Seminari di Ujung Perhatian

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi seminari, pondok calon Imam kepercayaan Katolik. Foto: hermanthos/Shutterstock

Katolik mempunyai satu sekolah keagamaan nan diperuntukkan bagi pembentukan/pembinaan/pendidikan pemimpin (pastor) nan disebut seminari. Regulasi pendidikan seminari terdapat dalam Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici).

Para seminaris (calon pastor) kudu menempuh pendidikan di seminari untuk menjadi pastor selama 10 hingga 12 tahun sejak tamat SMP alias 8 tahun sejak tamat SMA. Selama itu, calon-calon pastor memperoleh mata pelajaran khusus, seperti Kitab Suci, Liturgi, Sejarah Gereja, serta pembinaan kepribadian dan spiritualitas, maupun bahasa Latin selain mata pelajaran umum.

Selain belajar secara formal, para calon pastor kudu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan lain nan bakal menjadi langkah hidup mereka ke depannya, seperti: ibadat harian (brevir) pada pagi (laudes), ibadat siang (sexta), ibadat referensi (Officium Lectionis), ibadat sore (vesper), ibadat malam (completorium); merayakan Misa setiap hari; angan Rosario; angan kerahiman Ilahi, dan lain-lain.

Mereka tidak hanya melaksanakan aktivitas liturgi, tetapi juga melakukan aktivitas lain, seperti bekerja (opera magna), berbaur dengan umat (live in), dan lain sebagainya.

Saya merupakan alumnus dari seminari. Saya mengenyam pendidikan di seminari selama 9 tahun: 4 tahun setingkat SMA dan 5 tahun untuk tingkat lanjutan. Selama 9 tahun, saya tinggal di seminari nan berbentuk asrama. Seminari mempunyai 2 sistem pembelajaran formal, seperti pada umumnya SMA maupun perguruan tinggi nan nantinya menerima piagam nan diakui pemerintah dan proses pembelajaran unik nan juga mempunyai rapor untuk menentukan kepantasan siswa untuk menjadi pastor.

Ilustrasi Seminari. Foto: IMG visuals icons/Shutterstock

Sebagai lembaga pendidikan, seminari tidak hanya bekerja membentuk pemimpin rohani, tetapi juga mengajarkan beragam aspek kehidupan manusia secara menyeluruh, seperti intelektual, moral, spiritual, dan sosial.

Para seminaris dibina agar menjadi orang nan matang, mempunyai kejujuran, dan akhirnya bisa melayani masyarakat secara lebih luas. Dalam konteks ini, seminari sebenarnya mempunyai peran dalam bagian pendidikan nan sesuai dengan tujuan nasional, ialah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter manusia nan beragama dan beradab mulia.

Namun, posisi seminari dalam sistem pendidikan nasional sering kali tidak terang. Apakah dia dianggap sebagai lembaga pendidikan formal, non-formal, alias hanya sebagai lembaga internal keagamaan? Ketidakjelasan ini memengaruhi beragam hal, seperti pengakuan terhadap ijazah, akses ke support dari pemerintah, dan izin nan mengaturnya. Banyak seminari kudu berupaya sendiri agar lulusannya tetap diakui secara akademik dengan tingkat nan sama seperti lembaga pendidikan lainnya.

Dalam praktiknya, banyak seminari nan kudu menggabungkan sistem pendidikan mereka dengan kurikulum nasional agar bisa mendapatkan pengakuan resmi. Upaya ini sungguh memerlukan beragam sumber daya nan banyak, mulai dari tenaga pengajar, sarana prasarana, hingga urusan administrasi. Meski ada keterbatasan, seminari tetap berupaya menjaga identitas dan karakter khasnya sendiri, nan berfokus pada pembinaan karakter dan spiritualitas.

Ilustrasi salib. Foto: Shutterstock

Seminari menghadapi tantangan dalam perihal persepsi publik. Tidak semua orang memahami dengan jelas tugas dan peran seminari. Ada orang nan berpikir bahwa seminari hanya menghasilkan pemimpin kepercayaan dan tidak mengenai dengan kehidupan sosial nan lebih luas. Padahal, banyak lulusan seminari—yang meskipun tidak menjadi pemimpin (pastor)—tetap memberikan kontribusi besar di beragam bidang, seperti pendidikan, sosial, dan kehidupan masyarakat.

Dilema antara pengakuan dan pengabaian ini pada akhirnya menggambarkan masalah nan lebih dalam, ialah gimana pemerintah menilai pendidikan kepercayaan dalam konteks keragaman.

Jika pendidikan keagamaan hanya dilihat sebagai urusan pribadi organisasi tertentu, tidak mengherankan jika perhatiannya tidak terlalu luas. Namun, jika dilihat sebagai bagian krusial dari pengembangan manusia nan utuh, seminari semestinya mempunyai posisi nan lebih jelas dan mendapatkan support nan lebih kuat.

Seminari bukan hanya tempat belajar agama, melainkan juga tempat untuk membentuk nilai, karakter, dan kemanusiaan. Di bumi nan semakin rumit dan penuh masalah moral, peran ini justru semakin penting. Oleh lantaran itu, saatnya seminari tidak lagi dibiarkan di pinggiran, tetapi diakui dan didukung sebagai bagian krusial dalam upaya membangun bangsa nan beradab.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan