Scroll Tanpa Henti: Mengapa Kita Sulit Lepas dari Media Sosial?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi Social Media. Sumber: Pexels

Pernah beriktikad membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tanpa sadar satu jam sudah berlalu? Pengalaman seperti ini bukan hanya terjadi pada satu alias dua orang. Bagi banyak orang, media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari nan susah dipisahkan.

Fenomena scroll tanpa henti alias doomscrolling bukan sekadar persoalan kurangnya disiplin. Platform media sosial memang dirancang agar pengguna memperkuat selama mungkin. Algoritma bakal terus menampilkan konten nan sesuai dengan minat kita, sehingga selalu ada video, foto, alias unggahan berikutnya nan terasa menarik untuk dilihat.

Selain algoritma, ada aspek psikologis nan membikin kita susah berhenti. Setiap kali menemukan konten nan menghibur alias mendapatkan notifikasi baru, otak menerima rasa senang nan mendorong kita untuk terus membuka aplikasi. Akibatnya, kebiasaan ini perlahan menjadi rutinitas nan dilakukan tanpa sadar.

Di sisi lain, muncul pula kejadian Fear of Missing Out (FOMO), ialah rasa takut tertinggal info alias tren terbaru. Banyak orang merasa perlu terus memeriksa media sosial agar tidak ketinggalan berita, meme, alias aktivitas teman-temannya. Padahal, tidak semua info kudu diketahui saat itu juga.

Jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini dapat berakibat pada produktivitas. Waktu nan semestinya digunakan untuk belajar, bekerja, alias beristirahat justru lenyap untuk menggulir layar. Tidak sedikit orang nan akhirnya susah berkonsentrasi lantaran pikirannya terbiasa beranjak dari satu konten ke konten lainnya dalam hitungan detik.

Kesehatan mental juga bisa ikut terpengaruh. Paparan info nan berlebihan, komparasi dengan kehidupan orang lain, hingga buletin negatif nan terus bermunculan dapat memicu stres, kecemasan, apalagi rasa tidak percaya diri. Media sosial memang bisa menghubungkan banyak orang, tetapi pengguna tetap perlu menggunakannya secara bijak.

Bukan berfaedah kita kudu berakhir menggunakan media sosial sepenuhnya. nan dibutuhkan adalah keseimbangan. Membatasi waktu penggunaan, mematikan notifikasi nan tidak penting, alias memberi jarak tanpa gawai beberapa jam setiap hari dapat membantu mengurangi kebiasaan scroll berlebihan.

Pada akhirnya, teknologi semestinya menjadi perangkat nan memudahkan hidup, bukan mengendalikan waktu dan perhatian kita. Sesekali menutup aplikasi, menikmati percakapan langsung, membaca buku, alias melangkah santuy tanpa memandang layar bisa menjadi langkah sederhana untuk kembali menikmati kehidupan di bumi nyata.

Karena pada akhirnya, waktu nan terus kita habiskan untuk menggulir layar adalah waktu nan tidak bisa kita putar kembali.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan