Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan militer Israel kembali menelan korban sipil di selatan Lebanon. Seorang bayi wanita dilaporkan tewas saat keluarganya tengah menggelar pemakaman sang ayah di Desa Srifa, Rabu lalu.
Aline Saeed (7), nan mengalami luka serius, nyaris tidak selamat dari serangan tersebut. Ia berada di rumah family untuk menghadiri pemakaman ayahnya ketika serangan baru menghantam, menewaskan adik perempuannya nan tetap balita serta sejumlah kerabat lain.
Serangan itu terjadi bertepatan dengan hari pertama gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, nan sempat memunculkan angan meredanya bentrok di Lebanon. Namun, alih-alih mereda, serangan justru meningkat dan menewaskan lebih dari 350 orang di beragam wilayah.
"Mereka bilang itu gencatan senjata. Seperti semua orang ini, kami pergi ke desa. Kami pergi ke peti meninggal untuk membaca angan dan melangkah pulang... tiba-tiba kami merasa seperti angin besar menerjang kami," ujar Nasser Saeed (64), kakek Aline nan selamat dari serangan tersebut, seperti dikutip Reuters, Senin (13/4/2026).
Pada Minggu, family kembali kudu menghadapi duka saat mengambil jenazah para korban di kota pelabuhan Tyre. Salah satu peti berukuran mini berisi Taleen, adik Aline nan belum genap berumur dua tahun.
Militer Israel menyatakan belum mempunyai cukup info untuk menyelidiki kejadian tersebut. Mereka juga menegaskan telah mengambil langkah untuk meminimalkan korban sipil dalam operasi melawan golongan Hizbullah.
Konflik terbaru di Lebanon pecah sejak 2 Maret, ketika Hizbullah melancarkan serangan ke posisi Israel sebagai corak support terhadap Iran. Sejak saat itu, operasi militer Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk 165 anak-anak dan nyaris 250 perempuan.
Dalam perkembangan terpisah, Paus Leo menyerukan penghentian kekerasan. Dalam pidato mingguannya di Lapangan Santo Petrus, dia menekankan pentingnya perlindungan penduduk sipil.
"Ada tanggungjawab moral untuk melindungi masyarakat sipil dari akibat mengerikan perang," ujarnya.
Nasser Saeed mengecam keras serangan nan menewaskan cucunya. "Ini bukan kemanusiaan. Ini adalah kejahatan perang," katanya. Ia juga mempertanyakan respons bumi internasional terhadap korban sipil di Lebanon.
Taleen sendiri lahir pada 2024 di tengah bentrok nan terus berlangsung. "Dia lahir di tengah perang dan meninggal di tengah perang," ujar Mohammed Nazzal, kakek dari pihak ibu.
Sementara itu, pemboman di Lebanon dilaporkan tetap berlanjut. Hampir 100 orang tewas dalam serangan pada Sabtu lalu. Kepala operasi darurat Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre, Dr. Abbas Attiyeh, mengatakan lonjakan korban terjadi dalam waktu singkat.
"Tantangan nan kami hadapi sekarang adalah banyaknya korban luka nan datang bersamaan, dalam waktu 30 menit alias satu jam nan sama," ujarnya.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·