, JAKARTA, – Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menawarkan pekerjaan baru dengan bayaran sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP) kepada Tegar, korban dugaan penyekapan di sebuah perusahaan percetakan di Jakarta Pusat. Tawaran ini disampaikan langsung saat dia menjenguk korban di kediamannya di area Kebon Jeruk, Jakarta, pada Rabu.
Said Iqbal mengaku prihatin setelah mengetahui korban selama bekerja hanya menerima bayaran sebesar Rp500 ribu per bulan. Ia menilai nominal tersebut sangat tidak layak. "Kerja digaji hanya Rp500 ribu itu kelewatan. Insyaallah Tuhan kasih kerjaan nan lebih bagus," kata Said Iqbal.
Ia memastikan bahwa Tegar dapat bekerja di kantornya setelah seluruh proses norma nan sedang melangkah selesai. Menurut dia, korban nantinya bakal menerima bayaran sesuai standar UMP, ialah sekitar Rp5,8 juta per bulan. "Nanti ikut saya saja bekerja di instansi saya. Saya penghasilan sesuai bayaran minimum," ujarnya.
Arahan Presiden Prabowo
Said Iqbal menambahkan bahwa kunjungannya tersebut merupakan pengarahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebagai corak kehadiran negara untuk melindungi masyarakat nan menjadi korban kekerasan. "Salam dari Pak Presiden Prabowo nan peduli. Saya datang ke sini lantaran diminta," katanya.
Sementara itu, Tegar mengaku tetap mengalami trauma mendalam akibat dugaan penyekapan dan kekerasan nan dialaminya. Ia menceritakan bahwa peristiwa itu bermulai ketika dirinya dituduh mengambil limbah pelat cetak sebanyak 10 kali.
"Awalnya saya dituduh mencuri limbah pelat cetak. Setelah itu saya mengalami kekerasan berbareng teman-teman saya, lampau dibawa ke rumah dan dipermalukan di depan warga," katanya.
Ancaman dan Tuntutan Ganti Rugi
Dalam perkara tersebut, terdapat tiga korban, ialah Tegar Saputra, Adit Saputra, dan Rafly Jaelani. Tegar mengungkapkan bahwa pihak perusahaan meminta masing-masing korban bayar tukar rugi sebesar Rp50 juta. Padahal, nilai limbah pelat cetak nan diambil diperkirakan hanya sekitar Rp200 ribu.
Tegar tak menampik bahwa dirinya memang mengambil limbah plat tersebut lantaran sedang memerlukan duit untuk kebutuhan keluarganya nan sedang sakit. "Saat itu saya memang sedang memerlukan duit untuk keperluan family nan sedang sakit," ucapnya.
Lebih lanjut, Tegar mengaku mendapat ancaman kekerasan andaikan tidak memenuhi tuntutan pembayaran tersebut. "Adik pemilik perusahaan, Albert, menakut-nakuti jika saya tidak bayar Rp50 juta, tangan saya bakal dipatahkan. Teman-teman saya juga mendapat ancaman nan sama," ujarnya.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·