Sederet Kisah Perempuan Hebat Korban Kecelakaan KRL, Guru Pekerja Keras hingga Lulus Cum Laude

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
  • Kapan dan di mana kecelakaan kereta terjadi?
  • Berapa jumlah korban meninggal bumi dan siapa saja mereka?
  • Mengapa semua korban meninggal adalah perempuan?

Baca tulisan ini 5x lebih sigap

Liputan6.com, Jakarta - Kecelakaan KRL dan kereta api Argo Bromo Anggrek terjadi pada Senin malam 27 April 2026 di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.

Kala itu, KRL nan sedang menunggu sinyal untuk berangkat dari Stasiun Bekasi Timur, ditabrak dari belakang oleh kereta api Argo Bromo. Korban pun berjatuhan.

Hingga Rabu 29 April 2026, total 16 korban meninggal bumi akibat kejadian berdarah tersebut. Kesemuanya adalah perempuan. Ya, karena KRL nan ditabrak dari belakang itu terkena hanya ke gerbong unik perempuan.

Vice President (VP) Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengungkapkan, korban meninggal terbaru berjulukan Mia Citra. Korban nan berumur 25 tahun sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi.

"Kami turut bersungkawa dan berbelasungkawa bahwa penumpang atas nama Mia Citra meninggal bumi di RSUD Bekasi," kata Karina, Rabu 29 April 2026.

Korban meninggal lainnya adalah Tuti Aditasari (31), Harum Anjasari (27), Nur Alimantun Citra Lestari (19), Farida Utami (50), Vica Agnia Fratiwi (23), Ida Nuraida (48), Dita Septia Wardany (20), Fatmawati Rahmayani (29), dan Arinjani Novita Sari (25).

Lalu ada Nur Ainia Eka Rahmadhynna (23), Nuryati (41), Nur Caela (39), Engar Retno Krisjayanti (35), Ristuti Kustirahayu, dan Adelia Rifani.

Keluarga hingga teman-teman serta rekan kerja mereka pun berduka. Banyak kisah nan terselip menyimpan memori tersendiri untuk dikenang bagus dari para korban.

Misalnya Nurlaela, pembimbing SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Almarhumah tercatat sebagai PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2019 dan bekerja di SDN Pulogebang 11.

Selain menjadi pembimbing kelas 2, Nurlaela juga memegang tugas tambahan sebagai bendaharawan serta pengelola perpustakaan sekolah. Nurlaela (37), sehari-hari rutin menggunakan moda transportasi KRL untuk berangkat maupun pulang bekerja.

Almarhumah dikenal sebagai pribadi pekerja keras dan pendiam. Tiga bulan lalu, Nurlaela baru menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.

Kemudian ada Nur Ainia Eka Rahmadhyna. Saat jenazah Nur Aina tiba di rumah bukan sekadar membawa duka, tetapi juga memecahkan waduk emosi nan sejak tadi ditahan keluarga.

Begitu pintu ambulans terbuka, tangis pecah tanpa aba-aba. Halaman rumah nan dipenuhi kerabat dan tetangga mendadak larut dalam kesedihan. Di antara kerumunan, sosok sang adik tenaga kerja Kompas TV itu menjadi pusat perhatian. Ia tampak paling terpukul. Tangisnya pecah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka.

Seperti apakah kisah haru dari para wanita dahsyat nan menjadi korban kecelakaan kereta di Bekasi? Simak selengkapnya Tim News Liputan6.com:

Sosok Pekerja Keras Nurlaela, Guru SD nan Baru Saja Selesai Pendidikan Magister

Nurlaela, pembimbing SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur, menjadi salah satu korban meninggal bumi dalam kecelakaan nan melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam 27 April 2026.

Kedisdik DKI Jakarta Nahdiana menjelaskan, almarhumah tercatat sebagai PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2019 dan bekerja di SDN Pulogebang 11. Selain menjadi pembimbing kelas 2, Nurlaela juga memegang tugas tambahan sebagai bendaharawan serta pengelola perpustakaan sekolah.

"Jadi almarhumah ini 2019 menjadi PNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta nan tugasnya di SDN Pulogebang 11. Dedikasi almarhumah menurut kesaksian kepala sekolah, teman-temannya, beliau sangat bertanggung jawab. Jadi kita doakan Insya Allah almarhumah husnul khotimah," kata Nahdiana saat pemakaman almarhumah di Cikarang, Selasa 28 April 2026.

Dirinya juga menyampaikan, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menitipkan duka cita dan keprihatinan mendalam atas kepergian pembimbing nan berkawan disapa Bu Ela itu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memastikan pendampingan bagi family korban.

Selain membantu mengurus manajemen mengenai status almarhumah sebagai pegawai negeri dan guru, Pemprov DKI juga bakal memberi pendampingan psikososial, terutama kepada anak tunggal korban.

"Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur menitipkan semua proses manajemen dan lain-lainnya, bakal kami lakukan pendampingan terhadap anak nan satu, anak tunggalnya. Kami pesankan kepada suami, ibu dan ananda, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal melakukan pendampingan, baik proses manajemen maupun psikososial," ujar Nahdiana.

Nurlaela (37), sehari-hari rutin menggunakan moda transportasi KRL untuk berangkat maupun pulang bekerja. Almarhumah dikenal sebagai pribadi pekerja keras dan pendiam. Tiga bulan lalu, Nurlaela baru menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.

"Dia pekerja nan ulet, enggak banyak bicara, betul-betul kerja orangnya. Dia baru lulus S2 tiga bulan lampau di UNJ," kata om korban Mulyadi.

Nurlaela meninggalkan seorang anak nan sekarang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Almarhumah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tak jauh dari rumah duka.

Saat kejadian, Nurlaela dalam perjalanan kembali ke rumah usai mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur. Itu sebabnya, family di rumah langsung resah bukan main saat mendengar berita ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

Ponsel Nurlaela terus dihubungi. Tetapi, tak kunjung ada jawaban. Beberapa saat kemudian, nomor Nurlela kembali menghubungi. Namun, bukan bunyi Nurlaela nan terdengar.

Melainkan, seseorang nan mengabarkan ponsel ibu satu anak itu ditemukan di sekitar letak kecelakaan. Sementara keberadaan Nurlaela, saat itu belum diketahui.

"Kami sudah cemas lantaran belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berkuasa bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana," kata Mulyadi, om korban saat ditemui di rumah duka.

Keluarga syok bukan main dan segera menuju lokasi. Satu jam pencarian, akhirnya Nurlaela ditemukan. Tetapi sudah tak lagi bernyawa. Akhirnya, jenazah Nurlaela dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB.

"Jam satu kami baru ketemu, terus koordinasi dan jemput. Sampai rumah jam tiga pagi," katanya.

Menurut Mulyadi, kondisi jenazah almarhumah dalam keadaan utuh, meski mengalami patah kaki dan diduga luka dalam.

"Alhamdulillah, kondisi tubuhnya utuh, tidak ada luka nan mengkhawatirkan. Cuma kakinya patah dan mungkin ada luka dalam," kata Mulyadi.

Peti Tertutup Nur Ainia, Sosok Ceria Si Pecinta Kucing

Malam di Griya Asri 2, Tambun, Bekasi, baru saja beranjak gelap ketika bunyi sirene memecah sunyi. Jarum jam menunjukkan pukul 19.33 WIB, saat sebuah ambulans dari RS Polri perlahan berakhir di depan rumah duka.

Di dalamnya, terbujur jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, nan malam itu akhirnya pulang.

Pantauan Liputan6.com, Selasa 28 April 2026, kedatangannya bukan sekadar membawa duka, tetapi juga memecahkan waduk emosi nan sejak tadi ditahan keluarga.

