Selat Hormuz Kembali Ramai usai Perundingan AS-Iran di Swiss

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Selat Hormuz Kembali Ramai usai Perundingan AS-Iran di Swiss Selat Hormuz, Iran.(BBC)

AKTIVITAS pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan dalam perundingan nan berjalan di Swiss.

Sejumlah supertanker minyak dan kapal pengangkut gas alam cair (LNG) nan sebelumnya tertahan sekarang kembali melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Berdasarkan info pencarian kapal dari LSEG dan Kpler, dua supertanker minyak mentah sukses melewati Selat Hormuz pada Selasa (23/6), sehari setelah tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Salah satu kapal nan sukses keluar dari selat itu adalah Dubai Energy, sebuah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) nan disewa oleh perusahaan daya Taiwan, CPC.

Kapal tersebut mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah nan berasal dari Abu Dhabi dan Arab Saudi. Setelah meninggalkan Selat Hormuz, Dubai Energy tercatat berlayar menuju Kaohsiung, Taiwan.

Kapal tanker VLCC lainnya, Universal Glory, nan disewa perusahaan penyulingan minyak Korea Selatan GS Caltex, juga sukses melintasi selat tersebut pada hari nan sama. Kapal itu membawa muatan sekitar 2 juta barel minyak mentah asal Arab Saudi.

Sementara itu, dua kapal tanker jenis Suezmax, ialah Sobar dan Sarak, dilaporkan sedang bergerak menuju Selat Hormuz pada Selasa (23/6). Masing-masing kapal mempunyai kapabilitas angkut hingga 1 juta barel minyak.

Kembali Beroperasi

Selain kapal tanker minyak, sejumlah kapal LNG nan mengenai dengan Qatar juga mulai kembali beraksi melalui Selat Hormuz. Sebanyak tujuh kapal tanker LNG tanpa muatan nan dioperasikan oleh QatarEnergy dilaporkan bergerak menuju Teluk untuk melakukan pengisian ulang kargo pada periode 11 hingga 22 Juni.

Perjalanan tersebut menjadi pelayaran pertama nan dilakukan kapal-kapal LNG Qatar sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Laporan dari Vortexa menunjukkan tiga kapal pertama, ialah Al Hamla, Al Areesh, dan Al Khuwair, sempat mematikan sistem pencarian otomatis saat memasuki Selat Hormuz.

Data dari Kpler memperlihatkan bahwa ketiga kapal tersebut terakhir terdeteksi berada di luar selat pada pertengahan Juni sebelum kembali muncul dalam sistem pencarian antara 19 hingga 23 Juni.

Empat kapal lainnya, ialah Wadi Al Sail, Mekaines, Al Sadd, dan Mesaimeer, juga tercatat memasuki Selat Hormuz pada Senin (22/6). Kehadiran tujuh kapal LNG kosong tersebut menandai volume terbesar kapal pengangkut LNG tanpa muatan nan melintasi Selat Hormuz sejak bentrok regional dimulai.

Selain itu, sejumlah kapal LNG lainnya juga dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju Qatar untuk melakukan pengisian kargo. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar menilai pergerakan armada tersebut menjadi sinyal positif bagi industri daya global. "Data pencarian kapal memperkuat angan bahwa QatarEnergy bakal memenuhi agenda peningkatan produksi LNG mereka," kata Dhar dilansir CNN, Selasa (23/6).

Kembalinya lampau lintas kapal tanker minyak dan LNG melalui Selat Hormuz dipandang sebagai parameter krusial membaiknya kondisi keamanan di jalur pelayaran nan menjadi salah satu urat nadi perdagangan daya dunia.

Jalur ini selama berbulan-bulan menjadi perhatian pasar internasional lantaran meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel nan memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan daya global. (Fer/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia