Cerita Rombongan Keluarga Papua Tengah Dukung Anak di MilkLife Archery Challenge

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Shabarlin Julietha My Kotouki asal Nabire, Papua Tengah, bertanding di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, pada Senin (27/7). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Rombongan family dari tim panahan Papua Tengah datang langsung menyaksikan MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Senin (27/7).

Kehadiran family menjadi suntikan tenaga tambahan bagi atlet nan berkompetensi di lapangan. Persoalan biaya, family kudu merogoh kocek dalam-dalam hingga puluhan juta rupiah.

Mereka nan datang dari Nabire, Papua Tengah, itu merupakan rombongan family dari atlet berjulukan Shabarlin Julietha My Kotouki nan berkompetensi di Nasional U10 Putri dan Ginez Geez Roynerd My Kotouki nan bertanding di bagian Nasional U13 Putra. Keduanya merupakan kakak beradik.

"Rasanya senang bisa ditonton family di Kejurnas ini. Pastinya menambah semangat ketika bertanding di lapangan," kata Julietha kepada kumparan, Senin (27/7).

Shabarlin Julietha My Kotouki asal Nabire, Papua Tengah, bertanding di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, pada Senin (27/7). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Julietha belum ada sebulan memegang busur panah. Namun, dia mengaku sudah jatuh cinta dengan olahraga ini.

"Aku suka panahan lantaran melatih fokus. Semoga saya bisa berprestasi di olahraga panahan," ucapnya.

Rombongan family dari Julietha dan Ginez berangkat dari Nabire tanggal 10 Juli 2026. Mereka menempuh perjalanan laut menggunakan kapal selama lima hari. Rombongan tiba di Jakarta pada 15 Juli 2026.

Lalu, pada 20 Juli 2026 pagi hari menempuh jalur darat menggunakan travel. Rombongan tiba di Kudus pada 20 Juli 2026 malam.

Shabarlin Julietha My Kotouki asal Nabire, Papua Tengah, bertanding di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, pada Senin (27/7). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

"Biaya nan dihabiskan bisa puluhan juta. Tetapi tidak apa-apa lantaran kami kerja demi anak," kata ibu dari Julietha dan Ginez, Yanti Pigai kepada kumparan, Senin (27/7).

Doanya sebagai seorang ibu tentu mau agar kedua anaknya itu dapat berprestasi di olahraga panahan. Ia juga setuju andaikan keduanya kelak menekuni jalan hidup sebagai seorang atlet panahan.

"Keduanya memang mau menjadi atlet panahan. Sepekan mereka bisa berlatih empat kali. Mereka bisa membagi waktu antara tugas sekolah dan latihan," terangnya.

Melianus Kotouki, ayah dari Julietha dan Ginez mengutarakan perihal sama. Rombongan nan datang semata-mata memang untuk mendukung Julietha dan Ginez. Melianus mengungkapkan support materi juga sering diberikan.

Shabarlin Julietha My Kotouki asal Nabire, Papua Tengah, bertanding di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, pada Senin (27/7). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

"Ketika mereka memerlukan peralatan panahan, kami juga support. Saya berambisi keduanya menjadi atlet panahan apalagi bisa berprestasi di tingkat nasional," ujarnya.

Ia memandang progres positif dari kedua anaknya usai menekuni olahraga panahan. Salah satunya mereka lebih konsentrasi dan konsentrasi.

"Tidak hanya konsentrasi dan konsentrasi saat bertanding panahan. Mereka jadi lebih konsentrasi ketika belajar," ujarnya.

Bisa sampai di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah menjadi kebanggaan baginya. Ia menilai akomodasi nan disediakan oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation ini begitu representatif.

"Sarpras di sini bagus dan saya berambisi event seperti ini terus ada," imbuhnya.

Manajer Tim Papua Tengah, Sugiyono, mengatakan bahwa Julietha memang baru mengenal olahraga panahan. Keikutsertaan di MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini untuk menambah jam terbang.

Sugiyono menilai, support family secara langsung dapat memberikan faedah bagi atlet nan berlaga. Motivasi atlet bertambah seiring support family dari belakang.

"Memang langsung terjun di Kejurnas lantaran dukung orang tua. Hasilnya belum terlihat, namun kami memandang Julietha ini mempunyai ketenangan," ujarnya.

Menurutnya, laga perdana Julietha hari ini, Senin (27/7), tak begitu buruk. Ia beranggapan ketenangan dan konsentrasi dari anak didiknya itu menjadi modal utama di olahraga panahan.

"Kami juga mengapresiasi adanya arena MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini. Ajang ini krusial untuk melahirkan atlet usia dini," terangnya.

"Sarpras SSA ini keren dan menurut kami, sarpras ini merupakan nan terbaik untuk venue panahan nan pernah kami lihat," imbuhnya.

Reporter: Vega M. Ula

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan