Jauh sebelum internet ada, otak manusia berkembang dengan satu prinsip utama ialah memperkuat hidup. Informasi nan datang berulang kali, apalagi nan memicu rasa takut alias ancaman, secara otomatis dianggap krusial dan benar. Seekor manusia purba nan mendengar peringatan ancaman dari personil sukunya acapkali bakal condong mempercayainya lantaran mengabaikannya bisa berakibat fatal. Dulu sistem ini menyelamatkan nyawa. Hari ini, sistem nan sama membikin kita mudah percaya hoaks apalagi sebelum hoaks itu sempat viral.
Media sosial telah mengubah langkah masyarakat memperoleh dan menyebarkan info secara fundamental. Jika dulu seseorang butuh waktu berhari-hari untuk mendengar sebuah berita, sekarang sebuah klaim bisa menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Di tengah derasnya arus konten digital ini, info datang begitu sigap hingga sering kali tidak ada cukup waktu untuk memeriksa kebenarannya. nan terpenting bukan lagi apakah info itu akurat, melainkan apakah info itu menarik perhatian. Semakin mengejutkan, semakin emosional, dan semakin memancing perdebatan, semakin besar peluangnya untuk menjadi viral.
Ironisnya, viral sering kali dianggap sebagai bukti kebenaran. Padahal keduanya adalah perihal nan sama sekali berbeda.
Sebuah klaim nan muncul berulang kali di beranda, dibagikan ratusan akun, dan dikomentari ribuan orang bakal terasa benar, bukan lantaran ada buktinya, tapi lantaran terasa akrab. Otak manusia secara otomatis mengasosiasikan keakraban dengan kebenaran. Ini bukan kelemahan nan hanya dimiliki sebagian orang. Ini adalah langkah kerja otak semua manusia, tanpa terkecuali, terlepas dari tingkat pendidikan alias kepintaran seseorang.
Kondisi inilah nan membikin penyebaran hoaks menjadi semakin mudah dan semakin susah dihentikan. Informasi nan belum tentu betul dapat berulang kali muncul di beranda media sosial, dibagikan oleh banyak akun, dan akhirnya dianggap sebagai kebenaran nan sudah lama diketahui. Semakin sering memandang sebuah klaim, semakin besar kemungkinan mempercayainya bukan lantaran klaim tersebut terbukti benar, tetapi semata-mata lantaran terasa berkawan di mata dan pikiran.
Di kembali semua itu, ada sistem nan bekerja diam-diam menentukan apa nan muncul di layar. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membedakan mana nan betul dan mana nan salah, mana nan berfaedah dan mana nan berbahaya. Satu-satunya nan menjadi prioritas adalah hubungan berapa banyak orang nan mengklik, mengomentari, membagikan, dan menghabiskan waktu dengan sebuah konten.
Konten nan membikin orang marah, takut, terhibur, alias penasaran terbukti secara konsisten mendapat jangkauan lebih luas dibandingkan info nan tenang dan faktual. Sebuah studi dari MIT pada 2018 menemukan bahwa buletin tiruan menyebar enam kali lebih sigap di Twitter dibandingkan buletin benar, dan jangkauannya bisa tujuh puluh persen lebih luas. Bukan lantaran ada nan sengaja mempromosikannya, tapi lantaran konten nan memicu emosi negatif memang lebih banyak diklik dan dibagikan. Akibatnya, ruang digital sering kali jauh lebih ramai oleh sensasi daripada substansi.
Hasilnya adalah kombinasi nan berbahaya, otak nan secara alami rentan terhadap pengulangan, berjumpa dengan algoritma nan secara sistematis memperkuat konten paling emosional. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari kreasi sistem nan mengutamakan untung di atas kualitas informasi. Dan selama model upaya platform digital tetap berjuntai pada waktu nan dihabiskan pengguna di dalam aplikasi, tidak ada insentif nyata bagi mereka untuk mengubahnya.
