
Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama di Moto3 2026. (Foto: Instagram/veda_54)
PENAMPILAN gemilang pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama di seri pembuka Moto3 Thailand 2026 langsung memicu rasa penasaran publik, tidak hanya soal performanya di lintasan, tetapi juga mengenai nilai perjanjian dan pendapatannya. Sebagai pembalap pertama Indonesia nan menembus skuat elite Honda Team Asia, posisi Veda terbilang spesial di tengah ketatnya persaingan finansial di kelas entry level Grand Prix.
Meskipun rincian perjanjian Veda belum diumumkan secara resmi oleh Honda Team Asia maupun Astra Honda Racing Team, gambaran umum penghasilan pembalap Moto2 dan Moto3 sering kali disebut bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan kelas MotoGP. Di kelas Moto3, kebanyakan pembalap apalagi kudu menyetorkan biaya besar namalain menjadi pay rider agar bisa mendapatkan bangku balapan.
1. Antara Gaji Profesional dan Status Pay Rider
Secara umum, pendapatan pembalap di kelas Moto2 dan Moto3 berjuntai pada prestasi, nama besar, dan jenis kontraknya. Berdasarkan info industri, penghasilan di kelas menengah berkisar antara 30 ribu hingga 150 ribu Euro (Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar) per tahun.
Namun, di kelas Moto3, angkanya bisa jauh lebih rendah, apalagi banyak pembalap nan tidak menerima penghasilan sama sekali lantaran statusnya didukung penuh oleh sponsor pribadi alias keluarga.
Veda Ega Pratama melaju di Tes Pramusim Moto3 2026 (Foto: Instagram/@veda_54)
Jika memandang rekam jejak juara bumi MotoGP 2024, Jorge Martin, saat memulai debutnya di Moto3 pada usia 17 tahun, dia menerima penghasilan pokok sebesar 40 ribu Euro (sekitar Rp670 juta). Angka ini tergolong spesial lantaran Martin direkrut berkah talenta spesialnya, sehingga dia tidak perlu bayar tim.
Kondisi serupa kemungkinan besar dialami Veda Ega, mengingat dia adalah anak emas Honda nan dipromosikan melalui jalur prestasi Asia Talent Cup dan Red Bull Rookies Cup, nan biasanya mendapatkan Kontrak Standar Tim.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·