Ilustrasi.(Magnific)
PRESIDEN Oxford Union, Arwa Elrayess, sekarang berada di tengah pusaran kontroversi setelah pesan pribadinya di grup WA bocor ke publik. Elrayess, nan merupakan presiden Palestina pertama dalam sejarah lembaga debat bergengsi tersebut, dilaporkan menyebut serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 sebagai tindakan nan proporsional.
Komentar tersebut dilontarkan dalam grup percakapan nan beranggotakan lebih dari 100 mahasiswa politik, filsafat, dan ekonomi di Universitas Oxford. Berdasarkan laporan nan dihimpun, Elrayess menyatakan bahwa golongan nan dicap sebagai teroris oleh Barat sering kali di kemudian hari dipuja sebagai pahlawan setelah mencapai pembebasan mereka.
Mosi tidak Percaya dan Desakan Mundur
Buntut dari pernyataan tersebut, mosi tidak percaya secara resmi diajukan terhadap Elrayess pada Kamis (4/6/2026). Untuk dapat diproses lebih lanjut, mosi ini memerlukan sedikitnya 150 tanda tangan personil Oxford Union paling lambat Sabtu (6/6).
Kritik tajam datang dari beragam pihak, termasuk Oxford Students Against Discrimination Group. Dalam pernyataannya, golongan tersebut menilai komentar Elrayess sebagai kegagalan kemanusiaan nan mendasar. "Arwa Elrayess memilih untuk meminimalkan kekejaman massal dan berdasar bahwa tindakan teroris adalah 'proporsional'," tulis pernyataan tersebut.
Konteks Sejarah Oxford Union:
Didirikan lebih dari 200 tahun lalu, Oxford Union adalah lembaga independen dari Universitas Oxford. Banyak mantan presidennya nan kemudian menjadi tokoh publik besar, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris William Gladstone, Edward Heath, hingga Boris Johnson.
Pembelaan Arwa Elrayess
Menanggapi kecaman nan mengalir, Elrayess memihak diri dengan menyatakan bahwa pemberitaan media atas pesannya adalah corak denigrasi dan vilifikasi terhadap penduduk Palestina. Ia menegaskan bahwa penyebutan kata proporsional bukan berfaedah membenarkan tindakan tersebut secara moral.
"Tingkat keparahan perlawanan sering kali proporsional dengan tingkat keparahan penindasan. Ini bukan untuk membenarkan apa pun, tetapi untuk menunjukkan bahwa sangat naif jika kita membiarkan penindasan sistematis selama puluhan tahun, lampau terkejut ketika aktivitas perlawanan merespons dengan tingkat keparahan nan proporsional," tulis Elrayess dalam pesan tambahannya.
Ia juga membantah keras tuduhan bahwa dirinya memuja organisasi terlarang. Menurutnya, dia menjadi sasaran kampanye hitam sejak masa pencalonannya sebagai presiden lantaran identitas dan nilai-nilai nan dia suarakan.
Sikap Universitas dan Kontroversi Sebelumnya
Pihak Universitas Oxford memberikan pernyataan resmi nan menegaskan bahwa Oxford Union adalah lembaga independen. "Universitas tidak berbagi alias mendukung pandangan nan dikaitkan dengan perseorangan mahasiswa tersebut," ujar ahli bicara universitas sembari menekankan penolakan terhadap segala corak antisemitisme dan diskriminasi.
Ini bukan kali pertama kepemimpinan Elrayess memicu polemik. Sebelumnya, dia diprotes lantaran mengundang Perdana Menteri Sudan Kamil Idris di tengah perang kerabat di negaranya serta mengundang aktivis sayap kanan Tommy Robinson untuk berdebat tentang Islam, acara nan akhirnya ditunda hingga 17 Juni mendatang.
Hingga buletin ini diturunkan, posisi Elrayess sebagai presiden berada di ujung tanduk, menunggu hasil kajian konteks saat ini tanda tangan mosi tidak percaya nan bakal menentukan masa depan kepemimpinannya di salah satu klub debat paling berpengaruh di bumi tersebut. (BBC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·