatkan kaum muda nan berorientasi ideologis nan sekarang berada di jalanan. Mereka mencoba merepresentasikan diri mereka sebagai manifestasi dari pendapat nan diperkenalkan oleh Ali Khamenei untuk menciptakan generasi revolusioner muda nan saleh nan bisa meneruskan warisan Republik Islam," jelas Azizi.

Semakin Terisolasi

Meskipun bunyi mereka sangat bising, upaya golongan ini untuk memecah belah bangsa justru mulai menjadi bumerang. Berbagai spektrum politik di Iran, termasuk para rival politik nan biasanya berseteru, sekarang mulai berasosiasi untuk mengisolasi faksi radikal ini lantaran dianggap membantu narasi Israel dan AS bahwa Iran sedang dalam kondisi kacau secara internal.

"Tampaknya ini betul-betul menjadi bumerang bagi mereka. Mereka membikin banyak kegaduhan dan dianggap telah membantu Israel serta AS dalam menggambarkan Iran terjebak dalam perpecahan internal nan besar, namun golongan radikal pinggiran ini mendapatkan perlawanan dari segala arah dan menjadi semakin terisolasi," ungkap Mohammad Ali Shabani, penyunting Amwaj.media.

Shabani beranggapan bahwa pada dasarnya kaum garis keras tidak sepenuhnya menolak kesepakatan dengan AS. Namun, mereka mau menjadi pihak nan merundingkan kesepakatan tersebut demi mendapatkan pengaruh dan menyusun kembali struktur kekuasaan di dalam negeri.

"Mereka mengatakan jika kita terus berjuang, kita bisa memaksa AS untuk menyerah dan kemudian mendikte syarat-syaratnya. Tidak ada seorang pun di Iran nan menentang kesepakatan. Ini adalah tentang strategi gimana mencapai kesepakatan, dan siapa nan berkuasa membuatnya," pungkas Shabani.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News