Semangkuk Kenangan dari Tanah Seberang

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Semangkuk Kenangan dari Tanah Seberang Salah satu tenan peserta Festival Kuliner Serpong 2026 di Summarecon Mall Serpong, Tangerang Selatan,(MI/Gana Buana)

EMBUN tipis membasahi sisi mangkuk merah saat seporsi es kacang merah disodorkan. Es serut menutupi kacang-kacang merah berukuran besar, sementara kuah manis perlahan meresap di sela-selanya.

Dinda Prameswari, penduduk Pamulang, Tangerang Selatan, mengambil satu suapan pertama. Rasa dingin menyentuh lidahnya, disusul rasa manis nan lembut dan tekstur kacang merah nan empuk. Ia terdiam sejenak.

Sajian itu mengingatkannya pada tanah kelahirannya, Palembang.

“Sudah lama saya mau makan es kacang merah nan betul-betul rasanya seperti di Palembang. Begitu dicoba, langsung ingat masa mini dulu. Dingin, manis, kacangnya lembut, dan ada rasa unik nan susah dijelaskan,” kata Dinda saat menikmati Es Kacang Merah Asuk Koboy di Festival Kuliner Serpong 2026, pekan lalu.

Bagi sebagian orang, es kacang merah mungkin hanya hidangan penutup. Namun bagi Dinda, semangkuk sajian tersebut membawa kembali kenangan tentang kampung halaman, jajanan nan dulu mudah ditemui, serta momen sederhana berbareng keluarga.

“Tempat ini membawa pulang kenangan,” ujarnya.

Rasa nan Dijaga

Di kembali sajian nan dinikmati Dinda itu, tersimpan perjalanan upaya family nan telah memperkuat selama 37 tahun.

Riyanto, generasi kedua pemilik Es Kacang Merah Asuk Koboy, mengatakan upaya tersebut dirintis ayahnya, Arifin Tjhin, pada 1989. Saat itu, Arifin belum mempunyai toko dan tetap menjajakan es kacang merah menggunakan gerobak dari rumah ke rumah di Palembang.

“Awalnya bapak saya jualan sejak tahun 1989, tetap pakai gerobak. Keliling dari rumah ke rumah menawarkan es kacang merah,” kata Riyanto.

Perlahan, upaya tersebut berkembang. Dari gerobak keliling, Asuk Koboy kemudian mempunyai tempat upaya tetap di Jalan Slamet Riyadi Nomor 374, Sebelas Hilir, Palembang.

Nama Asuk Koboy sendiri berasal dari sosok Arifin nan dikenal pengguna dengan karakter unik mengenakan topi koboi. Di Palembang, dia juga biasa dipanggil “Asuk”, sapaan untuk om nan digunakan masyarakat setempat.

Meski hanya sajian sederhana, proses pembuatan es kacang merah memerlukan waktu panjang. Riyanto mengatakan kacang merah kudu diolah selama tiga hari dua malam agar menghasilkan tekstur lembut dengan rasa manis nan meresap.

“Kita produksinya minimal tiga hari dua malam untuk kacang merahnya. Jadi tidak bisa langsung jadi,” katanya.

Proses panjang tersebut menjadi bagian nan dipertahankan hingga kini. Kacang merah berukuran besar tetap menjadi karakter utama sajian Asuk Koboy nan membikin banyak pengguna kembali mencobanya.

Sumatera dalam Satu Ruang

Es Kacang Merah Asuk Koboy menjadi salah satu kuliner nan datang dalam Festival Kuliner Serpong 2026 di Summarecon Mall Serpong. Memasuki penyelenggaraan ke-14, pagelaran tahun ini mengangkat tema Satu Jalur Seribu Rasa - Lintas Sumatera.

Center Director Summarecon Mall Serpong Finnah Ngadio mengatakan, pagelaran berjalan pada 13 Agustus hingga 13 September 2026 dengan menghadirkan kuliner unik dari beragam wilayah di Sumatera, mulai dari Aceh, Medan, Padang, Palembang hingga Lampung.

Sebanyak 13 tenant mendapat label “Autentik” lantaran menghadirkan makanan unik nan berasal dari wilayah asalnya. Label tersebut menjadi penanda bahwa setiap sajian membawa cerita dan tradisi dari wilayah masing-masing.

“Tema ini menjadi rayuan untuk lebih mengenal dan mencintai kekayaan kuliner Nusantara, khususnya kuliner Sumatera,” kata Finnah.

Selain Es Kacang Merah Asuk Koboy, visitor juga dapat menemukan Pempek Beringin Palembang, Mie Celor 26 Ilir, Bakmi Aloi, serta Keripik Balado dan Rendang Christine Hakim dari Padang.

Melalui pagelaran tersebut, beragam cita rasa Sumatera datang dalam satu ruang. Pengunjung dapat mengenal makanan unik dari beragam wilayah tanpa kudu melakukan perjalanan jauh.

Tradisi nan Terus Bergerak

Selain kuliner Palembang, salah satu tradisi Minangkabau juga datang melalui teh talua.

Minuman berbahan dasar teh dan telur tersebut disajikan dengan lapisan busa lembut di bagian atas. Telur dikocok hingga mengembang sebelum dicampurkan dengan teh, menghasilkan tekstur creamy nan menjadi karakter khasnya.

Teh talua sejak lama dikenal sebagai minuman masyarakat Minangkabau. Dahulu, minuman ini dikonsumsi untuk membantu menambah tenaga sebelum beraktivitas.

“Dulu orang-orang tua minum teh talua untuk menambah tenaga. Sekarang kami buat dengan konsep nan lebih kekinian,” kata Saiful, pemilik tenant Teh Talua Malimpah Mak Datuak.

Kini, teh talua datang dengan beragam pilihan rasa seperti Milo, madu, keju hingga pisang madu. Perubahan tersebut menjadi langkah agar minuman tradisional tetap dapat diterima oleh generasi saat ini tanpa kehilangan karakter aslinya.

Festival Kuliner Serpong 2026 memperlihatkan bahwa makanan tidak hanya berbincang tentang rasa. Di kembali setiap sajian terdapat perjalanan usaha, identitas daerah, serta cerita nan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia