Gaza.(Al Jazeera)
OTORITAS kesehatan di Jalur Gaza, Palestina, melaporkan serangan udara Israel pada Sabtu (20/6) menewaskan lima orang, termasuk empat personil dari satu family nan sama. Insiden tragis ini terjadi di tengah klaim gencatan senjata nan oleh PBB disebut sebagai ilusi mematikan lantaran pertumpahan darah nan terus berlanjut.
Serangan udara semalam menghantam gedung apartemen di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Menurut badan pertahanan sipil setempat, serangan tersebut menewaskan family al-Safadi nan terdiri dari suami, istri, dan dua putri mereka. Selain korban jiwa, 12 lainnya dilaporkan luka-luka.
Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza mengonfirmasi telah menerima empat jenazah personil family al-Safadi, termasuk dua anak. Nael al-Safadi, kerabat korban, menyatakan kepedihannya atas serangan nan menyasar penduduk sipil tersebut.
"Sekitar jam 2 pagi, sepupu-sepupu saya sedang tidur ketika rudal menghantam mereka. Mereka tidak mempunyai hubungan dengan Hamas, mereka hanya anak-anak nan tidak bersalah," ujar Nael kepada AFP.
Kesaksian Korban:
"Saya seorang penduduk sipil. Demi Tuhan, saya tidak pernah membawa senjata. Apa salah saya dalam perihal ini?" ujar Mohammad al-Safadi, salah satu personil family nan selamat dari reruntuhan apartemennya.
UNICEF: Gencatan Senjata nan Kejam
Di Jenewa, UNICEF mengeluarkan kecaman keras terhadap situasi di Gaza. Juru bicara UNICEF, James Elder, menyebut gencatan senjata nan dideklarasikan sejak Oktober 2025 sebagai formalitas nan tidak memberikan perlindungan nyata bagi penduduk sipil, khususnya anak-anak.
Data menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata diumumkan delapan bulan lalu, setidaknya 265 anak-anak tewas di Gaza. "Selama periode nan semestinya ditentukan oleh pengendalian diri dan perlindungan, rata-rata satu anak terbunuh setiap hari," tegas Elder.
Elder menekankan bahwa anak-anak tersebut tidak tewas di area perang aktif, melainkan di tempat-tempat nan semestinya aman. "Mereka dibunuh di rumah mereka, sekolah, saat bermain sepak bola, alias saat memancing. Mereka ditembak, dibom, dan diserang oleh quadcopter," tambahnya.
Data Korban Terus Meningkat
Berdasarkan info kementerian kesehatan di Gaza nan dianggap andal oleh PBB, setidaknya 1.012 penduduk Palestina tewas sejak gencatan senjata mulai bertindak pada 10 Oktober tahun lalu. Di sisi lain, militer Israel melaporkan lima kematian di jejeran mereka dalam periode nan sama.
Selain korban jiwa, lebih dari 400 anak dilaporkan menderita luka parah, banyak di antaranya mengalami luka katastropik nan memerlukan pemindahan medis segera. Namun, pembatasan akses obat-obatan esensial oleh pihak Israel membikin akibat jangkitan dan amputasi lebih lanjut meningkat bagi anak-anak nan terluka.
Hingga buletin ini diturunkan, militer Israel belum memberikan tanggapan resmi mengenai dua kejadian serangan terbaru di Kota Gaza tersebut. Sementara itu, kemajuan menuju penghentian perang secara permanen tetap buntu, meninggalkan penduduk Gaza dalam siklus kekerasan nan tidak kunjung usai. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·