Sering Membentak Anak Sama Bahayanya dengan Kekerasan Fisik, Moms!

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi ibu menakut-nakuti anak Foto: Shutterstock

Banyak orang tua mungkin menganggap bentakan, hinaan, alias kata-kata nan merendahkan anak sebagai corak disiplin nan wajar. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa luka akibat kekerasan verbal bisa memperkuat jauh lebih lama daripada nan terlihat.

Sebuah studi nan dipimpin oleh Liverpool John Moores University dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open menemukan bahwa kekerasan verbal pada masa kanak-kanak mempunyai akibat terhadap kesehatan mental saat dewasa nan nyaris sama besarnya dengan kekerasan fisik.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa meski kasus kekerasan bentuk terhadap anak condong menurun, kekerasan verbal justru semakin meningkat.

Kekerasan Verbal dan Fisik Sama-sama Berdampak pada Kesehatan Mental Anak di Masa Depan

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: myboys.me/Shutterstock

Penelitian ini menganalisis info lebih dari 20.000 orang dewasa di Inggris dan Wales nan lahir sejak tahun 1950-an. Para peneliti menelusuri pengalaman masa mini mereka, termasuk apakah pernah mengalami kekerasan bentuk maupun kekerasan verbal, lampau mengaitkannya dengan kondisi kesehatan mental saat dewasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa baik kekerasan bentuk maupun kekerasan verbal sama-sama meningkatkan akibat seseorang mengalami kesejahteraan mental nan rendah ketika dewasa.

Orang nan pernah mengalami kekerasan bentuk saat mini mempunyai akibat sekitar 52% lebih tinggi mengalami kesehatan mental nan buruk. Sementara itu, mereka nan mengalami kekerasan verbal mempunyai akibat 64% lebih tinggi.

Risiko tersebut apalagi menjadi lebih besar andaikan seorang anak mengalami kedua corak kekerasan sekaligus.

Kekerasan Verbal Bisa Jadi Sumber Stres Beracun bagi Anak

Para peneliti menjelaskan bahwa kekerasan verbal bukan sekadar menyakiti emosi anak sesaat.

Sama seperti kekerasan fisik, kekerasan verbal dapat menjadi sumber toxic stress alias stres berbisa nan memengaruhi perkembangan otak dan sistem biologis anak. Dampaknya dapat berjalan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut terjadi.

Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat meningkatkan risiko:

* Gangguan kecemasan.

* Depresi.

* Penyalahgunaan alkohol alias narkoba.

* Perilaku berisiko.

* Perilaku garang alias kekerasan.

* Penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Tidak Terlihat, tetapi Dampaknya Nyata

Salah satu argumen kekerasan verbal sering luput dari perhatian adalah lantaran tidak meninggalkan jejak fisik.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kehidupan sosial dan emosional seseorang sangat nyata.

Misalnya, dibandingkan orang nan tidak pernah mengalami kekerasan, mereka nan mengalami kekerasan verbal saat mini lebih sering mengaku jarang merasa dekat dengan orang lain ketika dewasa. Mereka juga lebih berisiko merasa tidak optimistis, susah rileks, serta kurang bisa menghadapi masalah sehari-hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan