Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai bentrok antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran tidak menghasilkan pemenang mutlak. Meski Washington unggul secara militer, Teheran dinilai bisa mencetak untung strategis di luar medan perang.
Dalam analisisnya, master keamanan CSIS Daniel Byman menyebut keberhasilan AS dan Israel terlihat jelas dari sisi taktis. Serangan udara intensif sukses melemahkan keahlian militer Iran secara signifikan, termasuk merusak akomodasi produksi senjata, menekan serangan rudal hingga sekitar 90%, serta menargetkan elite militer Teheran.
Namun, capaian tersebut belum cukup untuk memenuhi tujuan besar AS. Termasuk menghentikan program nuklir Iran dan mendorong perubahan rezim.
"Iran memang terpukul, tetapi tidak kalah secara strategis," tulis Byman dalam analisisnya, dikutip Rabu (8/4/2026).
CSIS menilai strategi Iran sejak awal bukan untuk memenangkan perang secara konvensional, melainkan memperkuat dan meningkatkan biaya bentrok bagi lawan. Pendekatan ini dinilai sukses dijalankan Teheran.
Salah satu akibat paling signifikan adalah gangguan di Selat Hormuz nan memicu lonjakan nilai daya global. Kenaikan nilai minyak, gas, dan komoditas krusial lainnya memberi tekanan besar pada ekonomi global, termasuk sekutu AS.
Di dalam negeri AS sendiri, lonjakan nilai daya menjadi beban politik bagi Presiden Donald Trump. Sementara di tingkat global, kondisi ini meningkatkan akibat resesi dan memperburuk persepsi terhadap Washington.
CSIS juga menyoroti akibat jangka panjang terhadap posisi geopolitik AS. Penggunaan amunisi canggih dalam jumlah besar dinilai menguras stok militer, sehingga berpotensi melemahkan kesiapan AS di area lain seperti Eropa dan Asia.
Selain itu, tekanan ekonomi dunia akibat perang berisiko memicu sentimen anti-AS di beragam negara. Hal ini dapat menyulitkan Washington dalam membangun koalisi menghadapi rival strategis seperti China dan Rusia.
Meski demikian, Iran juga tidak lepas dari kerugian besar. Kemampuan militernya terdegradasi, jaringan proksinya melemah, dan posisinya di area berpotensi tergerus akibat memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk.
CSIS menyimpulkan bahwa bentrok ini menghasilkan paradoks: AS unggul secara militer di medan perang, tetapi Iran sukses menciptakan tekanan strategis nan luas.
Dengan demikian, menurut CSIS, perang ini bukan soal siapa nan menang alias kalah secara mutlak. Melainkan gimana kedua pihak menanggung akibat besar, baik secara militer, ekonomi, maupun geopolitik.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·