Begitu pintu ambulans terbuka, tangis pecah tanpa aba-aba. Halaman rumah nan dipenuhi kerabat dan tetangga mendadak larut dalam kesedihan. Beberapa orang menunduk dalam diam, sementara nan lain tak lagi bisa menyembunyikan air mata.

Petugas menurunkan peti jenazah tenaga kerja Kompas TV itu dengan hati-hati. Di atasnya, hanya tertulis nama almarhumah, satu-satunya penanda nan bisa dikenali keluarga. Wajah Nur Ainia tak lagi dapat dilihat untuk terakhir kalinya, menyisakan ruang kosong nan tak tergantikan dalam ingatan orang-orang terdekatnya.

Di antara kerumunan, sosok sang adik menjadi pusat perhatian. Ia tampak paling terpukul. Tangisnya pecah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka.

Dengan tangan gemetar, dia mengetuk peti jenazah, seolah berambisi keajaiban mini bisa terjadi, sekadar memandang wajah kakaknya untuk terakhir kali. Namun realita tetap tak berubah. Kepergian itu telah menjadi garis akhir nan tak bisa ditarik kembali.

Ayah, ibu, dan nenek almarhumah berupaya menenangkan. Mereka memeluk erat sang adik nan terus meronta dalam duka. Usaha mereka adalah corak kekuatan nan tersisa di tengah kehilangan nan begitu dalam, meski kesedihan malam itu terasa terlalu besar untuk ditenangkan dengan kata-kata.

Di tengah kesedihan itu, sang ayah, Hary Marwata, mencoba menggambarkan sosok putrinya dengan bunyi nan tertahan. Hary Marwata mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore. Ia sempat mengirim pesan kepada sang putri, meminta dijemput seperti kebiasaan pulang kerja.

"Biasanya memang minta dijemput sekitar separuh sembilan malam. Itu sudah rutin," ucap Hary.

Namun malam itu, Ain-demikian dia berkawan disapa tak kunjung kembali. Bahkan, keluarganya sempat kesulitan melacak keberadaannya lantaran ponsel miliknya tertinggal di letak kecelakaan.

Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama. Ia disebut lebih memilih berada di gerbong unik perempuan.

“Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu,” tuturnya.

Di mata orang tua, Ain adalah sosok anak nan sederhana dan penurut. Sehari-hari, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang kerja dan jarang bepergian.

"Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar," kenang ayahnya.

Beberapa hari sebelum kejadian, Ain apalagi tetap sempat menghabiskan waktu berbareng ibunya untuk berbelanja. Selain itu, Ain turut membantu perekonomian keluarga. Meski sang ayah tetap bekerja, kontribusi Ain dinilai cukup berarti.

"Iya, dia ikut bantu," ucap Hary singkat.

Momen terakhir nan diingat sang ayah terjadi pada Senin pagi, sebelum Ain berangkat kerja. Seperti biasa, dia menyiapkan bekal makanannya sendiri.

"Enggak ada firasat apa-apa. Pamit biasa saja," tutup Hary.

Perlahan, peti jenazah dibawa masuk ke dalam rumah dan ditempatkan di ruang duka. Suara tangis mulai mereda, berganti dengan lantunan angan nan dipanjatkan satu per satu.

Dalam tak bersuara nan sekarang berbeda makna, Nur Ainia 'pulang', bukan lagi sebagai sosok nan menyapa, melainkan sebagai kenangan nan bakal terus hidup di hati keluarganya.

Malam itu, Griya Asri 2 tak hanya menjadi saksi kepulangan seorang anak, kakak, dan cucu. Ia juga menjadi saksi sungguh kehilangan bisa begitu sunyi, namun meninggalkan kemandang nan panjang di hati mereka nan ditinggalkan.

Harum Anjarsari, Niat Berlibur nan Kandas dan Selalu Bilang Aku Ingin Pulang

Seharusnya pekan ini Harum Anjarsari (30) dan suaminya Radit (36) serta anaknya bakal berpiknik bersama. Insiden kecelakaan kereta KRL terhantam KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur pada Senin 27 April 2026, mengubah mimpi bagus family mini ini. Harum Anjarsari meninggal bumi dalam kecelakaan tragis itu.

Malam itu, Radit menunggu di rumah mereka di area Tambun, Bekasi. Ditemani anak bungsunya nan tetap tiga tahun. Layar ponselnya terus menyala, menunggu berita dari sang istri nan malam itu menjadi penumpang KRL Cikarang Line.

Beberapa saat sebelum tragedi itu terjadi, pesan terakhir datang dari dalam gerbong KRL. Dia memberi berita ada KRL nan menabrak sebuah mobil di Bekasi Timur.

"Sayang, ini keretanya nabrak mobil," kata Radit mengulang kembali pesan istrinya, Rabu 29 April 206.

Radit, nan terbiasa naik kereta, tahu situasi seperti itu bisa berlarut. Dia menyarankan istrinya turun dan berbagi lokasi. Radit siap menjemput pulang pujaan hatinya. Tapi sang istri memilih menunggu.

Empat puluh menit berlalu tanpa kabar. Radit berangkat dari Tambun menuju Bekasi Timur, membawa anaknya nan berumur tiga tahun. Di sana, suasana sudah kacau. Orang-orang bergerombol, info simpang siur, tidak ada kepastian. Akhirnya dia memilih pulang sejenak untuk mengantarkan anaknya.

Malam itu belum selesai. Bersama dua temannya, Radit mulai menyisir beberapa rumah sakit. Tak ada nama sang istri. Menjelang separuh lima sore, telepon kembali berdering. Kali ini bukan untuk mencari, melainkan memastikan. Radit tak lagi bertanya banyak. Dia pasrah menerima.

"Kalau memang sudah takdirnya," ujarnya.

Dia mengingat kembali sosok istrinya. Perempuan nan dinikahi pada 2021. Dalam lima tahun pernikahan, ritme hidup mereka diisi perjalanan pulang-pergi kerja, kadang bersama, kadang terpisah jalur.

"Hidupnya baik, makanya saya nikahin," ujar dia.

Harum bekerja sebagai leader di perusahaan skincare, memegang tanggung jawab untuk dua brand. Dia terbiasa beranjak moda transportasi seperti LRT, kereta, alias sesekali satu kendaraan berbareng Radit jika arah kerja mereka sejalan.

Di rumah, dua anak laki-laki menunggu. nan sulung berumur tujuh tahun, tinggal berbareng keluarga.

Tentang kecelakaan itu, Radit tak menampik emosi nan datang. Marah. Kecewa. Semua bercampur dalam satu malam nan panjang.

"Tapi jika kita menyalahkan kejadian ya buat saya nggak dewasa sebagai manusia, lantaran emang apapun sudah digarisin sama Tuhan. Saya nikah sama dia sudah digarisin tanggalnya berapa, punya anak juga tanggal berapa itu pasti sudah ditulis. Dan itu meninggal pun pasti sudah ditulis," tutupnya.

Namun rupanya, seminggu sebelum kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Harum Anjarsari (30) berulang kali mengucapkan perihal nan sama pada ibu tercinta. Ia mau pulang.

Aku mau pulang ke rumah mama," begitu nan diingat Sri Lestari (58), ibu Harum, saat ditemui Liputan6.com.

Tidak sekali. Berkali-kali, seperti ada sesuatu nan belum selesai.

Sri Lestari tak punya firasat apa-apa. Menganggap hanya keluhan biasa dari putri tercinta nan capek bekerja dan mau kembali ke rumah. Sri juga tak merasa ada nan ganjil dengan kalimat berulang itu. Namun dari cerita teman-temannya, kalimat itu terus muncul dengan nada berbeda.

"Aku mau pulang, sudah capek," kata Sri menuturkan kembali ucapan Harum.

Sri tak pernah betul-betul tahu capek seperti apa nan dimaksud anaknya. Ia baru mendengar potongan kalimat itu dari orang lain, setelah semuanya terjadi.

"Iya, sebelum meninggal dia minta pulang," kata Sri.

Kejadian kemarin betul-betul memilukan. Tetapi Sri seolah menemukan makna kata 'pulang' nan sebenarnya. nan kerap kali diulang Harum di akhir hidupnya. Ia berakhir sejenak, lampau melanjutkan.

"Ya itu… akhirnya pulang," ujar Sri.

Bagi Sri Lestari, hubungannya dengan Harum bukan sekadar ibu dan anak. Mereka seperti kawan nan tumbuh bersama, berbagi cerita tanpa sekat.

"Dekat, bestie banget, kayak teman," kata Sri.

Sri apalagi mengenal teman-teman Harum sejak sekolah, kawan nongkrong, hingga rekan kerja. Nama-nama itu tak asing di telinganya.

"Sampai kawan kerjanya pun saya kenal," ujar dia.

Harum mulai bekerja sejak usia 19 tahun, apalagi sebelum ijazahnya selesai diurus. Bagi Sri, anaknya terbiasa melangkah lebih sigap dari waktunya sendiri.

"Motonya dia pengen ngebahagiain orang tua," kata Sri.

Rutinitas mini menjaga hubungan itu tetap hidup. Siang hari, mereka tetap sempat berganti kabar. Saat libur panjang, Harum nyaris selalu pulang. Menginap beberapa hari di rumah dan membawa anaknya nan tetap kecil. Video call juga menjadi penghubung ketika kangen datang tiba-tiba.

Kini, kebiasaan itu berakhir di satu titik. “Sudah enggak bisa lagi nginep di rumah aku," kata Sri.

Jejak Terakhir Nur Alimatun di Stasiun Jatinegara

Kabar duka menyelimuti family besar Universitas Trisakti. Nur Alimatun Citra Lestari (19), mahasiswi program studi Manajemen Asuransi, ditemukan meninggal bumi setelah sempat dinyatakan lenyap kontak usai pulang dari kampus berbareng rekan-rekannya di Stasiun Jatinegara.

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi para sahabatnya, termasuk Riza (21), orang terakhir nan sempat berjumpa dan menghabiskan waktu berbareng almarhumah. Riza menceritakan momen perpisahan mereka nan tidak biasa di Stasiun Jatinegara sebelum kejadian.

"Jadi, bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama. Cuma beda rute aja. Cuman memang pada saat itu, keretanya almarhumah itu beda sama jalur saya," kata Riza kepada wartawan di RS Polri, Jakarta, Selasa malam (28/4/2026).

Riza menjelaskan, biasanya mereka menunggu di peron nan berdekatan. Namun, pada malam kejadian, takdir seolah membawa mereka ke arah nan berbeda di dalam area stasiun nan menjadi titik transit tersebut.

"Jadi, biasanya kita peron 1 sama 2. Ini pisah di peron 2, saya peron 2 dan dia (Nur Alimantun Citra Lestari) di peron 6. Jadi, memang kita pisahnya di bagian atas itu Jatinegara," ujar Riza mengenang momen terakhir itu.

Riza nan mendapatkan agenda kereta lebih awal sempat berupaya memastikan posisi sahabatnya. Namun, lantaran perbedaan jalur peron nan cukup jauh, komunikasi bentuk di antara mereka pun terputus di titik perpisahan tersebut.

"Saya kan dapet kereta duluan. Terus sempat ngecek buat kita sendiri ada di mana. Kebetulan, kita enggak liat lagi," ucapnya.

Kecemasan mulai muncul saat pihak family dan teman-teman tidak mendapatkan berita dari Alimantun hingga pukul 22.00 WIB. Teman korban lainnya, Catherine (19) menyebut, almarhumah adalah sosok nan sangat peduli terhadap teman-temannya.

"Dari kejadian di jam 9, dia memang udah enggak ada kabar, kata teman-teman nan yang sempat Whatsapp-an. Kebetulan saat hari kejadian, saya enggak sempat hubungan," ujar Catherine.

Catherine menceritakan, hari itu sebenarnya mereka baru saja menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) di kampus. Karena sedang masa ujian, mereka menyempatkan diri untuk berkumpul lebih lama sebelum akhirnya pulang.

"Biasanya kita pulang lebih malam ya. Nyesel aja gitu, kenapa sih enggak malam sekalian gitu. Biasanya jam 8 kita baru keluar dari kampus, tapi ini jam separuh 8 udah di Jatinegara," ungkap Catherine.

Upaya pencarian dilakukan sejak malam hari dengan melacak keberadaan ponsel korban. Berdasarkan info lokasi, ponsel almarhumah sempat terdeteksi berada di area Bekasi pada awal hari sebelum akhirnya tidak aktif.

"Pas di-check location hapenya tuh jam 1 ada di stasiun Bekasi Timur, tetap di situ. Dan berupaya di-call juga. Sempet in another call juga. Terus, jam separuh 7 tuh tetap berdering. Terus, selebihnya jam 7 ke atas udah off," jelas Catherine.

Pihak family dan sahabat sempat mendatangi rumah sakit sejak pagi hari untuk mencari kejelasan. Namun, saat itu jenazah korban masuk ke RS Polri dengan status belum teridentifikasi sehingga identitasnya belum bisa dikonfirmasi.

"Sebenernya dari pagi ke RS ini udah nanya atas nama ini. Cuma, belum ada kabarnya, nan ada tuh mayit nan belum teridentifikasi. Jadi, suruh nunggu dulu berita 1x24," ungkapnya.

Vica Agnia Fratiwi, Lulus Kuliah Cum Laude dan Rajin Ibadah

Vica Acnia Fratiwi (23) menjadi salah satu korban jiwa dalam kecelakaan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Kakak Vica, Nina (30), menjelaskan adiknya sempat berencana menjalani studi S2.

"Dia mau kuliah, tetap mau S2. Dia kan soalnya ambis (punya ambisi) banget kan. Anaknya pinter kayak gitu kan," kata Nina ditemui di rumah duka Vica di area Telaga Murni, Kabupaten Bekasi, Rabu 29 April 2026.

Nina bercerita Vica adalah anak nan tekun. Bahkan, Vica lulus kuliah hanya dalam tiga separuh tahun dan lulus dengan predikat cum laude dari Universitas Lampung (Unila).

"Jadi dia betul-betul kayak jika misalnya belajar itu bener-bener kayak gitu banget. Iya pas kemarin lulusnya cum laude termasuk," kata Nina.

"(Lulus) tahun 2024, tiga separuh tahun di Unila," sambungnya.

Nina juga mengenang Vica sebagai orang nan giat beribadah. Vica apalagi sempat melakukan salat Magrib sebelum menaiki KRL saat malam kejadian.

"Orangnya cantik, pinter, nggak neko-neko, giat ngaji dia. Rajin ngaji, giat salat, jadi kayak sebelum dia naik KRL pun itu juga salat Magrib dulu, jadinya kayak 'Ya Allah'," cerita Nina.

Sebelum Vica ditemukan meninggal, family mendatangi gedung DVI di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Salah satu family nan datang adalah Watarisin (70).

Dia mencari keponakannya, Vica Acnia Pratiwi (23). Keluarga kehilangan kontak dengan Vica sesaat setelah berita kecelakaan kereta api tersiar luas. Vica diketahui sedang dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja, menggunakan moda transportasi KRL commuter line.

"Dia (Vica) ini keponakan. Pulang kerja naik kereta," kata sang paman, Watarisin kepada wartawan di RS Polri, Selasa 28 April 2026.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita