Seskab Teddy Klarifikasi soal Presiden Prabowo Sering ke Luar Negeri

Sedang Trending 8 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya merespons sorotan dari Eks Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia ialah Dino Patti Djalal. Hal ini mengenai tingginya gelombang kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat kepala negara.

Teddy mengaku Dino merupakan seorang diplomat hebat. Pemerintah, tegasnya, mendengar masukan dari Dino tersebut.

"Sebelumnya, terima kasih atas masukan nan telah diberikan," kata Teddy melalui akun IG Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (1/6/2026).

"Sangat jeli dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walaupun hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," tambahnya.

Teddy pun menjawab mengenai biaya perjalanan dinas Prabowo ke luar negeri. Menurutnya biaya tersebut sepenuhnya ditanggung oleh biaya pribadi Presiden.

"Jadi nan pertama, masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya nan telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," jelasnya.

Terkait jumlah rombongan nan mendampingi Presiden, dia pun menjelaskan jumlahnya sudah jauh berkurang dari masa pemerintahan sebelumnya. Bahkan hanya 50 hingga 60 orang, dari sebelumnya nan mencapai 120 orang.

"Kemudian nan kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Berkurang lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi jika dulu, itu sekaligus luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, era Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," ujarnya.

Di kesempatan sama, Teddy juga menjawab soal agenda kunjungan Prabowo ke luar negeri. Ia menyebut mengungkapkan agenda kunjungan Presiden didasarkan pada kondisi dunia nan dinamis.

"Ketiga, agenda kudu satu tahun sebelumnya. Jadi gini, perkembangan bumi dunia itu sangat dinamis, hari per hari. Nah, jadi ada agenda tahunan dan ada agenda nan mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," ujar Teddy.

Terkait protokoler dan gelombang seringnya Prabowo ke luar negeri, dia menjelaskan bahwa saat Prabowo menjadi Presiden, kondisi dunia sedang dilanda ketidakpastian. Sehingga dalam keadaan tersebut, presiden kudu menjalin hubungan lebih dekat antar pemimpin dunia.

"Terkait masalah protokoler dan gelombang luar negeri dalam satu separuh tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru nan mulai menjabat saat bumi sedang krisis. Sebelumnya ada bentrok di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat Arab Saudi, Qatar, Bahrain, UAE dan lain sebagainya. Jadi setiap pemimpin tentunya kudu bangun hubungan nan dekat antar pemimpin dunia, dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak. Kita kudu panen hubungan nan baik. Lalu jika suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," terang Teddy.

Dengan menjalin hubungan baik antar negara, kata Teddy, maka RI dapat melahirkan diplomasi nan baik. Teddy juga membantah kunjungan Prabowo dilakukan hanya untuk aktivitas seremonial.

"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi salah besar jika dibilang hanya gagah-gagahan secara ponial," tegasnya.


BBM, Haji hingga Palestina

Menurut Teddy, hasil dari kunjungan Presiden Prabowo ke beberapa luar negeri, sudah menghasilkan capaian nan cukup baik bagi ekonomi Indonesia. Terutama mengenai dengan agunan kondusif dari kenaikan nilai BBM.

"Jadi kita kudu lihat apa nan sudah dicapai dalam satu separuh tahun terakhir ini. nan pertama, Indonesia masuk BRICS," ujarnya.

"Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah bentrok krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, nilai BBM subsidi tidak naik, stok pangan aman. Kemudian nan kedua, tarif 0% di Uni Eropa. Ada 25 negara di situ, dan ini perjanjian nan sudah diurus belasan tahun nan lalu. Tapi kapan tercapai? Ya era Presiden Prabowo, tepatnya tahun 2025 lalu," jelasnya lagi.

Selain itu, hasil lawatan ini juga membikin Indonesia mendapat investasi dari luar negeri sekitar Rp2.430 triliun dan beberapa hasil kerja sama Indonesia antara negara lainnya.

"Total investasi nan masuk dalam satu separuh tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu info dari BKPM. Kemudian contoh konkret lagi nih. Bulan lalu, Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan, kembali, langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun. Selanjutnya, sekarang kita punya perangkat pertahanan nan kuat sekarang, dan itu dari banyak sekali negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Eropa, banyak negara.

Dia juga menyinggung hasil lawatan ini juga berakibat pada masa ibadah Haji 2026 bagi jemaah dari Indonesia, di mana tidak ada kendala-kendala nan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya

"Juga ada program ibadah haji tahun lalu, dan khususnya tahun ini itu lancar. Nyaris tidak ada kendala-kendala nan signifikan. Indonesia adalah negara satu-satunya nan punya perkampungan haji di Arab Saudi, dan pemerintah Arab Saudi sendiri mengubah undang-undangnya agar suatu negara mempunyai lahan di situ untuk digunakan oleh jamaah haji." ungkapnya.

Teddy juga menjelaskan hasil diplomasi berakibat positif ke masyarakat Palestina Di mana banyak support nan dikirim dari Indonesia ke Palestina.

"Presiden Prabowo betul-betul berkedudukan aktif di Palestina. Apa buktinya? Pertama, kita ada drop-off logistik dari udara. Sudah beberapa kali. Tidak semua negara bisa. Kenapa? Itu kudu ada diplomasi dengan negara-negara nan wilayah udaranya dilewati oleh pesawat. Kemudian nan kedua, kita kirim kapal rumah sakit ke Palestina. Kita juga sudah menyekolahkan anak-anak Palestina di universitas di Indonesia," ucapnya lagi.

"Belum lama ini, ada WNI nan diamankan pihak Israel di laut bebas. Dan lewat diplomasi dari Menteri Luar Negeri dan teman-teman Kemlu selang beberapa hari kembalikan ke Indonesia. Jadi ini lewat diplomasi nan baik diberitakan maupun nan tertutup. Ingat nan tadi saya sampaikan adalah hasil konkret nyata satu separuh tahun terakhir. Semua itu adalah diplomasi nan dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat beragam macam cara," terangnya lagi.

Terakhir, Teddy menjawab mengenai pertemuan dengan kepala negara lain, di mana pertemuan tersebut nan menentukan adalah Prabowo dan atas saran dari Menteri Luar Negeri.

"Terkait masalah pertemuan dengan kepala negara lain di event-event tertentu, nan menentukan adalah Bapak Presiden dan juga saran dari Menteri Luar Negeri. Beliu-lah nan mengetahui mana nan prioritas, mana pertemuan nan kudu diutamakan, mana pertemuan nan bisa langsung ataupun cukup menggunakan telepon," ujarnya.

"Mana pertemuan nan perlu diberitakan, mana nan tidak diberitakan. Dan saya rasa semua diplomat dahsyat tahu itu. Jadi kurang elok rasanya jika itu tetap dipermasalahkan. Jadi ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tapi jangan sampai kita mengaburkan kebenaran tentang semua hasil nan telah kita capai." pungkasnya.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News