Masalahnya, akibat dari info tiruan tidak berakhir di layar ponsel. Hoaks dapat memengaruhi langkah masyarakat berpikir, mengambil keputusan, apalagi memperlakukan orang lain. Sejarah mencatat gimana hoaks tentang kesehatan membikin sebagian masyarakat menolak vaksin di tengah pandemi. Hoaks tentang golongan tertentu memicu kekerasan dan diskriminasi. Hoaks politik memperkeruh polarisasi hingga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi. Tidak sedikit perdebatan, bentrok sosial, hingga tragedi nan berasal dari info nan tidak pernah betul-betul diperiksa.
Dalam situasi seperti ini, literasi digital sering disebut sebagai solusi utama. Dan memang betul literasi digital adalah kebutuhan mendasar, bukan lagi sekadar pelengkap. Literasi digital bukan hanya keahlian menggunakan teknologi alias mengoperasikan aplikasi. nan jauh lebih krusial adalah keahlian berpikir kritis ketika menerima info bisa bertanya dari mana sumbernya, siapa nan menyebarkannya, apa kepentingan di baliknya, dan apakah ada bukti independen nan mendukungnya.
Tapi ada satu perihal nan sering terlewat dari obrolan tentang literasi digital adalah dia mengajarkan apa nan kudu dilakukan, sementara ilmu jiwa kognitif menjelaskan kenapa itu sangat susah dilakukan. Mengetahui bahwa hoaks itu rawan tidak secara otomatis membikin seseorang kebal terhadapnya. Sama seperti mengetahui bahwa makanan sigap saji itu tidak sehat tidak serta-merta membikin seseorang berakhir mengonsumsinya. Ada jarak nan sangat besar antara pengetahuan dan perilaku, jarak itulah nan sering diabaikan.
Sayangnya, keahlian berpikir kritis terhadap info belum berkembang secepat perkembangan teknologi itu sendiri. Kita begitu sigap belajar langkah menggunakan media sosial, tetapi sering terlambat belajar langkah menggunakannya secara bijak. Sementara itu, platform terus memperbarui algoritmanya, format konten terus berevolusi, dan strategi penyebaran hoaks terus beradaptasi. Perlombaan ini tidak seimbang dan masyarakat sering kali berada di posisi nan tertinggal.
Tentu saja, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Platform digital perlu lebih serius dan lebih berani mengendalikan penyebaran info nan menyesatkan, bukan hanya ketika sudah viral dan menimbulkan korban. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu memperkuat pendidikan literasi media sejak usia dini, bukan sebagai mata pelajaran tambahan, melainkan sebagai keahlian inti nan sama pentingnya dengan membaca dan berhitung. Namun pada akhirnya, setiap pengguna tetap mempunyai peran nan tidak bisa digantikan oleh kebijakan manapun.
Peran itu mungkin terdengar sederhana: berakhir sejenak sebelum menekan tombol "bagikan".
Di tengah budaya serba sigap dan serba reaktif, keahlian untuk berakhir sejenak dan memeriksa kebenaran sebelum bereaksi justru menjadi salah satu keahlian paling berharga. Tidak semua perihal kudu segera dikomentari. Tidak semua info kudu langsung dipercaya. Dan tidak semua nan viral layak untuk diteruskan.
Sebab pada akhirnya, kualitas ruang digital nan kita tempati hari ini ditentukan oleh pilihan-pilihan mini nan dibuat setiap hari oleh setiap penggunanya. Ketika memilih kebenaran daripada sensasi, verifikasi daripada asumsi, dan kebenaran daripada popularitas, kita sedang membantu menciptakan ruang info nan lebih sehat bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua orang nan berbagi ruang digital nan sama.
Karena viral mungkin hanya memperkuat beberapa hari. Tetapi akibat dari info nan salah bisa memperkuat jauh lebih lama dan bekasnya tidak selalu mudah untuk dihapus.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·