Sekjen Aismoli: Insentif Motor Listrik Nasional Idealnya Berbasis TKDN

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Proses produksi dan perakitan motor listrik merek ALVA di pabrik berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Foto: ALVA Indonesia

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) merespons positif langkah strategis pemerintah nan mulai memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air. Komitmen ini dinilai menjadi momentum krusial bagi percepatan industri otomotif berbasis baterai di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Aismoli, Hanggoro Ananta Khrisna, mengungkapkan bahwa atensi negara terhadap sektor ini kian nyata, terutama dengan munculnya inisiatif Motor Listrik Nasional (Molinas). Langkah ini diharapkan tak sekadar menjadi seremonial, tetapi sanggup mendorong kemandirian industri otomotif nasional secara berkelanjutan.

Kendati demikian, Hanggoro menekankan bahwa aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kudu menjadi syarat absolut dan fondasi utama, baik dalam mendefinisikan kriteria Molinas maupun dalam penyaluran skema insentif ke depan.

Proses produksi dan perakitan motor listrik merek ALVA di pabrik berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Foto: ALVA Indonesia

"Seharusnya iya. TKDN kan lantaran kita bicara, ini pendapat saya ya, lantaran ini motor listrik nasional, pasti semestinya mempunyai TKDN nan sudah dipersyaratkan," ujar Hanggoro kepada kumparan, Selasa (18/8/2026).

Hanggoro menjelaskan, hingga saat ini belum ada patokan teknis nan memerinci besaran persentase TKDN untuk proyek Molinas tersebut. Pemerintah berbareng pemangku kepentingan mengenai tetap menggodok regulasinya.

"Cuma kelak berapa persen-berapa persennya belum diatur juga ya. Belum ada dari pemerintah, khususnya dari Danantara juga seperti apa," kata Hanggoro.

Motor listrik nasional Cakra NX1. Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Menanggapi peluncuran unit Molinas berbasis ALVA N3 berjulukan Cakra NX1, Hanggoro mengonfirmasi bahwa produk tersebut belum dipasarkan secara komersial kepada publik. Menurutnya, aktivitas nan berjalan sebelumnya baru sebatas tahap perkenalan awal.

"Belum, belum. Karena ini kan tetap baru kick-off ya, belum sampai ke produksi massal ya. Belum, belum," ucapnya.

Mengenai sistem pemilihan produsen seperti ALVA hingg Gesits nan terlibat dalam proyek tersebut, Aismoli mengaku belum mendapatkan info mendalam. Pihaknya tetap menunggu kejelasan petunjuk teknis nan sedang disusun oleh Danantara.

"Saya enggak tahu juga itu dasar pemilihannya seperti apa. Belum ada informasi. Jadi ya kelak kita tunggu saja kelak gimana dari teman-teman dari Danantara untuk mengelola ini teknisnya agar sampai ke masyarakat," tutur Hanggoro.

Di sisi lain, Aismoli menyambut hangat inisiatif Molinas ini lantaran dinilai membuktikan keberadaan potensi besar talenta lokal. Indonesia dianggap sudah mempunyai sumber daya manusia nan mumpuni untuk merancang, hingga memproduksi sepeda motor listrik secara berdikari tanpa kudu terus berjuntai pada prinsipal asing.

Presiden Prabowo luncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukung di Bekasi, Kamis (13/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

"Kami sangat menyambut positif sekali. Kita memandang di sini pemerintah sudah mulai serius dan memberikan atensi nan cukup besar untuk pengembangan otomotif di dalam negeri. Dan kita tahu di sini banyak sekali talenta nan bisa membikin sepeda motor listrik sendiri tanpa berjuntai kepada prinsipal," tegas Hanggoro.

Ia turut mencontohkan sejumlah merek lokal nan sudah membuktikan kemampuannya di pasar. Merek-merek seperti Gesits, ALVA, Maka, Savart, Polytron, Volta, hingga Indomobil e-Motor dinilai menjadi bukti nyata bahwa pabrikan dalam negeri siap menghadapi era elektrifikasi.

"Ya saya percaya juga talent-talent kita sangat bisa sekali untuk membuat, apalagi untuk memproduksi massal pun juga sudah sangat bisa dan sangat siap," tambahnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan