Said Abdullah soal Rapat Banggar: PNBP jadi Sorotan, Harga Minyak Dunia Turun Redakan Tekanan Fiskal

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menyoroti dua rumor utama dalam pembahasan terkini di Banggar DPR, ialah optimasi penerimaan negara dan perkembangan nilai minyak bumi nan dinilai memberi ruang lebih lenggang bagi fiskal pemerintah.

Dalam pembahasan penerimaan negara, Said menegaskan bahwa Banggar mencermati secara menyeluruh seluruh komponen, mulai dari perpajakan, cukai, hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun pada rapat kali ini, perhatian lebih besar diarahkan pada PNBP, meski upaya penguatan penerimaan perpajakan tetap didorong.

“Karena penerimaan ini kita sisir, kita lihat seperti apa penerimaan perpajakan, penerimaan cukai, dan PNBP. Tentu kali ini tekanannya kepada PNBP, walaupun tetap kita minta effort kepada pemerintah terhadap penerimaan perpajakan,” ujarnya.

Selain itu, Said juga menekankan pentingnya penggunaan angka-angka nan lebih nyata dalam pembahasan dugaan dan parameter ekonomi, agar keputusan nan dihasilkan tidak berakhir pada level kesepakatan politik semata.

Menurut dia, pendekatan nan lebih terukur perlu dikedepankan agar perdebatan tidak terus berulang setiap tahun. Dengan begitu, dugaan nan dibangun dalam rapat anggaran bisa lebih relevan dengan dinamika ekonomi nan terjadi di lapangan.

Said mengingatkan bahwa tanpa perhatian serius terhadap stabilitas, dugaan nan dipatok dalam pembahasan anggaran bisa kembali meleset pada tahun-tahun berikutnya.

“Tahun depan bakal terjadi nan lain. Kita patok Rp16.800 sampai Rp17.500, tahu-tahu realisasinya, mudah-mudahan tidak sampai Rp18.000,” katanya.

Ia pun berambisi penguatan nilai tukar nan terjadi dalam beberapa hari terakhir dapat terus dijaga menjadi perhatian bersama.

“Kita semua berkepentingan agar apresiasi nan terjadi dalam beberapa hari ini terus-menerus menjadi concern kita bersama, dan syukur-syukur setidaknya sampai di Rp17.500,” harapnya.

Di sisi lain, Said juga menyoroti perkembangan nilai minyak bumi nan belakangan mengalami penurunan. Menurut dia, kondisi ini patut disyukuri lantaran secara langsung membantu mengurangi tekanan terhadap fiskal negara.

“Yang pertama, turunnya nilai minyak itu kita syukuri bersama, lantaran sekarang tekanan fiskal kita mulai berkurang. Kalau sampai naik terus-menerus, fiskal kita bakal mati, lantaran kita tidak mempunyai kemewahan terhadap fiskal kita,” ujarnya.

Meski demikian, dia berpandangan penyesuaian kebijakan mengenai nilai minyak tidak sebaiknya dilakukan secara tergesa-gesa. Pemerintah dan DPR, kata dia, biasanya memakai rata-rata pergerakan selama tiga bulan sebagai dasar kalkulasi agar keputusan nan diambil tidak mudah berubah.

“Terhadap penyesuaian harga, menurut irit saya mungkin bulan depan baru bakal bisa diputus. Karena biasanya pemerintah dan DPR menghitung rata-rata per tiga bulan,” jelasnya.

Menurut Said, langkah hati-hati tersebut krusial agar kebijakan tidak terlalu naik turun dan justru merepotkan dalam implementasinya.

“Kalau hari ini nilai minyak turun, kita turunkan, besok naik lagi, naik lagi juga, itu bakal sangat merepotkan sekali,” tambahnya.

Selain rumor nilai minyak, Said juga menyampaikan perkembangan dugaan pada sektor lifting migas nan turut dibahas dalam rapat Banggar. Dengan beragam perkembangan itu, pembahasan Banggar kali ini menunjukkan upaya DPR dan pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara dugaan ekonomi, sasaran penerimaan, dan ruang fiskal negara di tengah dinamika dunia nan terus bergerak.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