Jakarta -
Kebijakan mengolah sampah menjadi daya nan bisa dimanfaatkan masyarakat terus berjalan. Salah satunya adalah mengolah sampah menjadi solar dan bensin
"Sampah plastik khususnya bisa menghasilkan BBM terbarukan. Jadi istilah kami adalah bahan bakar minyak terbarukan nan bisa diolah dengan sistem pirolisis dari plastik tersebut untuk menjadi solar maupun bensin," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam rapat dengan Komisi XII DPR, Selasa (8/9/2026).
Saat ini Kementerian ESDM mengidentifikasi kualitas BBM nan dihasilkan dari proses tersebut. Pasalnya, setiap letak dari pengolahan sampah tersebut menghasilkan kualitas nan berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah juga tengah menyiapkan sistem perizinan untuk pengembangan upaya tersebut.
"Jadi cukup izin, kelak kita verifikasi, lampau kita berikan izin dan bisa B2B. Jadi bisa menjual bahan bakar minyak terbarukan ini secara komersial," terang Eniya.
"Lalu tentang produk sampah lainnya, biogas, ini bahan bahan bakar juga, nan saat ini mungkin trending ya, biogas menjadi biometana. Karena pengurangan emisi nan sangat signifikan, mendapatkan nilai karbon nan lebih banyak, biometana ini mulai mau dikomersialisasikan. Izinnya sudah ada dari Kementerian ESDM sejak 2024 akhir, cukup hanya izin produksi saja, kelak bisa B2B," sambung Eniya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa TNI bakal terlibat dalam pengolahan sampah menjadi BBM.
"Kita juga terima kasih kepada Bapak Maruli TNI Angkatan Darat nan bakal membantu kita untuk mengubah (sampah) nan sudah lama. Sampah ini kan hanya baru datang. Kota Bekasi ini ada nan baru datang sampahnya 1.800 ton. Tapi nan menjadi gunung itu banyak. Nah, nan jadi gunung itu bakal dikelola TNI kelak kerja sama bakal pirolisis, jadi minyak," ujar Zulhas di Bekasi, Rabu (26/8/2026).
Di tempat nan sama, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan bahwa pihaknya berbareng mitra pilihannya bakal konsentrasi mengolah sampah lama nan sudah menggunung. Sementara saat ini pemerintah mengelola PSEL.
"Yang kami bakal olah adalah timbunan-timbunan sampah lama. nan inilah nan mungkin sampai dengan sekarang tetap belum ada nan bisa memilah ini. Kebetulan ada nan bisa dari mitra kami, dari Pak Agus, Pak Agus itu dari pengelola, salah satu dirut di developer ini nan bisa mengerjakan ini. Jadi kelak dari sampah lama ini bisa 1.000 ton per hari diproses," katanya.
Maruli menyampaikan dalam proyek ini pihaknya memerlukan lahan mencapai 5 hektare untuk akomodasi utama ditambah area pre treatment sekitar separuh hektare di tiap tempatnya. Dari lahan tersebut, dia memperkirakan dapat mengolah sampah lama 1.000 ton per hari.
"Kalau itu bisa ada lahannya, gimana teknis penggunaannya, ini nan mungkin kelak saya bakal ulas sedikit, kami bisa segera kerjakan. Jadi itu intinya," katanya.
Maruli menambahkan, proyek ini bakal berjalan di Bantar Gebang, Sumur Baru (Bekasi), Galuga Bogor, Sari Mukti Bandung, dan Jatibarang, Semarang.
Ia mengatakan dalam proses ini, pihaknya tetap menemui beragam kendala, mulai dari belum tersedianya lahan, proses perizinan, hingga penjualan hasil olahan sampah nan nantinya menjadi solar.
"Jadi intinya jika ini sudah bisa diselesaikan masalah perizinan, mungkin satu tahun pabrik-pabrik ini bisa jalan Pak. Jadi ini sudah kami kerjakan dari sejak April perintah dari Presiden itu, sampai dengan sekarang masalah tempat kami belum bisa dapatkan. Kalau ini sudah bisa selesai, kita go paling lama satu tahun, pabrik sudah siap untuk bisa mengolah sampah seribu ton per hari di setiap titik," terangnya.
(hns/hns)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·